Travelista

Mencari Jejak Bugis di Singapura

Ahad, 19 February 2017 04:01 WIB Penulis: Gabriela Jessica

MI/JESSICA SIHITE

Leluhur kita punya kontribusi buat negeri jiran ini, tapi perjalanan menelusuri jejak itu lebih banyak berbuah jajanan ketimbang cerita sejarah.

APA yang kamu lakukan saat jalan-jalan di Singapura? Makan dan berbelanja. Itu kata pemandu wisata saat kami memulai berkeliling kota Singapura. Benar saja, kota ini menawarkan banyak sekali tempat berbelanja, dari yang paling murah hingga tempat yang menjual produk bermerek dengan harga selangit.

Salah satu area perbelanjaan yang kami datangi ialah Bugis Village. Di sana terdapat Bugis Street yang berisi barang-barang murah dan Bugis Junction yang berbentuk seperti mal dan menjual barang dengan harga lebih mahal.

Perjalanan kami ke Bugis Village diawali di Bugis Junction. Tempat ini menawarkan area perbelanjaan tertutup meski ada pula blok toko yang berada di ruang terbuka. Begitu masuk ke Bugis Junction, yang terlihat ialah gedung dengan atap kaca yang tinggi.

Cahaya matahari pun masuk ke sana dengan leluasa. Namun, karena berkonsep mal, tempat itu tetap menyuguhkan fasilitas air conditioner (AC) sehingga udara tetap sejuk meski sinar matahari kala itu sangat terik.

Sebagaimana layaknya pusat perbelanjaan, terdapat banyak jenis toko di sana. Ada toko pakaian, sepatu dan aksesori, dan peralatan rumah tangga. Ada pula toko kosmetik, perhiasan, dan berbagai toko lainnya. Tidak lupa dan pastinya selalu ada di setiap pusat perbelanjaan, toko-toko makanan.

Kami juga melihat lapak-lapak yang menjual berbagai macam pakaian dan makanan di bagian tengah Bugis Junction. Karena sedang dalam nuansa Tahun Baru Imlek, berbagai aksesori bernuansa merah menghiasi Bugis Junction. Sebuah balon menyerupai lampion menggantung di atas lapak-lapak di tengah Bugis Junction. Lapak-lapak yang ada pun dihiasi dengan berbagai ornamen. Mereka juga sengaja berjualan peralatan dekorasi Imlek dan berbagai macam kue keranjang.

Bengiskah orang Bugis?

Saat saya menengok-nengok lapak di sana, mata saya langsung melihat sebuah papan yang berdiri tepat di pusat Bugis Junction. Saya pun langsung mendatangi papan itu dan membaca isinya. Ternyata papan itu berisi cerita sejarah Bugis ada di Singapura.

Ya, awalnya saya juga heran mengapa daerah ini memakai nama Bugis yang merupakan suku di Sulawesi Selatan. Ternyata peran masyarakat Bugis sangat besar di sana.

Pada pertengahan abad ke-17, masyarakat suku Bugis berlayar dari Sulawesi untuk mencari tempat dan membuka pusat perdagangan. Kala itu mereka sering mendatangi pulau-pulau kecil yang jauh dan kemudian membantai suku pribumi di sana untuk merebut pulaunya. Mereka pun akhirnya dikenal sebagai makhluk yang ganas.

Keganasan suku Bugis itu terdengar hingga ke Belanda dan seluruh Eropa. Sejak saat itu, masuklah kata Bugis dalam bahasa Inggris dengan istilah boogieman yang berarti makhluk yang ganas atau pembunuh.

Berdagang

Namun, pada 1808, penemu Singapura, Sir Stamford Raffles, bertemu dengan masyarakat Bugis untuk pertama kalinya di daerah Penang, Malaysia. Raffles langsung terkesan dengan kemampuan dagang masyarakat Bugis. Dia pun langsung mengajak masyarakat Bugis untuk bekerja sama melahirkan Singapura.

Singkat cerita, pada 1819, ketika Singapura ditemukan, pangeran Bugis kala itu dibunuh Belanda saat berada di Riau. Saudara laki-laki sang pangeran pun memberontak dan kemudian berlindung di Singapura bersama 500 pengikutnya. Sejak itu, Raffles memberi nama Bugis Town untuk membiarkan masyarakat Bugis berkembang di sana.

Sayangnya, kini tidak ada lagi masyarakat Bugis yang saya temukan di sana. Saya bertanya dengan para penjual di sana, kebanyakan mereka merupakan etnik Tionghoa dan Melayu. Mereka pun tidak tahu apakah ada orang Indonesia yang berjualan di sekitar Bugis Village.

Bugis Street

Tanpa membeli apa-apa karena saya kurang suka berbelanja di mal, akhirnya saya berpindah dari Bugis Junction menuju Bugis Street. Lokasi Bugis Junction dan Bugis Street hanya berseberangan. Dari luar Bugis Junction, saya bisa melihat Bugis Street, tempat yang bagi saya sedikit mirip dengan Malioboro kalau di Yogyakarta.

Saya pun menyeberang ke Bugis Street begitu lampu lalu lintas memperbolehkan pejalan kaki untuk menyeberang. Dan benar, toko-toko di sini sangat berdempet-dempet dan menjual barang-barang dengan sangat murah. Seperti kata pemandu wisata kami dari Singapore Tourism Board (STB), Kevin Dragon, Bugis Street merupakan tempat nongkrong dan berbelanja para anak muda. Mungkin karena terbilang murah meriah, tempat perbelanjaan ini lebih menarik bagi mereka.

Toko pertama saat memasuki Bugis Street menjual minuman seperti sirop, jus, dan teh dengan harga S$1. Tentu itu sangat murah bagi masyarakat Singapura. Kemudian, mata saya disuguhkan dengan berbagai macam toko oleh-oleh yang menjual pernak-pernik, baju bertuliskan 'Singapore' dengan lambang singanya, dan camilan untuk dibawa pulang.

Akhirnya saya melihat sebuah toko cokelat kecil yang ramai dikunjungi wisatawan, Titbits World. Di antara dua toko cokelat yang saya lihat di sepanjang Bugis Street, toko itu yang paling banyak disambangi. Saya pun masuk ke sana dan banyak sekali bungkus-bungkus cokelat berjejer di berbagai rak.

Cokelat-cokelat itu mayoritas diimpor dari Jepang, Amerika, dan Eropa. Namun, kata penduduk setempat yang saya tanya, makanan itu diimpor secara langsung,sehingga harga-harganya sangat murah.

Dua bungkus Kit Kat yang besar hanya S$15, tiga bungkus besar cokelat Hershey's dan Kisses' hanya S$20, dan saya juga melihat harga dua bungkus besar wafer Hanuta hanya S$10. Biasanya, kata penduduk setempat itu juga, harga coklat seperti itu di mal atau supermarket bisa mencapai S$30. Namun, Anda jangan lupa untuk selalu mengecek tanggal kedaluwarsa cokelat-cokelat tersebut.

Karena saya kurang puas untuk berkeliling Bugis Street pada siang itu, saya pun benar kembali ke sana pada malam hari. Akses ke sana sangat mudah. Dari Halte Delfin Orchard, saya naik bus nomor 7 kemudian turun di Halte Bugis Junction.

Bugis Street di malam hari lebih diramaikan pengunjung. Malah, saya menemukan lebih banyak wisatawan dari Indonesia pada saat itu ketimbang saat saya ke sana di siang hari. Mereka memborong cokelat dan pernak-pernik khas Singapura.

Saya melihat sebuah keluarga yang mampir di sebuah toko baju kaget begitu tahu harga sebuah kaus anak-anak. Terdengar mereka saling berbicara, "Murah ya, kalau dirupiahin cuma Rp25 ribu."

Sang penjual pun melayani mereka dengan berbahasa Indonesia. Kalau kata pedagang cokelat yang saya datangi, hampir semua pedagang di Bugis Street bisa berbahasa Indonesia. Alasannya bukan sejarah masyarakat Bugis yang membuka wilayah itu, melainkan sebatas banyaknya wisatawan Indonesia yang mampir ke sana.

Ada perasaan kecewa memang begitu tahu sudah tidak ada lagi warga asli Bugis atau keturunannya yang berdagang di sana. Tidak seperti bagian Singapura lain, seperti Chinatown dan Little India. Dua tempat itu masih ditempati penduduk asli Tiongkok dan India.

Kunjungan ke Bugis Street di malam hari membuat saya jajan lebih banyak. Saya membeli makanan yang saya beli sebelumnya dan ayam krispi dengan harga S$4,5. Sambil memakan jajanan, saya menyelusuri deretan toko pakaian dan kemudian merasa takjub. Pakaian di sana sangat murah. Sebuah rok bergaya vintage hanya S$8 dengan bahan yang menurut saya halus tetapi cukup tebal. Pakaian terusan beserta kaus dalamannya pun hanya S$15 dan itu bisa ditawar. Jangan lupa ke sini jika ke Singapura ya! (M-1)

Komentar