Travelista

Kampong Glam, Sedap di Mata dan Rasa

Ahad, 19 February 2017 03:37 WIB Penulis: Jes/M-1

MI/JESSICA SIHITE

KALAU sudah puas berbelanja di Bugis Street, jangan lupa jelajahi Kampong Glam. Di sana terdapat banyak toko-toko bernuansa Melayu dan Arab. Dikabarkan, daerah tersebut memang dihibahkan Sir Stamford Raffles kepada komunitas muslim, termasuk pedagang dari Arab dan Bugis.

Dari Bugis Street, Anda hanya perlu berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju Kampong Glam. Yang paling menarik dari Kampong Glam ialah jalan-jalan kecilnya yang dirancang secara unik dan teratur. Saya melewati Bali Lane, jalan kecil yang berisi jejeran kafe dan kelab layaknya di Pulau Bali.

Setelah itu, saya menyelusuri Haji Lane, jalan kecil yang paling terkenal di Kampong Glam karena muralnya. Berbagai karya mural dengan warna-warna yang apik menghiasi jalan kecil tersebut. Tentu itu menjadi daya tarik pengunjung untuk berfoto. Kalau saya tidak diperingatkan teman saya, mungkin habis waktu untuk berfoto di setiap tembok sepanjang Haji Lane.

Kami kemudian berjalan melewati Arab Street. Di sana banyak restoran dan toko parfum, butik, dan pernak-pernik khas Timur Tengah. Lalu, kami melewati Masjid Nasional Singapura di sana. Masjid berwarna emas itu terlihat megah dan bisa menampung hingga 5.000 umat. Sayangnya, kami tidak bisa mampir karena harus mengisi perut.

Kami pun makan di Restoran Mamanda. Restoran Melayu itu pada awalnya merupakan Gedung Kuning yang dulu pernah ditempati pedagang keturunan Jawa, Haji Yusoff. Diceritakan dalam papan yang ada di restoran itu, Haji Yusoff berdagang tali pinggang dan menamai produknya itu 'Haji Yusoff Tali Pinggang'.

Pondok Jawa

Di dekat restoran itu juga awalnya pernah dibangun Pondok Jawa untuk para pendatang dari tanah Jawa yang sedang berkunjung. Pertunjukan wayang orang, wayang kulit, dan musik sering diadakan di pondok tersebut. Sayangnya, pondok itu tidak terawat dan dihancurkan pada 2003.

Kami masuk ke Restoran Mamanda dan disajikan sepiring nasi ambeng. Dengan piring yang lebar, nasi ambeng sedikit mirip tumpeng. Nasi yang berada di tengah piring disajikan dengan ikan asin, orek tahu, orek kacang panjang dan taoge, rendang, udang, perkedel, gulai ayam, dan sambal. Satu piring nasi ambeng diberi harga S$38 dan bisa dinikmati 4-5 orang.

Saya sangat menikmati makanan khas Melayu tersebut. Rasa gulai, rendang, dan sayurannya sangat kaya dengan bumbu-bumbu rempah yang tajam di lidah. Sambalnya pun cukup menggigit. Saya sampai tambah karena jarang-jarang bertemu dengan makanan seperti itu selama acara. Perut pun kenyang dan saya siap melanjutkan perjalanan mengitari kota Singapura.

Komentar