Jendela Buku

Efisien Sekaligus Inovatif

Sabtu, 18 February 2017 03:21 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

SEMANGAT kewirausahaan bangkit di mana pun.

Hampir setiap tahun, start-up baru bermunculan. Bukan rahasia lagi.

Di Indonesia, semangat itu begitu didorong untuk menghasilkan wirausaha baru.

Produk yang bagus, promosi besar-besaran disertai berbagai ulasan, serta janji konsumen akan mendapatkan manfaat besar jika menjadi penggunanya.

Namun, tak lama berselang beberapa di antara start-up yang digadang gadang itu tak lagi terdengar kabarnya.

Seorang wirausaha pasti sukses selama memiliki tekad kuat, panjang akal, waktu yang tepat, dan produk yang hebat.

Itu juga sering kali terdengar.

Namun, kenyataannya, awal yang menjanjikan tak jarang berujung pada kegagalan.

Sebagian besar produk baru tidak sukses di pasaran, bahkan pahitnya, tak digunakan siapa pun.

Mereka tidak mampu menghadapi tantangan terbesar, yakni memanfaatkan kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang hebat.

Pertanyaan selanjutnya pun muncul, strategi apa yang harus dilakukan agar start-up tidak layu sebelum berkembang?

Inilah yang dibahas dalam buku The Lean Start-up: Ketika Inovasi Tanpa Henti Menciptakan Kesuksesan Bisnis Secara Radikal karya pionir gerakan start-up Eric Ries.

Buku ini diterbitkan Bentang dan diterjemahkan dari judul asli The Lean Start-up.

Dalam buku setebal 292 halaman ini, Eric Ries memaparkan metode yang tidak hanya menjadikan sistem lebih hemat biaya, tetapi juga lebih efisien tanpa mengurangi kemanfaatan.

Lewat riset ilmiah serta pengalamannya dalam mendirikan dan membesarkan berbagai start-up selama bertahun-tahun, Eric Ries mencetuskan metode Lean Start-up.

Secara sederhana, sistem ini bakal menjawab dua pertanyaan strategis.

Apa saja yang berfungsi dan mana yang harus segera disingkirkan.

Untuk menjabarkan metode Lean Start-up, penulis memecah buku ini dalam tiga bagian, yakni Visi (hal 1), Arahkan (hal 61), dan Akselerasi (hal 161).

Bagian pertama, Visi, menyerukan perlunya manajemen kewirausahaan gaya baru.

Bagian ini mengidentifikasi entrepreneur, mendefinisikan start-up, dan mengartikulasikan cara baru untuk menaksir apakah sebuah start-up meraih kemajuan atau tidak.

Cara baru itu ialah pembelajaran tervalidasi yang memanfaatkan eksperimentasi ilmiah supaya start-up sanggup membangun bisnis yang berkesinambungan.

Umpan balik

Pada bagian Arahkan, pembaca akan diajak menyelami metode Lean start-up secara mendetail.

Bagian ini menerangkan siklus umpan balik yakni Buat-Ukur-Pelajari.

Siklus diawali dengan keharusan untuk mengidentifikasi asumsi lantas mempelajari cara mengujinya.

Metode itu memutuskan apakah banting setir atau justru bertahan.

Pada bagian ketiga, Akselerasi, pembaca diajak untuk menelaah teknik-teknik untuk mempercepat siklus Buat-Ukur-Pelajari.

Selain itu dibahas tentang konsep-konsep produksi ramping yang dapat diaplikasikan untuk start-up, semisal desain organisasi, pertumbuhan produk, penerapan prinsip-prinsip Lean start-up dalam berbagai skala usaha.

Termasuk perusahaan besar kelas dunia.

Terdapat lima prinsip Lean Start-up yang dijelaskan dalam buku ini.

Pertama, entrepreneur ada di mana-mana. Start-up tidak mesti berkantor.

Sebab start-up ialah institusi manusia yang dirancang untuk menciptakan produk dan jasa baru di dalam kondisi yang teramat tidak pasti.

Entrepreneur adalah semua orang yang bekerja dalam start-up.

Prinsip kedua, manajemen ialah kunci kewirausahaan.

Karena start-up sebuah institusi bukan sekadar produk, itu membutuhkan manajemen baru yang secara khusus dirancang untuk menghadapi ketidakpastian yang ekstrem.

Prinsip ketiga adalah pembelajaran tervalidasi. Start-up berdiri bukan hanya untuk membuat barang, menghasilkan uang, atau bahkan melayani konsumen.

Start-up berdiri untuk belajar membangun bisnis yang berkesinambungan.

Pembelajaran ini dapat divalidasi secara ilmiah dengan eksperimen rutin yang memungkinkan para wirausaha untuk menguji tiap unsur dari visi mereka.

Prinsip keempat ialah siklus Buat-Ukur-Pelajari.

Siklus ini teramat penting karena aktivitas fundamen usaha rintisan adalah mengubah gagasan menjadi produk, mengukur respons konsumen, dan kemudian mengkaji apakah mesti banting setir atau bertahan.

Prinsip terakhir, akuntansi inovasi.

Untuk memperbaiki keluaran dan menilai kinerja inovator, mesti fokus pula pada cara mengukur kemajuan, menetapkan target, dan memprioritaskan kerja.

Penyebab gagalnya start-up

Kendala pertama ialah pesona rencana bagus, strategi solid, dan riset pasar menyeluruh.

Memang pada era terdahulu ketiga komponen tersebut ialah syarat keberhasilan.

Sayangnya, saat ini ketiga prasyarat itu tidak relevan lagi.

Sebab start-up beroperasi di tengah-tengah kondisi yang terlampau tak pasti.

Start-up belum mengetahui siapa konsumennya apalagi produk semacam apa yang harus dijual.

Metode manajemen gaya lama sudah tidak mampu lagi menjawab tuntutan zaman.

Perencanaan dan prakiraan hanya akurat.

Kendala kedua ialah setelah menyaksikan kegagalan manajemen tradisional dalam memecahkan kendala pertama, sebagian entrepreneur lantas angkat tangan.

Mereka belum sadar usaha rintisan yang inovatif, mendobrak kemapanan, dan tidak lumrah bisa atau harus diatur dengan praktik-praktik manajemen barangkali terkesan kontraintuitif.

Terakhir dalam buku ini terdapat satu bab kunci yang berbunyi Epilog: Jangan Boros (hal 249).

Apa yang dipaparkan dalam bab ini adalah tentang jenis pemborosan dalam inovasi yang sesungguhnya bisa dicegah begitu penyebabnya dipahami.

(M-2)

_________________________________________

Judul : The Lean Startup: Ketika Inovasi Tanpa Henti Menciptakan

Kesuksesan Bisnis Secara Radikal

Penulis : Eric Ries

Terbit : Januari 2016

Halaman : 316 Halaman

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit : Januari 2016

Tebal : 316 Halaman

Komentar