Teknopolis

IT untuk Angkut Sampah Lebih Efisien

Sabtu, 18 February 2017 02:45 WIB Penulis:

DOK. BLACKXPERIENCE.COM

SETELAH perjalanan panjang sejak Agustus 2016, akhirnya para juara Blackinnovation 2016 diumumkan di Locanda Cafe, Jakarta, Sabtu (4/2). Blackinnovation menjadi ruang apresiasi untuk para inovator dalam mengembangkan ide kreatif menjadi produk inovasi yang lebih bernilai.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya mencakup kompetisi desain produk, kali ini ada kategori baru, yakni internet of thing (IoT).

Menurut Gege Dhirgantara selaku perwakilan Blackxperience.com yang menyelenggarakan Blackinnovation 2016, IoT merupakan hal yang sangat tidak bisa dielakkan dalam perkembangan zaman.

"Karena sesuai fenomena yang terjadi di bangsa dan pasar kita, hal-hal terkait dengan digital harus kita lalui," ujarnya.

Sayangnya, pendaftar kategori desain produk lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori IoT.

Komparasinya mencapai 60%:40%.

Pun dari sisi kesiapan untuk ditawarkan dan diterima pasar, masih banyak yang harus dimatangkan lagi.

Tak mengherankan dari tiga pemenang inovator terbaik Blackinnovation 2016, hanya satu yang dari kategori IoT, yakni Lemuria Waste Collection.

Dikembangkan Ratu Aghnia Fadillah dan Rogers Dwiputra Setiady, Lemuria merupakan platform IoT yang mengoptimalkan logistik pengangkutan sampah.

Ditemui seusai menerima penghargaan, Ratu menjelaskan mereka telah melakukan riset yang cukup panjang untuk mengetahui permasalahan pengangkutan sampah di perkotaan.

"Walaupun APBD untuk sampah di tiap kota itu besar, pengangkutannya tidak pernah 100% terangkut," ungkapnya.

Sebagai contoh APBD Kota Pekanbaru untuk pengangkutan sampah pada 2015 mencapai Rp25 miliar.

Dari situ mereka melihat persoalan efisiensi yang perlu diatasi.

Hanya 30%-40% dari ratusan ton sampah yang terangkut setiap harinya.

Sebagai catatan, keduanya selama ini bekerja untuk PT Global Future Technologies di Bandung yang banyak memanfaatkan IT untuk kota pintar.

Manfaatkan sensor

Selama ini pengangkutan sampah biasanya mengikuti rute dan jadwal tetap.

"Jadi, tidak peduli di TPS yang satu itu masih kosong, tetap akan didatangi walaupun ada TPS lain yang sudah penuh sampah, tidak akan diangkut kalau belum jadwalnya," jelas Rogers.

Ini biang keladi tidak efisiennya sistem pengangkutan sampah perkotaan.

Makanya mereka menawarkan Lemuria sebagai solusi.

Lemuria akan bekerja dengan sistem scanning di tiap tempat pembuangan sampah (TPS) sementara.

Scanner akan membaca volume sampah di tiap TPS, lantas mengirimkan datanya ke cloud.

Ditopang dengan artificial intelligence (AI), data itu akan diolah menjadi keputusan pemberian informasi yang dibutuhkan setiap sopir truk pengangkut sampah.

Secara real time, akan diketahui TPS mana yang sudah penuh hingga perlu didatangi terlebih dulu.

Demi efisiensi, disajikan pula pilihan rutenya.

Sementara itu, informasi soal rute pengangkutan itu akan diterima sopir truk sampah lewat aplikasi ponsel.

Menurut Ratu, mereka sudah sempat duduk bersama sejumlah pemerintahan daerah untuk melakukan kerja sama.

Mereka berharap Lemuria bisa diaplikasikan untuk kepentingan masyarakat.

Kota pertama yang diharap mau mengadaptasi sistem ini ialah kampung halaman mereka, yakni Bandung. Dengan Lemuria, mereka yakin anggaran APBD untuk sampah bisa dipangkas 20%-30%.

Berbeda dengan kebanyakan peserta lain yang masuk kategori IoT di BlackInnovation 2016, inovasi mereka tampak lebih memiliki kemungkinan cepat diterima pasar.

Sebagai catatan, banyak peserta lain yang menawarkan konsep ide IoT, tapi masih dalam bentuk prototipe dan pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk realisasinya.

Aspek kemampuan dikomersialkan merupakan salah satu yang ditekankan M Yukka Herlanda (CEO Bro.Do) yang menjadi salah satu juri di ajang itu.

Juri lainnya termasuk Danny Oei Wirianto (CMO GDP Venture), Achmad Fadilah (Desainer Produk), Aulia Faqih (CEO & Founder Dirakit.com), Svasti Manggalia (Owner Svas Living), Surya Darmadi (COO Qlue), dan Budi Suwarna (Jurnalis Senior).

Dengan kemenangannya, Lemuria berhak mendapat hadiah uang tunai sejumlah Rp30 juta dan perjalanan ke Jepang untuk melihat tempat-tempat inovatif yang bisa dipelajari. (M-4)

Komentar