Features

Lebih Irit di Hari Kasih Sayang Tahun Ini

Selasa, 14 February 2017 09:04 WIB Penulis:

MI/Seno

DI Indonesia, Hari Kasih Sayang, alias Valentine, boleh jadi bukan suatu hal besar. Mungkin hanya segelintir orang yang merayakannya.

Berbeda halnya dengan di Amerika Serikat. Di ‘Negeri Paman Sam’, bukan hal aneh atau tabu merayakan Valentine. Bahkan, momen itu merupakan salah satu yang ditunggu para peritel. Banyak pasangan royal berbelanja bunga, cokelat, atau kado lainnya di saat Valentine. Nilai belanja mereka bahkan bisa mencapai miliaran dolar AS!

Namun, tahun ini, para peritel AS tampaknya tidak bisa memasang target terlalu tinggi.

Survei National Retail Federation (NRF) 2017 memperlihatkan penurunan jumlah orang yang berminat untuk berpartisipasi dalam perhelatan Valentine tahun ini, dari 54.8% di 2016 menjadi 53,9%. Prakiraan NRF, rata-rata nilai belanja konsumen untuk Valentine hanya US$136,5 atau sekitar Rp1,8 juta. Tahun lalu, rata-rata nilai belanja konsumen sebesar US$146,8.

Dengan begitu, total belanja Valentine di AS pada 2017 ‘hanya’ US$18,2 miliar, menurun dari tahun lalu US$19,4 miliar. Penurunan itu, menurut NRF, merupakan yang pertama dalam empat tahun terakhir.

“Meski terlihat konsumen cenderung lebih hemat pada tahun ini, Valentine tetap menjadi momen populer untuk memberikan hadiah. Konsumen akan melihat para peritel memahami kebutuhan mereka untuk mencari penawaran terbaik,” ujar CEO of NRF Matthew Shay seperti dilansir di situs resmi NRF.

Dari survei itu, mayoritas responden berencana memberikan hadiah kepada pasangan mereka. Kemudian, 53% ingin menghadiahi teman. Sementara itu, 19,9% akan memberikan hadiah bagi hewan peliharaan mereka, sedangkan hanya 10% yang berpikir untuk memberi kado ke kolega kerja.

Permen dan cokelat masih menjadi hadiah Valentine yang terpopuler. Jenis hadiah berupa ‘pengalaman’ juga mulai digemari, seperti tiket ke konser dan pertandingan olahraga, keanggotaan gim, atau petualangan luar ruang.

Di Inggris, belanja Valentine tahun ini diperkirakan tidak akan tumbuh melesat dari tahun lalu, yang diestimasi sekitar 980 juta pound sterling untuk kategori ritel.

Kelompok riset Fung Global Retail Tech (FGRT) mengemukakan penjualan ritel tampak kuat beberapa bulan terakhir. Namun, selera konsumen yang kini banyak mengarah ke sektor jasa, jatuhnya Valentine pada Selasa, pun kompetisi harga yang ketat, bakal menjadi faktor yang menahan pertumbuhan belanja Valentine 2017 di Inggris.

“Pangsa bagi industri ritel amat mungkin tergerus pada Valentine tahun ini lantaran adanya persaingan dari sektor jasa. Konsumen Inggris mulai cenderung memilih membelanjakan uang mereka untuk acara makan atau acara seni budaya,” ujar pihak FGRT. (E-1)

Komentar