Jeda

Rekonsiliasi dari Puncak hingga Rakyat

Ahad, 19 February 2017 11:35 WIB Penulis: Depi Gunawan

Keteladanan bersatu dan menghilangkan ego persaingan pilkada harus dimulai dari para pasangan calon pemimpin daerah.

MESKI tidak sepanas di DKI Jakarta, persaingan pilkada Cimahi juga diwarnai beragam isu negatif. Bahkan sepekan sebelum pilkada serentak yang jatuh 15 Februari, berhembus isu adanya keterkaitan salah satu pasangan calon dengan paham terlarang.

Berbagai isu di luar esensi persaingan program itu ikut membuat warga resah. Ketegangan di antara pendukung tiga paslon, Atty Suharti-Achmad Zulkarnain; Asep Hadad Didjaya-Irma Indriyani; dan Ajay M Priatna-Ngatiana, makin meningkat.

Kini setelah pemungutan suara berlangsung, berbagai tokoh masyarakat serta pejabat kepolisian menyerukan rekonsiliasi di 'Kota Tentara' itu.

Kapolres Cimahi AKB Ade Ary Syam Indradi bahkan merencanakan pertemuan dengan seluruh paslon sebagai awal rekonsiliasi tersebut.

"Kami sangat mendukung rekonsiliasi politik setelah pilkada, kami akan rencanakan pertemuan dengan seluruh paslon dan pendukungnya untuk duduk bersama. Kita harap paslon yang kalah bisa legowo dan menerima kekalahan sebagai proses demokrasi. Apabila ada yang dianggap kurang puas dan ada kecurangan, silakan tempuh dengan jalur hukum," ujar Ade, Jumat (17/2).

Sejauh ini berdasarkan perhitungan form C1 yang ditampilkan dalam situs Komisi Pemilihan Umum (KPU), keunggulan diraih paslon 3 Ajay-Ngatiyana dengan 40.55% suara. Paslon 2 Asep Hadad-Irma meraih 30,41% suara dan paslon 1 Atty-Achmad meraih 29,04% suara. Namun, pemenang yang sah masih menunggu penetapan oleh KPU.

Begitupun semangat rekonsiliasi memang sesungguhnya tidak perlu menunggu penetapan tersebut. Sebab, rekonsiliasi memang bukan pengakuan kemenangan ataupun menggenapkan kekalahan.

Melainkan, sesuai dengan makna kata, rekonsiliasi ialah memulihkan hubungan persahabatan. Maka tentu tidak perlu menunggu waktu untuk kembali menumbuhkan persahabatan baik dari puncak maupun akar rumput.

Lebih lanjut, Ade mengungkapkan banyak hal yang bisa dirayakan dan menjadi kebanggaan bersama seluruh Cimahi dari proses pilkada yang telah terlewati. Kebanggaan itu ialah pilkada yang kondusif dan aman berkat dukungan seluruh warga.

"Mari kita semua berpikir tentang kepentingan yang lebih luas untuk rakyat. Hilangkan segala ego dan persaingan, kita harus sepakat bahwa timses paslon telah cerdas secara politik. Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi karena setelah pilkada di wilayah Cimahi masih kondusif dan aman, "jelasnya.

Di sisi lain, ketua tim pemenangan paslon 2 Asep Hadad-Irma, Edi Karnedi mengaku terus menjalin hubungan baik dengan tim dari paslon lain. "Kita para timses dari tiga paslon masih sering bertemu dan engga pernah saling memojokkan, komunikasi sampai hari ini masih jalan terus, " ucap Edi yang juga yang juga anggota DPRD Kota Cimahi.

Meski begitu, Edi mengungkapkan jika suasana keguyuban juga akan ditunjang dengan sikap teladan dari paslon yang telah terlihat unggul dalam perolehan suaran.

"Kepada paslon yang menang, kami menyarankan untuk bersikap arif dan bijaksana, tidak jumawa dan tetap rendah hati. Karena tujuan kemenangan bukan jabatan dan kekuasaan, tapi amanat untuk memajukan Cimahi yang sejahtera dan aman," tambahnya.

Inisiasi dari Aceh

Pentingnya rekonsiliasi juga disadari calon Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali. Sebagai paslon 1 wilayah tersebut, Mawardi bersama Tgk Husaini WA

mendominasi perolehan suara yakni 57.04% berdasarkan perhitungan form C1 KPU. Sementara itu, paslon 2 Saifuddin Yahya dan Djuanda Jamal meraih 42.96% suara.

"Sekarang tidak ada lagi putih, tidak ada lagi merah, yang ada merah-putih. Bersatu kita semua untuk membangun Aceh Besar tercinta. Sudah tidak ada lagi kotak-kotak," kata Mawardi Ali.
Mawardi juga berencana untuk merangkul dan menggunakan program-program berkualitas yang dicanangkan lawan politik untuk membangun Aceh Besar.

"Ya, artinya kita bekerja sama. Mereka berdua juga merupakan calon tokoh-tokoh Aceh Besar, putra terbaik Aceh Besar dua-duanya. Insya Allah, sesudah ini harus merangkul semuanya. Istilahnya kita rangkul secara bersama, kita ajak untuk membangun Aceh Besar ini," tekadnya.

Terlebih, Mawardi menyadari kesulitan membangun sebuah daerah jika tetap ada fragmen-fragmen dalam masyarakatnya. Pembiaran fragmen itu juga akan dapat membuat kesenjangan politik dan sosial yang pada akhirnya makin menyulitkan kemajuan.

Selanjutnya, pasangan itu berterima kasih kepada masyarakat Aceh Besar yang berpartisipasi dan menjalankan pilkada dengan jujur serta mempercayakan mereka memimpin Aceh Besar.

Di Nagan Raya, teladan rekonsiliasi ditunjukkan palson 4, Nurchalis yang memberikan ucapan selamat kepada paslon 5 Jamin Indham-Chalidin Oesman yang meraih suara terbanyak pada Pilkada Nagan Raya.

"Saya mengucapkan selamat kepada Jadin, bisa mempersatukan masyarakat dan menjaga ukhuwah dan membawa Nagan Raya lebih baik," katanya.

Nurchalis yang menggandeng Suyanto (Cahaya) mengaku ikhlas dan menerima hasil perhitungan suara pilkada Nagan Raya.
Tidak hanya para puncak petarung pilkada, kelompok akar rumput pun berharap kedamaian dan persatuan segera terasa kembali di daerah masing-masing. Pasalnya, warga juga mengaku sudah gerah dengan kompetisi negatif yang masuk ke berbagai sisi kehidupan sehari-hari, bahkan di media sosial.

"Belakangan ini malas buka medsos karena isinya saling menjelekkan pasangan lawan," ujar Idham Gofur, 39 tahun, warga Desa Lontar, Kota Serang, Banten. Idham berharap warga pun dapat berlajar dari rekonsiliasi yang ditunjukkan di level puncak pilkada. (FD/WB/M-3)

Komentar