Inspirasi

Agar Perempuan Berperan Lebih

Kamis, 16 February 2017 06:00 WIB Penulis: Mohammad Ghazi

MI/MOHAMMAD GHAZI

TEMPAT tinggalnya jauh di luar kota kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Tepatnya di Dusun Tengah, Desa Jangkar, yang harus dicapai melewati jalan-jalan berkelok di antara area persawahan.

Namun, kiprah yang telah dibuat Holifah membuat dirinya dikenal jauh melintasi dusun tempat tinggalnya itu.

Kiprah itu terkait dengan peran pendamping program Perempuan Kepala Keluarga (Pekak) yang telah dijalaninya sekitar tujuh tahun ini.

Lewat peran tersebut, perempuan yang pada 19 Januari lalu menginjak usia 37 tahun itu menjadi motor bagi puluhan perempuan dusunnya untuk mengangkat ekonomi keluarga.

Holifah juga sering didaulat menjadi pembicara di acara kewanitaan di Kota Bangkalan dan Sampang.

Padahal, jika perjalanan hidupnya dilihat, nasib seperti begitu keras pada Holifah.

Saat sang anak masih berusia tiga tahun, ia diceraikan suami. Dengan hanya berpendidikan sampai kelas 2 SD, Holifah tentunya sulit mendapat pekerjaan.

Namun, ia bisa mengubah nasib, dari hanya buruh tani menjadi penjual mainan anak-anak dan kemudian menyebarkan semangat mandiri pada banyak orang.

"Alhamdulillah, ternyata banyak cara Allah membuka pengetahuan meski tidak melalui bangku sekolah," tutur Holifah saat Media Indonesia mengunjunginya, Rabu (25/1).

Saat itu kami berbincang di khobung (bangunan untuk salat) yang berada di depan rumah orangtuanya, yang juga tidak jauh dari rumahnya.

Di pekarangan sekitar khobung itu dengan mudah dapat dilihat jejak kerja keras Holifah.

Pekarangan yang luas dipenuhi berbagai tanaman, mulai tanaman obat keluarga (toga) hingga tanaman yang bisa dimanfaatkan buahnya untuk dikonsumsi, seperti nangka, durian, jambu biji, pisang, rambutan, dan mangga.

Bahkan, buah salak yang dihidangkan merupakan hasil memetik di pekarangan belakang rumah orangtuanya.

Pekarangan depan, selain sebagai halaman rumah, dijadikan tempat bibit kebun gizi, sebelum ditanam. Halaman samping kiri dan kanan rumah digunakan sebagai tempat jemuran pakaian dan tanaman yang biasa ditanam masyarakat sekitar.

"Itu bantuan dari pemerintah maupun pihak lain yang berhasil diakses," tutur Holifah mengenai bibit tanaman yang memenuhi pekarangannya.

Sembari membetulkan kerudungnya, perempuan berkulit sawo matang itu menceritakan awal mula kebangkitannya dari janda tidak berdaya.

Di kala masih menjadi buruh tani itu, Holifah sering berkeluh kesah dengan sesama janda di dusun tersebut.

Ia jengah dengan pandangan umum bahwa janda ialah seorang yang mesti dikasihani.

Holifah pun sedih ketika melihat banyak janda larut dengan status dan kesengsaraan hidup.

Baginya, janda tetap sama dengan orang lainnya yang dapat bangkit dan bahkan bisa menjadi orang yang diandalkan.

Terlebih, Holifah melihat bahwa janda juga memiliki tanggung jawab besar untuk masa depan keluarga, terutama anak.

"Status janda hanyalah status dalam perkawinan, sementara masa depan anak dan kebutuhan rumah tangga merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Makanya saya sedih jika ada yang larut dengan status janda," tutur ibu Ismail Marzuki itu.

Kesadaran tanggung jawab itu yang mendorong Holifah memiliki visi jauh yang tidak berbeda dengan orang-orang berpendidikan tinggi.

"Jika sudah tidak ada lagi yang bisa diandalkan, kita harus mengambil peran," tambahnya.

Bahkan peran menjadi sosok andalan, menurut Holifah, semestinya juga bisa diemban perempuan yang memiliki suami.

"Banyak juga kaum wanita yang memiliki suami, tapi tidak memiliki peran apa pun kecuali sebagai ibu rumah tangga," jelasnya.

Kondisi itulah yang semestinya bisa diubah semua perempuan jika menggali kemampuannya.

Berkenalan dengan Pekak

Keinginan untuk maju dan desakan tanggung jawab itulah yang akhirnya membuat Holifah mencari pekerjaan yang tidak bergantung pada musim panen, seperti yang dialami profesi buruh tani.

Sulung dari dua bersaudara itu pun melihat peluang untuk berjualan jajanan anak-anak di salah satu sekolah tidak jauh dari rumahnya.

Pendapatan yang diraih per hari memang tidak besar, tetapi karena tidak bergantung pada musim, Holifah bisa mengumpulkan uang untuk membiayai sekolah anak dan memperbaiki rumahnya yang semula dari anyaman bambu.

Terkadang, untuk menambah penghasilan, ia juga berjualan di acara-acara desa dan kecamatan.

Sikap optimistis menghadapi persoalan hidup ia tularkan ke beberapa tetangganya yang mengalami nasib sama sebagai janda. Bahkan tidak jarang ia menjadi tempat para janda berkeluh kesah tentang persoalan yang dihadapi.

Pada 2010, Holifah berkenalan dengan program Perempuan Kepala Keluarga (Pekak).

Hofilah terbukti sebagai kader Pekak yang mumpuni dan mahir berorganisasi.

Ia juga tidak ragu mengakses program-program pemerintah lainnya agar menjadi pemancing semangat bagi anggotanya untuk semakin aktif.

Di program itu, kaum perempuan yang ia dampingi mencapai 33 orang.

Mereka ialah para janda atau kaum ibu yang menjadi tulang punggung keluarga karena suami sudah tidak bisa lagi bekerja.

Koordinator Pekak Kabupaten Bangkalan, Muarrafah, mengatakan Holifah dipilihnya sebagai kader Pekak karena mobilitasnya yang tinggi serta kepeduliannya pada sesama.

Ia juga dikenal mudah bergaul sehingga memiliki banyak teman.

"Di Madura, perempuan bekerja mencari nafkah merupakan hal yang biasa. Tapi kebanyakan mereka bekerja untuk keperluan rumah tangga sendiri. Holifah dikenal karena suka membantu, terutama yang senasib dengannya," kata Muarrafah.

Saat akan menjatuhkan pilihan pada Holifah sebagai kader Pekak di Desa Jangkar, ia masih meminta informasi dari beberapa warga tentang sosok wanita tersebut.

Setelah meyakini Holifah sesuai dengan kriteria yang diinginkan, ia pun mencoba untuk melakukan pendekatan.

"Dari pembicaraan awal saat kami berkenalan, saya sudah yakin bahwa dia orang yang tepat untuk program ini. Sebelumnya dia sudah dikenal aktif di desa dan sering membantu para janda yang senasib dengannya," jelasnya.

Pilihan itu pun tepat.

Meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi, Holifah mampu menularkan materi-materi kekaderan kepada anggotanya.

Ia juga dikenal bersikap relawan dan tidak banyak menuntut.

"Yang saya sukai, gaya bicaranya yang apa adanya, seperti kebanyakan warga desa lain. Kalau ada yang tidak cocok dengan pikirannya, ia langsung mengutarakannya," pungkas Muarrafah. (M-3)

BIO DATA:
Nama: Holifah
Tempat, tanggal lahir: Bangkalan, 19 Januari 1980
Pekerjaan: Jualan jajanan anak-anak
Pendidikan: Kelas 2 Sekolah Dasar
Alamat: Dusun Tengah, Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan

Komentar