MI Muda

Menari, dari India hingga Yunani

Ahad, 19 February 2017 01:30 WIB Penulis: Syifa Amelia

Dok. Pribadi

Jawa, Sunda, Bali, Sumatra, Sulawesi, serta penjuru Nusantara lainnya punya kekayaan tari masing-masing. Semuanya sarat nilai dan keindahan.

SEJAK balita menari, hingga kuliah pun di jurusan seni tari. Itulah komitmen Salsa Billa Oktaria pada tarian tradisional Indonesia. Hasilnya, ia terbang dari satu pentas ke panggung lain di berbagai negara menyebarkan inspirasi dan pesan tentang istimewanya kultur Indonesia.

Ceritakan dong perjalanan kamu dan tari?

Aku suka tari sejak kecil, dari sekitar umur tiga tahun, di acara RT. Saat itu aku belum dimasukin les. Lalu pas kelas 3 SD, aku lihat saudara lagi ujian tari di Sanggar Ayodya Pala, Depok, terus aku bilang ke mama kalau aku mau ikutan.

Akhirnya aku masuk Sanggar Ayodya Pala. Sampai sekarang pun masih di sanggar ini karena sistemnya kayak sekolah, pakai kurikulum. Jadi dari kelas tiga sampai sekarang, masih aktif.

Seberapa serius kamu dengan tari?

Karena memang sudah ikutan tari dari kecil jadi lingkungannya enggak jauh dari tari, sekarang pun kuliah di seni tari Universitas Negeri Jakarta.

Papaku sempat bilang, "Coba kamu tunjukin, buat papa percaya kalau di tari itu kamu bisa jadi sesuatu."Mulai dari situ aku merasa, enggak boleh biasa-biasa saja di seni tari. Aku harus nunjukin kuliah di seni tari itu enggak 'ecek-ecek', enggak bisa dipandang sebelah mata. Aku mulai tingkatin diri aku di dunia tari, alhamdulillah sering diajak dosen menari di berbagai event, baik dalam maupun luar negeri.

Sudah berapa banyak tarian yang kamu kuasai?

Aku kan lebih ke tradisi, di sanggar, aku harus menguasai semua tarian dari berbagai wilayah Indonesia. Sejauh ini sudah banyak yang aku kuasai, mulai tarian Jawa, Sunda, Bali, Sumatra, Sulawesi, hingga Aceh.

Tiap daerah itu memiliki teknik berbeda. Di tari tradisional itu ada gerakan merendah, di tarian Jawa, kakinya harus membentuk huruf V, sedangkan di Bali kakinya harus tapak siram. Makanya, tantangan tarian tradisional itu, tekniknya kita harus bisa, rasanya pun harus sampai.

Pencapaian kamu di dunia tari?

Alhamdulillah aku bisa tampil di berbagai festival dan perlombaan di Singapura, Korea Selatan, Bulgaria, India, Malaysia, Yunani, hingga Jepang.

Pengalaman paling seru selama menari?

Tentunya, yang paling berkesan ialah bisa ke luar negeri dengan membawa misi budaya Indonesia. Di sana orang-orangnya sangat antusias melihat tarian kita, beda dengan di Indonesia.

Selesai kita tampil, penonton di pentas-pentas luar negeri itu mengikuti ingin foto bareng, bahkan minta tanda tangan. Pokoknya sangat antusias. Selain itu, aku merasa telah berkontribusi dengan menunjukkan peran penari serta memopulerkan budaya Indonesia. Aku sebagai seorang penari enggak mau dianggap rendah.

Aku juga bisa membuat orangtua bangga dan menunjukkan ke orang-orang bahwa kuliah seni tari itu melibatkan teori serta pembelajaran budaya.

Selain di pentas dalam dan luar negeri, apa upaya kamu berkontribusi lebih bagi tarian tradisional?

Aku enggak hanya jadi penari, tapi juga melatih di sanggar. Aku ingin jadi pelatih yang hebat sehingga melahirkan bibit-bibit penari baru. Dengan melatih, aku tetap bisa melestarikan budaya Indonesia, meregenerasi penari. Selain itu, aku mau terus keliling dunia lewat tari. Aku mau nunjukin tari, tidak seperti apa yang mereka pikirkan, bisa jadi tiket keliling dunia gratis, menghasilkan uang sambil melestarikan budaya.

Respons orangtua kamu?

Alhamdulillah, orangtua sudah bisa dengan bangga menceritakan kiprah aku karena kebanyakan keluarga itu dokter, pengacara, pekerjaan-pekerjaan yang wah gitu deh, tapi sekarang mereka sudah bisa mengapresiasi pencapaian aku.

Kamu jalan ke luar negeri itu disponsori siapa?

Kemarin saat aku ke Yunani, pemerintah Kota Depok sangat membantu. Penari-penari tak mengeluarkan uang sepeser pun. Mereka sebenarnya tidak memberikan dana, melainkan memberi fasilitas seperti gedung dan mengadakan event untuk kami menggalang dana.

Dari sana dana terkumpul sehingga bisa berangkat tanpa harus membayar.

Aktivitas kamu sehari-hari, selain menari?

Tari kan enggak tiap hari, aku juga jadi make-up artist untuk wisuda, nikahan, dan acara-acara lain, masih terkait dengan seni sih.

Tantangan sebagai penari?

Enggak cuma harus ngafalin gerakan, tapi harus pintar atur waktu latihan, atur otak untuk mencari gerakan dan bisa menyesuaikan gerakan dengan musik. Belum lagi harus memikirkan kostum, make-up, dan tata rambut. Saat mau tampil pun, kita harus memakai segala sesuatunya sendiri dan harus cepat, tidak bisa mengandalkan orang lain.

Pesan kamu untuk anak muda agar bisa mencintai budaya Indonesia?

Kalian boleh bergaul ke mana saja, mengenal budaya luar supaya enggak ketinggalan zaman, tapi jangan pernah ngelupain budaya sendiri. Tanpa budaya Indonesia, kalian bukan apa-apa.

Rencana kamu ke depan?

Aku mau lebih ngembangin seni tari, aku mau muda-mudi Indonesia tidak hanya belajar IPA, IPS, atau semacamya, tapi bisa nari tradisional yang bisa membanggakan dirinya sendiri dan juga Indonesia. (M-1)

Syifa Amelia, Politeknik Negeri Jakarta

Komentar