MI Muda

Dua perempuan, Tujuh Gunung Tertinggi

Ahad, 19 February 2017 02:30 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda

Dok. Pribadi

Mumpung isu pecinta alam masih menyisakan rasa prihatin, Muda mencoba mencari kisah seru anak-anak muda pencinta alam buat membuktikan organisasi ini mestinya menantang, bukan wadah buat merundung!

MUDA menjumpai Fransiska Dimitri Inkiriwang, 23, dan Mathilda Dwi Lestari, 23, dua perempuan yang tergabung dalam Ekspedisi Wissemu, kependekan The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar.

Ekspedisi yang diselenggarakan Kelompok Pecinta Alam Mahitala Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung ini mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia.

"Ekspedisi ini sejalan dengan kegemaran saya menjelajahi tempat-tempat ekstrem meski perlu latihan dan persiapan yang tidak mudah. Syukurlah saya terpilih menjadi salah satu pendaki Wissemu," ucap Dimitri.

Putri pertama

Prestasi Dimitri dan Hilda tercatat dalam sejarah baru sebagai pendaki putri Indonesia pertama yang mencapai puncak Gunung Vinson (4.892 mdpl) alias puncak tertinggi di Antartika.

Keduanya mencapai puncak Vinson pada Kamis 5 Januari 2017 setelah menaiki Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) yang mewakili Benua Australia 2014, Gunung Elbrus (5.642 mdpl), representasi Eropa pada 2015, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika pada 2015, dan Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Amerika Selatan pada 2016.

"Ekspedisi Wissemu ini sudah berlangsung sejak 2014, jika tak ada hambatan, kami akan mendaki Gunung Everest (8.848 mdpl) yang mewakili Benua Asia sebagai gunung ke-6 dan Gunung Denali (6.190 mdpl) yang mewakili Amerika Utara sebagai penutup ekspedisi ini pada pertengahan 2017," kata Dimitri.

Wissemu ialah ekspedisi kedua yang diselenggarakan Mahitala. Pada 2009-2011 Mahitala menggelar rangkaian pendakian serupa yang diikuti empat anggota laki-laki dalam Ekspedisi Issemu alias Indonesia's Seven Summits Expedition.

Persiapan itu nomor satu

Cerita seru juga Muda dapatkan dari Hilda, gadis berkulit cokelat dan berambut pendek, mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unpar. "Awalnya, keluarga tidak memberikan restu karena melihat ekspedisi ini berisiko sangat tinggi, tapi setelah dijelaskan soal pelatihan dan persiapan yang sudah aku lalui, akhirnya mereka setuju memberikan restu," ucap Hilda.

Kendati kini terus rajin berlatih dan mempersiapkan fisik dan teknis, Dimitri dan Hilda juga tetap memprioritaskan menyelesaikan kuliah. Istimewanya, setelah lulus, keduanya memiliki agenda yang tak terlampau dekat dengan aktivitas saat ini. Dimitri akan mencoba karier di Kementerian Luar Negri dan Hilda ingin menjajaki jurnalistik. (M-1)

Ni Putu Trisnanda, Mahasiswa Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar