Polkam dan HAM

Bareskrim Janjikan Perlakuan Adil

Kamis, 16 February 2017 07:56 WIB Penulis: Deo/P-2

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar (kiri) bersama Kuasa Hukum Antasari Azhar Harjadi Jahja (kanan) saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri di Gedung KKP, Gambir, Jakarta, Selasa (14/2). -- ANTARA FOTO/Reno Esnir

BARESKRIM Polri menerima laporan yang dibuat Antasari Azhar, yaitu tudingan dugaan tindak pidana persangkaan palsu dan pesan singkat (SMS) misterius yang menyeret Presiden Ke-6 RI Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan pengusaha Hary Tanoesoedibjo yang juga Ketua Umum Perindo.

Pada hari yang sama, Bareskrim Polri juga menerima laporan balik dari Susilo Bambang Yudhoyono terhadap mantan Ketua KPK tersebut.

Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan polri tidak akan pilih kasih dalam menanggapi laporan keduanya.

“Sama aja. Ya menerima laporannya, kemarin, ada laporan. Kita terima. Nanti kita teliti dan kita dalami,” kata Ari Dono.

Ari Dono mengatakan penyidik akan mempelajari terlebih dahulu laporan yang telah masuk ke Bareskrim Polri.

Dalam tahap tersebut, penyidik juga akan melakukan gelar perkara apakah laporan bisa ditindaklanjuti dalam proses penyelidikan ataukah tidak.

Jika laporan layak ditindaklanjuti, penyidik selanjutnya akan memintai keterangan yang diawali dari para saksi pelapor. “Intinya terima laporannya. Kami tindak lanjuti dengan pendalaman, kita diskusi dulu apa sih maksud laporan ini. Nanti kita minta keterangan yang bersangkutan, yang melaporkan, apa maksud laporannya, buktinya apa, baru sampai situ,” jelas Ari Dono.

Ari Dono menjanjikan pelapor pasti dipanggil setelah LP-nya sampai di penyidik. “Kita kan proses di SPKT terima laporan, mulai masuk pendataan di robinops, nanti penyidik lakukan gelar kecil, nanti penyidik meminta keterangan ke pelapor, kronologinya seperti apa, bukti-bukti apa. Nanti kita gelar lagi.”

Selain soal kasus dengan SBY, Antasari menyebut tak pernah sekali pun menyatakan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) terlibat korupsi proyek pengadaan IT KPU pada 2009. Sewaktu pertama kali menyelidiki kasus proyek IT KPU, Antasari mengaku tak pernah sekali pun menggulirkan nama Ibas.

Antasari mengatakan kala itu dirinya tidak sedang menyelidiki pengadaan proyek. “Saya tidak mengurus masalah pengadaan kok. Saya mengurus kenapa di-grounded itu alat,” kata Antasari.

Nama Ibas dalam proyek IT KPU, kata Antasari, baru dia ketahui dari temannya ketika dia ditahan di Kantor Polda Metro Jaya. Saat membesuknya, teman yang tidak ia sebutkan identitasnya itu menanyai sikap Antasari.

“Antasari itu bagaimana sih, sudah besannya (Aulia Pohan, besan SBY) ditahan, anaknya (Ibas) mau ditangkap,” begitu Antasari meniru ucapan rekannya. (Deo/P-2)

Komentar