MI Muda

Belajar Dua Tahun, Pameran Empat Hari

Ahad, 12 February 2017 03:31 WIB Penulis: Dila Rizky Anisa

Dok.Pribadi

Kehidupan dan kematian dihadirkan Johannes dalam seni fotografi, lukisan, dan patung.

Johannes Pandhito Panji Herdento memadukan fotografi, lukisan, hingga patung pada pameran bersama dengan delapan kawan sekolah. Karya dia istimewa karena harmoni dilakukan pada berbagai produk seni. Sementara itu, teman-temannya menggarap seni lukis dan gambar.

Pameran yang menjadi penanda dari tuntasnya pembelajaran seni yang mereka tempuh selama dua tahun itu digelar di Galeri Salian, Bandung, selama lima hari, 22 - 26 Januari.

Simak obrolan Muda dengan Johannes tentang upayanya menyampaikan cerita tentang sudut pandang anak muda 18 tahun dalam melihat dunia dan realitas ya!

Jelaskan dong pameran ini!

Pameran diadakan sekolah saya, Bandung Independent School. Saya sendiri mengambil mata pelajaran seni dan selama belajar dua tahun, harus menghasilkan artwork yang pada akhirnya dijadikan pameran Visual Art Exhibition ini. Ini pameran gabungan dari siswa yang mengambil kelas seni. Kami bersembilan, ada siswa warga Indonesia juga ekspatriat. Kuratornya guru dari sekolah kami. Namun, bagi saya ini pameran kedua, sebelumnya pernah ikut pameran di Institut Teknologi Bandung, tapi waktu itu painting saja.

Tema karya kamu?

Life and Death, kehidupan dan kematian. Saya pilih tema ini karena ketika kita lahir di dunia ini, kita juga pasti akan mati dan kematian itu inheren dengan kelahiran.

Berapa karya seni yang kamu tampilkan?

Total ada sepuluh karya seni yang saya kerjakan selama dua tahun. Setiap minggu, selama enam jam, kami ada kelas seni, selebihnya kami lakukan sendiri. Untuk menentukan tema kehidupan dan kematian yang saya pilih, butuh waktu, dua bulan. Riset bahan untuk membuat karya seni pun sekitar tiga bulan, sisanya saya membuat karya seninya.

Dari proses ide sampai pembuatan kamu lakukan di sekolah?

Ide dan tema yang saya kerjakan di sekolah, membuatnya di workshop milik keluarga. Ini karena ada bahan kimia berbahaya yang saya gunakan, yaitu resin untuk membuat patungnya. Resin kalau terhirup bisa mengakibatkan kematian.

Pembuatan karya seni yang sulit, saya kerjakan di tahun pertama, sehingga tahun kedua sudah terbiasa dan tinggal menyelesaikan yang mudahnya saja.

Tantangan yang kamu hadapi?

Menurut saya waktu dua tahun untuk mengerjakan karya seni itu sangat kurang. Proses produksi tidak sekali jadi. Saya harus mencoba beberapa kali menggunakan material resin dan serat kaca untuk patung-patungnya.

Apa yang ingin disampaikan dari karya seni kamu?

Realitas sosial, seperti salah satu karya saya yang menampilkan wujud serupa uang yang kemudian masuk ke dalam mesin, kemudian keluarnya berbentuk otak, tapi jadi mobil dan barang-barang mewah.

Saya mengilustrasikan mengenai dunia pendidikan, nanti setelah lulus, otak kita sudah terbentuk. Jadi, saya ingin memperlihatkan realitas sosial. Misalnya, salah satu karya yang menampilkan sosok perempuan dengan tampilan seperti kuburan. Itu sengaja karena setelah research pemakai narkoba seumuran saya itu kebanyakan perempuan. Kawat-kawat serta penggambaran kuburan itu mengilustrasikan kematian.

Karya yang paling berkesan buat kamu secara personal?

Karya yang berbentuk tiga tengkorak yang saya buat dengan resin dan serat kaca. Saya membuatnya pertama kali dengan mencetak pakai tanah liat, kemudian baru menggunakan bahan-bahan tadi. Buatnya paling lama, sekitar tiga bulan.

Kenapa banyak tengkorak di setiap karya kamu?

Karena dibutuhkan satu objek yang bisa menyatukan semuanya dan akhirnya saya memilik tengkorak. Selain itu, saya menggunakan ikon tengkorak untuk mengekspresikan ide, karena tengkorak memiliki pesan kuat dari kematian.

Masih 18 tahun tapi ide kamu sebegitu jauh, ceritakan dong perjalanan kreatifnya?

Karena saya juga ada rasa takut, makanya terpikir kehidupan dan kematian. Karya ini juga merupakan cara melihat dunia. Saya hidup dalam komunitas yang mempunyai latar belakang berbeda.

Melalui karya ini, ingin menunjukkannya, seperti pada salah satu karya saya, di sana ada banyak orang dengan kostum berbeda, menggambarkan perbedaan berbagai negara. Namun, saya pakaikan masker tengkorak untuk menunjukkan bahwa setiap orang di bumi sebenarnya berasal dari asal yang sama, dan perbedaan tumbuh karena kita hidup di lingkungan dan masyarakat beragam.

Harapan kamu terhadap dunia seni, khususnya terkait anak muda?

Jarang anak SMA dapat tempat untuk mengekspresikan diri sehingga saya harap lebih banyak anak muda yang punya kesempatan melakukan kegiatan seperti ini, khususnya anak-anak SMA seperti saya. Kegiatan seni untuk anak muda, harus lebih banyak diperhatikan. (M-1)

Dila Rizky Anisa, Jurusan Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar