Jendela Buku

Membangun Desa oleh Masyarakat Desa

Sabtu, 18 February 2017 03:31 WIB Penulis: Melati Salamatunnisa Oktaviani/M-2

ORANG bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Betapa subur negeri kita Indonesia, bahkan benda mati di sekitar pun diibaratkan bisa tumbuh menjadi sumber kehidupan!

Benar saja, matahari bersinar sepanjang tahun, curah hujan yang tinggi, plus banyaknya gunung yang masih aktif cukup untuk menghasilkan tanah Indonesia luar biasa makmur.

Sepenggal lirik itu ialah bukti rasa bangga dari band Legendaris Koes Plus atas kekayaan negeri ini.

Sayangnya, kekayaan alam yang dimiliki hingga kini tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Kemiskinan masih jadi problem utama.

Artinya, ada yang salah dengan konsep pembangunan yang menyebabkan banyak sekali tujuan pembangunan yang tidak tercapai.

Inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran Gerdema yang digagas Yansen TP, sebagai Bupati Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Gerakan Desa Membangun (Gerdema) dikupas tuntas dalam buku Revolusi Dari Desa: Saatnya dalam Pembangunan Percaya Sepenuhnya kepada Rakyat.

Buku ini ditulis berdasarkan buah pikiran dan pengalaman berkarier Yansen di dunia praktik pemerintahan.

Berangkat dari pertanyaan umum yang kemudian dikerucutkan: Mengapa elite-elite lokal dan birokrasi pemerintahan daerah yang selama ini telah bekerja keras belum membuahkan hasil dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat?

Gerdema ialah sebuah paradigma baru yang menempatkan rakyat sebagai pelaku aktif dalam pembangunan dengan cara pandang yang fokus dan spesifik terhadap desa.

Peran pemerintah daerah sendiri hanya sebatas membimbing, mengarahkan, dan memberi dukungan terutama dalam hal dana.

Baru setahun berjalan, konsep Gerdema di Malinau sudah meraih Innovative Government Award dari Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2013.

Yansen menekankan perspektif para elite dalam kebijakan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai objek sudah semestinya diubah menjadi subjek pembangunan.

Ini karena pembangunan desa pada hakikatnya datang dari mereka, dilakukan oleh mereka, dan bermanfaat untuk mereka.

Dibeberkan pula beragam tantangan yang dihadapi, semisal pemerintah pusat dan daerah yang sulit percaya untuk menyerahkan sejumlah dana kepada desa.

Pun diuraikan secara lengkap indikator keberhasilan serta rekam jejak sebelum dan sesudah Gerderma.

Gunakan pola Buttom-up

Dalam rangka menuju kemandirian desa di Indonesia, sekarang ini terjadi pergeseran paradigma desa ialah subjek pembangunan.

Dahulu, desa hanya diakui sebagai objek pembangunan.

Pembangunannya pun sangat minim dan tidak terkonsolidasi dengan baik.

Kini, desa berkedudukan sebagai pemerintahan berbasis masyarakat, yaitu campuran dari komunitas yang mengatur dirinya sendiri (self governing community) dan pemerintahan lokal (local self government).

Hal ini disampaikan Anwar Sanusi, Sekjen Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dalam acara Bedah Buku Revolusi Dari Desa, Selasa, (14/2), di Jakarta.

Anwar menegaskan, ketimpangan sosial antara desa dan kota, tecermin dari angka kemiskinan di pedesaan yang mencapai 13,39%, sedangkan di perkotaan berjumlah 7,6%.

"Masyarakat desa dituntut memiliki kesadaran kritis dan kapasitas yang memadai dalam rangka meningkatkan kualitas pembangunan desa dan menyukseskan tujuan pembangunan desa," tukas Anwar.

Paradigma Pembangunan Desa yang saat ini memiliki pola buttom-up.

Dengan kata lain, pembangunan desa ialah pembangunan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Masyarakat desa selaku inisiator dan pelopor pembangunan mulai dari proses perencanaan, implementasi, hingga pengawasan.

"Ketika tahap perencanaan, partisipasi masyarakat desa dalam diselenggarakan melalui proses musyawarah desa," imbuh Anwar.

______________________________________

Judul: Revolusi Dari Desa, Saatnya dalam Pembangunan Percaya

Sepenuhnya kepada Rakyat

Penulis: Dr Yansen TP, Msi

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tebal: 178 Halaman

Terbit: 2014

Penerbit: PT Gramedia

Komentar