Tifa

Menengok Eksistensi Kartunis Yogyakarta

Ahad, 19 February 2017 16:00 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

MI/FURQON ULYA HIMAWAN

Mereka tak mati, mereka hidup di generasi berkarya dan menyentil. Hanya saja, mereka butuh ruang eksistensi dan regenerasi.

SEORANG ibu menggendong lebih dari satu anak yang berbagai corak rupa, pakaian, dan kebiasaan. Namun, mereka tetap rukun dalam gendongan sang ibu. Sambil meringis, sang ibu itu terus berjalan sambil membawa tongkat berbendera Merah Putih yang mulai lusuh. Ini ialah perumpamaan Ibu Pertiwi, tempat berjuta masyarakat Indonesia hidup, berbeda tapi tetap satu dan rukun, Bhinneka Tunggal Ika.

Perumpamaan itu tergambar oleh Grace Tjondronimpuno, seorang karikatur yang tergabung dalam Paguyuban Kartunis Yogyakarta (Pakyo). Karya Grace itu diberi judul Ibu Pertiwi, dipajang di galeri Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), dalam pameran Kartunistimewa yang diselenggarakan Pakyo.

Pameran Kartunistimewa ini merupakan pameran yang ke sekian kalinya diselenggarakan Pakyo. Hampir 80% anggota Pakyo ikut dalam pameran ini, mereka mulai dari generasi pertama sampai sekarang. Pakyo merupakan sebuah paguyuban yang terbentuk pada 1979, dan merupakan paguyuban kartunis pertama di Indonesia.

Itulah mengapa pameran kali ini begitu istimewa sehingga tajuknya pun Kartunismewa. "Karena beberapa kali pameran tidak semua bisa ikut, dan sekarang hampir 80% anggota bisa ikut semua," ujar Agus Jumianto, ketua penyelenggara pameran.

Ada 44 kartunis Pakyo yang memamerkan karyanya, mereka menyuguhkan 75 karya yang memenuhi ruang pamer BBY sejak 11 Februari kemarin dan berakhir 19 Februari nanti. Seperti biasa, mereka selalu menyentil siapa saja dengan kelucuannya.
Sentilannya itu bisa dilihat dari karya Grace, meski dia membubuhkan tulisan 'Save NKRI' dalam karyanya berjudul Ibu Pertiwi, tetapi tetap saja karya itu tidak terlalu serius dan mengundang tawa ketika melihatnya.

Ya, bagi sebagian orang, kartunis merupakan sebuah profesi yang membanggakan karena mampu mengkritisi lewat karya yang lucu, menyentil tapi kadang tidak terlihat dan malah yang terlihat adalah kelucuan gambarnya. "Kita sentil lewat karya kartun," kata Agus.

Begitu juga dalam pameran ini, seluruh peserta berupaya menyentil persoalan yang sedang terjadi, tak hanya di Yogyakarta, tapi juga di persoalan yang sedang merundung Indonesia pun ikut disentil, seperti persolan kabar hoax yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial, pilkada, dan persoalan korupsi yang memang selalu menjadi persoalan negara kita.

Karya Herpri Kartun, misalnya, ia membuat karya kartun berukuran 200 cm x120 cm, berjudul Ular Tangga Berhati Binangun. Dalam karya ini, Herpri melukiskan kejadian-kejadian di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo yang sedang menyenggarakan pilkada.
Dalam karyanya itu, Herpri melukiskan semuanya dalam 28 kotak ular tangga, mulai dari persoalan pembangunan hotel di Kota Yogyakarta yang meminggirkan masyarakatnya, dan tentang pembangunan bandara internasional di Kulonprogo yang mendapat pertentangan warga. Namun, itu semua terkemas dalam kelucuan sehingga yang melihat akan menikmati karya Herpri.

Selain pilkada di daerah, pilkada DKI yang menyita banyak mata di penjuru negeri juga disorot oleh kartunis Gatot Eko Cahyono. Ia menggambarkan seseorang sedang membaca berita tentang pilkada DKI, lalu kepalanya pas dan mengeluarkan asap. Kemudian, terlihat seorang sedang menggoreng telur di atas kepala orang yang kepala panas tadi. Ya, menyentil tapi lucu sehingga orang yang melihatnya akan mengeluarkan senyuman. Seperti para pengunjung yang sedang menikmati karya Gatot di BBY.

Meneguhkan Eksistensi

Setiap tahun sebenarnya Pakyo selalu menyelenggarakan pameran, tapi tak sebesar seperti pameran Kartunismewa. Tak ayal, banyak yang beranggapan eksistensi Pakyo mulai redup atau mati suri. "Dan momen ini kita ingin mengajak kartunis di Jogja kembali bangkit, menunjukkan eksistensi Pakyo," ujar Agus.

Ya, dinamika kartunis di Indonesia bertalian dengan dinamika media cetak di Tanah Air. Selama ini media cetak tempat kartunis berkarya, sekarang seiring media cetak yang bertumbangan, kartunis pun mulai kehilangan lahan berkarya.

Pameran menjadi salah satu cara menjaga eksistensi kartun tetap lestari. "Para kartunis pun harus bisa berinovasi bersaing dengan kartunii dunia," imbuh Agus.

Inovasi para kartunis pun terlihat dalam pameran kartunisme, seperti dalam karya I Made Arya Dwita Dedok, berjudul Say no to Corruption. Karya ini tidak terpaku pada media kertas yang selama ini menjadi ciri khas karya kartun. Namun, Made Arya membuat karya kartun menggunakan akrilik di atas kanvas berukuran 145 cm x 200 cm.

Melalui karya itu, Made Arya melukiskan empat tokoh perfilman: Kera Sakti, Baja Hitam, Batman, Superman, dan satu orang berpakaian ala adat Bali berangkulan menginjak tikus. Sebuah ajakan untuk bekerja sama memerangi korupsi. Karya ini pun masih tetap lucu dan mengundang senyum jika melihatnya dengan serius.
Barangkali memang benar, kartunis harus bersatu dan menunjukkan eksistensinya kembali, bahwa mereka masih ada. Menyentil siapa saja dengan gaya satir dan lucu sehingga masyarakat terhibur dan yang disentil bisa ikut tersenyum. (Furqon Ulya Himawan/M-2)

Komentar