KICK ANDY

Apresiasi untuk Penyandang Disabilitas

Sabtu, 18 February 2017 02:30 WIB Penulis: Imania Kamila

MI/Arya Manggala

KEHADIRAN kaum penyandang disabilitas di tengah masyarakat tidak bisa diabaikan.

Mereka mempunyai hak yang sama dengan orang normal.

Sayangnya, perhatian pemerintah saat ini belum dirasakan penyandang disabilitas.

Sarana akses publik serta penyerapan tenaga kerja untuk penyandang disabilitas masih sangat terbatas.

Namun, tidak sedikit pula para penyandang disabilitas berprestasi melebihi orang normal.

Guna mendukung prestasi mereka, Kick Andy Foundation dan PT Telkom Indonesia Tbk menghadirkan Gantari Award (Anugerah Gantari) 2017.

Penghargaan itu diharapkan mampu menginspirasi penyandang disabilitas untuk berprestasi.

"Penerima Gantari Award tahun ini merupakan sosok-sosok istimewa yang memang layak untuk mendapatkan apresiasi dari kita semua. Mereka dalam keterbatasan tidak hanya mampu bangkit untuk diri mereka sendiri, tapi lebih jauh mereka melakukan bebagai kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi banyak orang. Karena itu, mari buka mata hati kita untuk bersama-sama belajar dari kisah-kisah inspiratif yang akan kita lihat dan dengar hari ini," kata host Andy F Noya.

Beberapa artis juga terlibat dalam perhelatan acara, seperti Andre Hehanusa, Dewi Yul, Maudy Koesnaedi, Nuggie, Farhan, dan Angkie Yudistia.

Hasan Basri

"Cacat bukanlah kiamat. Meski sempat terbelenggu depresi, sosok yang satu ini berhasil bangkit dan kembali semangat menjalani kehidupannya. Pada 2006 kecelakaan tragis menimpanya. Pria asal Bogor ini tersengat aliran listrik saat membersihkan papan reklame yang berakibat kedua tanganya harus diamputasi," ujar Maudy Koesnaedi.

Menghadapi kenyataan kedua tangannya harus diamputasi tak lantas membuat Hasan bergantung pada orang lain.

Keterbatasannya justru membuat Hasan hidup mandiri.

Ia pun mulai merintis usaha sendiri setelah dianggap tidak mampu bekerja di perusahaan tempat kerjanya kini.

Selain memiliki usaha pembuatan tas, ia didaulat menjadi Ketua Organisasi Himpunan Disabilitas Indonesia.

Setelah bangkit dari kesedihan, Hasan mengikuti pelatihan menjahit yang diselenggarakan dinas sosial.

Berbekal keterampilan itu, Hasan merintis usaha untuk memproduksi tas.

Dalam menjalankan bisnisnya, Hasan mempekerjakan para penyandang disabilitas.

Hasan bahkan juga mendirikan Himpunan Disabilitas (HDI) yang bertujuan memberdayakan penyandang disabilitas.

Bertempat di Tegal, Bundil, Bogor Utara, bersama kelompoknya kini usaha Hasan tidak hanya memproduksi tas, tapi juga busana dan aneka kerajinan tangan.

Miftahul Khoir

Sebuah kecelakaan telah merenggut salah satu kakinya hingga harus diamputasi.

Dari pengalamannya mencari pekerjaan dalam keterbatasannya, ia tidak berkecil hati.

Ia justru bangkit dan mewujudkan cita-cita sebagai seorang guru.

Bersama sang suami, Miftahul menyulap rawa di kampung halamannya menjadi sekolah gratis pada 2014.

Berbagi ilmu merupakan tekad kuat anak pembuat batu bara itu untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.

Tidak memiliki fisik yang sempurna justru membuatnya nekat mendirikan sebuah sekolah Islam gratis di Desa Belo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

SMP Islam Miftahul Khoir menjadi wujud kesetiaann perempuan berusia 26 tahun itu terhadap pendidikan.

Perempuan itu mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak yatim dan kurang mampu di sekitarnya.

Tidak hanya mengajar matematika, ibu satu anak itu juga mengajari anak-anak untuk belajar mengaji.

"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang mendukung saya sehingga saya bisa mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang guru. Terima kasih untuk suami saya yang selalu mendampingi saya dan kepada anak kami, kepada orangtua dan mertua saya, kepada guru-guru saya yang sudah menyumbangkan ilmunya untuk saya. Kemudian kepada Bang Andy, PT Telkom, dan orang yang menyayangi saya sehingga saya bisa seperti ini," ujar Miftahul.

Sikdam Hasyim Gayo

Sebuah kecelakaan lalu lintas membuatnya kehilangan penglihatan.

Kehilangan binar di matanya itu membuatnya depresi dan hampir bunuh diri.

Namun, ketika ia mengetahui ada kelompok masyarakat disabilitas yang memiliki kemampuan, keinginan, dan semangat berkarya, ia pun tergugah untuk bangkit.

"Bangkit untuk menjadi orang yang berprestasi dan berkarya membentuk sebuah komunitas yang bernama Disability Youth Center Indonesia. Banyaknya keterlibatannya dalam kegiatan sosial juga turut menghantarkannya mengikuti berbagai macam kegiatan internasional," ujar Farhan memperkenalkan Sikdam Hasyim Gayo.

Disability Youth Center Indonesia merupakan komunitas yang bergerak untuk membantu kaum muda penyandang disabilitas.

Keterlibatannya dalam kegiatan sosial membuatanya mengikuti kegiatan international.

Pada 2014, ia diundang menjadi pembicara di Afrika Selatan tentang pembelaan kaum disabilitas.

Melalui beasiswa ia lulus program studi internasional di Korea Selatan pada 2015.

Pada November 2015 ia menerima penghargaan di Inggris serta berpidato di depan keluarga Kerajaan Inggris.

Ia juga mewakili pemuda Indonesia dalam International Converse of Family Planning 2015 di Nusa Dua, Bali.

Purwanti

Hidup dengan keterbatasan fisik tidak membuat hidupnya terbelenggu.

Sebaliknya, keseharian perempuan asal Surakarta itu diisi dengan berbagai kegiatan.

Lahir 35 tahun silam, perempuan yang disapa Ipung itu tumbuh sebagai anak dengan berkebutuhan khusus.

Sebuah kecelakan serta penyakit polio telah merenggut kemampuannya berjalan.

Ipung pun terpaksa menggunakan tongkat untuk aktivitasnya.

Ipung juga termasuk anak yang cerdas sehingga pendidikannya sejak TK hingga SMEA mendapat fasilitas beasiswa.

Tidak bisa dimungkiri, masyarakat telanjur memiliki stigma negatif pada kaum penyandang disabilitas.

Berbagai perlakukan diskriminatif telah dialami olehnya dan rekan-rekannya yang menjadi penyandang disabilitas.

Dengan didorong rasa prihatin akan kondisi tersebut, Purwanti bergabung dengan LSM yang khusus memberikan pendampingan dan advokasi bagi kaum penyandang disabilitas.

"Beruntung kepada teman-teman yang memiliki keluarga dan teman-teman yang memahami kondisi dirinya. Tentunya mendukung setiap aktivitasnya. Dia pun bergabung dengan LSM yang memberikan advokasi dan pendampingan bagi kaum penyandang disabilitas. Dengan motor yang dimodifikasi, ia pulang pergi Solo-Jogja untuk menyuarakan hak-hal kaum penyandang disabilitas," ujar Angkie Yudistia.

Eko Sutio Asih

Sebagai orangtua tunggal dengan tiga anak yang salah satunya berkebutuhan khusus, Eko Sutio Asih di Tahudan, Colomadu, Karang Anyar, Jawa Tengah, harus meluangkan waktu ekstra untuk buah hatinya itu.

Selain sang buah hati, Eko mengasuh dan merawat empat anak berkebutuhan khusus yang dititipkan kepadanya. I

Seusai mengurus keperluan anak-anaknya, Eko bersiap mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Anugerah.

Untuk mengajar, Eko tak perlu ke mana-mana karena SLB berada di rumahnya.

Eko merintis SLB pada 2005.

Dari awalnya tiga murid, dari waktu ke waktu murid SLB terus bertambah dan kini SLB mendidik puluhan murid.

Untuk biaya operasional sekolah, ia menggunakan uang pribadinya dari gaji sebagai guru honorer dan dari beberapa donatur.

"Saya merintis dan mendirikan ini tujuannya agar anak-anak kalangan menengah ke bawah yang berkebutuhan khusus biasa terlayani secara maksimal tanpa harus berpikir soal uang atau biaya apa pun sehingga anak itu biasa terlayani dan bisa berkembang," kata dia. (M-4)

Komentar