Features

Penipu Cinta Bertebaran pada Hari Kasih Sayang

Selasa, 14 February 2017 09:40 WIB Penulis:

AFP/Roslan RAHMAN

CINTA mungkin tengah mengudara di Hari Valentine, menebar kebahagiaan bagi orang-orang di berbagai penjuru tempat. Namun, menjelang momen romantis itu, sebuah peringatan keras justru muncul di Australia, Malaysia, dan Singapura.

Pihak berwenang memperingatkan warga akan ancaman penipuan lewat daring berkedok cinta yang semakin gencar menyasar orang-orang kesepian.
Komisi Pengaduan dan Konsumen Australia (ACCC) mengatakan penipuan berkedok asmara meraup lebih banyak uang penduduk Australia jika dibandingkan dengan penipuan bentuk lainnya. Secara khusus kelompok orang yang berusia lebih dari 45 tahun rentan tertipu.

Korban biasanya terpikat akan janji-janji cinta dan persahabatan sehingga mau memberikan uang kepada orang asing.

“Penipuan asmara semakin manipulatif. Jadi, jika Anda akan mencari cinta secara daring di Hari Valentine ini, sangat penting Anda untuk mengenali beberapa tanda peringatan,” ujar Wakil Ketua ACCC, Delia Rickard.

Rickard mengatakan penipu akan membuat profil daring yang terlihat sangat bisa dipercaya. Bahkan tidak jarang dilakukan dengan mencuri identitas orang lain yang tepercaya.

“Jika Anda bertemu seseorang yang tampaknya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, telitilah dulu untuk melihat apakah mereka nyata,” tambahnya.

Tidak hanya di Australia, di Kuala Lumpur, polisi gabungan Malaysia dan Singapura berhasil menahan 27 pelaku penipu cinta. Mereka termasuk 11 warga Nigeria, negara yang terkenal karena penipuan uang.

Sekitar 108 orang kesepian menjadi korban penipuan dan merugi 21 juta ringgit pada 2016 karena kelompok penipu cinta.

Polisi turut menyita sejumlah bukti termasuk komputer, ponsel, dan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) yang digunakan pelaku untuk memperdayai korban.

Direktur Departemen Investigasi Kejahatan Komersial Malaysia, Acryl Sani, mengatakan korban yang tertipu tidak hanya pria, tapi juga wanita dengan 43 orang dari Singapura dan 65 orang dari Malaysia.

“Kami percaya ada sindikat yang lebih banyak yang beroperasi di Malaysia. Polisi akan memburu dan menangkap para pelaku,” ujar Sani.

Sani menyebut para penipu akan menggunakan kata-kata kuat yang penuh emosi untuk memangsa korban yang kesepian. Pelaku bahkan hanya menggunakan pesan singkat dan tidak pernah tatap muka atau komunikasi telepon.

David Chew, Direktur Departemen Urusan Komersial Singapura, mengatakan kasus penipuan daring saat ini semakin kompleks dan bersifat lintas negara.

“Untuk para penjahat yang berpikir bahwa mereka bisa bersembunyi di balik jubah anonimitas yang disediakan internet untuk melakukan penipuan, kami ingin mengirim pesan bahwa kriminalis tidak dibayar,” ujarnya. (AFP/Indah Hosein/I-4)

Komentar