Pesona

Semarak dalam Konsep Yin Yang

Ahad, 12 February 2017 07:45 WIB Penulis: Siti Retno Wulamdari

MI/ADAM DWI

DETAIL lipatan di bagian kedua sisi rok telah memberikan kesan unik pada gaun hitam tanpa lengan itu. Namun, kesan itu jadi makin sofistikasi dengan potongan-potongan kain putih yang dirangkai menyerupai juntaian bunga yang muncul dari samping pinggang. Hasilnya ialah sebuah gaun yang modern, elegan, dan penuh karakter.

Gaun itu menjadi bagian koleksi terbaru Barli Asmara yang diperagakan dalam Indonesia Fashion Week 2017. Warna hitam serta detail mirip juntaian bunga merepresentasikan tema Black orchid fervor yang diusungnya.

Set busana lainnya dalam koleksi itu juga sejurus gaun hitam tadi. Yakni berpotongan clean, modern, tetapi juga elegan dan feminin, di antaranya jumpsuit dengan celana ekstra panjang atau dengan jubah sepinggang.

Barli juga mengeluarkan gaun-gaun panjang yang longgar dan berlengan asimetris maupun gaun mermaid. Jika tidak polos berwarna hitam, ia memilih warna putih polos. Sementara itu, detail mirip juntaian bunga ada yang dimunculkan dalam warna senada maupun kontras tetapi juga hanya dalam dua pilihan, hitam atau putih. Meski begitu, kesan yang muncul tetap indah karena menggunakan konsep potongan tiga dimensi (3D).

"Warna hitam dan putih juga menyiratkan keseimbangan hidup, seperti yin dan yang, plus dan minus, juga x dan y. Segala sesuatu harus dikerjakan secara positif, sedangkan untuk siluetnya aku padukan dengan gaya bangunan yang juga berkarakter," kata Barli di panggung IFW 2017, Senin (30/1).

Di sisi lain, mereka yang akrab dengan karya Barli mungkin sedikit heran. Koleksi kali ini tampak nihil detail payet dan batuan berkilau yang biasanya berlimpah di koleksinya. Barli menjelaskan tampilan lebih clean kali ini sejurus dengan konsep tata rias minimalis dari brand Wardah.

Malik Moestaram juga mengangkat kecantikan bunga. Namun, ia mengambil inspirasi dari bunga liar yang tumbuh pada bangunan-bangunan tua.

Pada koleksinya ini, detail payet dan bunga sangat berlimpah. Namun, tampilan totalnya tetap manis dan tidak berlebihan karena ia memilih palet warna lembut seperti pastel.

Bahan ramah lingkungan

Koleksi menrik juga hadir dari Ria Miranda. Desainer yang memiliki ciri khas motif unik ini untuk kesempatan tersebut menampilkan motif topografi di bumi.

Pada beberapa busananya, motif itu dibuat seperti tampilan bumi yang berputar. Garis potong yang diberikan pada koleksi kali ini juga terbilang tidak terlalu feminin dan cukup nyaman dikenakan untuk perempuan yang gemar bepergian. Seperti celana pallazo, celana kulot, serta rok dengan potongan lebar.

"Yang baru, tahun ini aku menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan buatan Indonesia, katun. Untuk menggunakan bahan tradisional masih agak kesulitan dalam menerapkan prinsip ramah lingkungannya," tukas Ria.

Sementara itu, Mel Ahyar menghadirkan tema Pata runa, yang berarti berteman dengan banyak orang. Tema itu juga menggambarkan kehidupan Peru yang sangat menyentuh terutama keramahan orang-orangnya. Mel mewujudkannya dengan material tenun yang dipadu motif garis. Ia juga memasukkan detail rumbai hingga menambah kesan tribal. (M-3)

Komentar