Eksplorasi

Saat Penyerbukan Lebah Digantikan Drone

Sabtu, 18 February 2017 04:51 WIB Penulis: Dhika Kusuma Winata

Sumber: Chem/New Scientist/Grafis: Caksono

DRONE kecil itu dilengkapi dengan rambut kuda dan gel lengket untuk melakukan penyerbukan.

Bulu kuda memiliki fungsi khusus untuk mempercepat perluasan penyemaian serbuk sari.

Pemanfaatan bulu kuda itu menyerupai anatomi tubuh serangga penyerbuk yang berbulu karena bagian itu berfungsi untuk penyemaian serbuk sari yang merata.

Sementara itu, gel difungsikan agar lebih banyak serbuk sari yang melekat.

Begitulah inovasi drone buatan ilmuwan Jepang yang bisa membantu proses penyerbukan tanaman.

Wahana tanpa awak itu didesain untuk menggantikan peran lebah menaburkan serbuk sari pada tanaman.

Demikian temuan yang dimuat di Jurnal Chem, pekan lalu.

Menurut ahli kimia di National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST) Jepang, Eijiro Miyako, teknik polinasi buatan dengan menggunakan robot itu akan membantu bidang agrikultur dalam mengatasi masalah yang disebabkan menurunnya populasi lebah.

Pada 2007, Miyako mulai bereksperimen dengan cairan yang bisa digunakan sebagai konduktor elektrik.

Tak disangka, satu percobaan gagal yang ia lakukan berbuah gel lengket seperti gel rambut.

Setelah disimpan selama hampir satu dekade, dia menemukan gel itu kembali dan mulai bereksperimen lagi.

Uji coba dilakukan pada lalat dan semut.

Gel diaplikasikan pada serangga tersebut untuk mengetes apakah bisa digunakan untuk membawa serbuk sari bunga tulip ke sebuah kotak.

Ternyata itu berhasil

Uji coba lanjutan dilakukan dengan menggunakan drone dan dilengkapi dengan bulu kuda demi meniru lapisan bulu-bulu halus pada lebah.

Lalu ditambahkan gel pada sisi bawahnya.

Setelah itu, drone diterbangkan ke atas bunga lili (Lilium japonicum).

Robot serangga tersebut berhasil menyerap serbuk sari lalu menebarkannya ke kepala putik pada bunga lain.

Meski begitu polinator buatan seperti itu belum bisa dipraktikkan secara massal dalam waktu dekat.

Peneliti masih membutuhkan pengembangan memanfaatkan kamera beresolusi tinggi, GPS, dan teknologi kecerdasan buatan yang akan diaplikasikan kepada drone.

"Kami meyakini bahwa polinator robotik bisa dilatih untuk memahami penyerbukan melalui GPS dan kecerdasan buatan," kata Miyako.

Turunnya populasi lebah

Menurut catatan PBB, spesies-spesies lebah, kupu-kupu, dan hewan lain yang berperan penting dalam penyerbukan tanaman tengah menghadapi ancaman kepunahan.

Hewan yang berperan dalam polinasi, mulai serangga, kelelawar, hingga burung, tengah merosot dalam hal populasi.

Di Eropa, 9% spesies lebah dan kupu-kupu terancam punah.

Populasinya menurun di kisaran 31%-37%.

Amerika Serikat baru-baru ini memasukkan lebah berbulu rusty patched (Bombus affinis) sebagai spesies yang terancam punah.

Untuk wilayah Amerika Selatan, Asia, dan Afrika, peneliti kesulitan mendapat data yang andal.

Meski begitu, tren penurunan serupa juga diduga terjadi.

Untuk jenis polinator nonserangga, seperti kelelawar dan burung-burung, terjadi penurunan 16%.

Menurut ahli agrikultur dari Reading University, Simon Potts, sebagian besar bahan pangan di dunia, seperti beras, gandum, dan tanaman bulir lainnya memang tidak bergantung pada polinasi dari hewan.

Namun, menurut Potts, hampir seluruh buah dan sayuran yang kita konsumsi tergolong bergantung pada polinasi, di antaranya apel, mangga, dan cokelat, yang bergantung pada penyerbukan silang dari hewan.

(AFP/L-1/M-3)

Komentar