Khazanah

Festival Tangkap Cacing Bau Nyale

Ahad, 12 February 2017 07:00 WIB Penulis: Yusuf Riaman

MI/YUSUF RIAMAN

SEKITAR 150 ribu orang diperkirakan bakal tumpah ruah di sepanjang Pantai Seger dan Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada event Festival Pesona Bau Nyale yang pada tahun ini puncaknya akan berlangsung 16 dan 17 Februari atau setiap tanggal 20 pada bulan ke-10 berdasarkan penanggalan masyarakat Sasak.

Bau Nyale merupakan tradisi masyarakat Sasak, Lombok, yang telah berlangsung selama ratusan tahun lalu. Tidak terkecuali masyarakat Lombok, wisatawan domestik, bahkan mancanegara kerap terlibat berbaur masuk ke air laut di pantai untuk menangkap nyale.

Bau dalam bahasa Sasak berarti tangkap dan nyale adalah jenis cacing laut yang hidup dalam lubang-lubang karang di laut, dan hanya keluar di tepi pantai pada waktu-waktu tertentu. Jadi, Bau Nyale adalah menangkap nyale dan ini biasanya berlangsung pada Februari seperti tahun ini.

Selama ini nyale dengan nama Latin Eunice fucata disebut juga dengan cacing palolo, biasanya muncul di 16 titik sepanjang pantai selatan Kabupaten Lombok Tengah. Namun, yang paling ramai dikunjungi ialah pantai Kuta dan pantai Seger pusat lokasi Festival Pesona Bau Nyale.

Penangkapan nyale berlangsung mulai pukul 04.00 Wita hingga pagi hari. Berdasarkan legenda, nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika, seorang wanita cantik putri Raja yang kemudian memilih menceburkan diri ke laut demi menghindari pertumpahan darah akibat banyaknya laki-laki yang hendak mempersunting dirinya, sedangkan dia tidak ingin mengecewakan siapa pun di antara pangeran yang datang dan hendak memperistrikannya.

Adu kekuatan

Sebelum Putri Mandalika menceburkan diri ke laut, terlebih dahulu dia meminta persetujuan keluarga kerajaan untuk mengadu kekuatan para pangeran di sebuah arena pertarungan berupa Presean. Siapa yang menang di pertarungan Presean itulah yang berhak mempersunting sang Putri (Presean sekarang menjadi bagian dari atraksi event Bau Nyale).

Di sanalah justru pertumparahan darah nyaris terjadi sehingga Putri Mandalika memutuskan untuk tidak menerima lamaran dari semua pangeran dan ia meminta waktu untuk berpikir. Dalam kegalauan, sang Putri bersemedi kemudian mendapat wangsit agar dia mengorbankan jiwa dan raganya hanya demi rakyat.

Dari wangsit yang diterima sang Putri kemudian mengundang semua pangeran dan seluruh masyarakat Lombok untuk datang pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak ke Pantai Seger, Kuta Lombok. Pada saat itulah Putri Mandalika melompat menceburkan diri ke laut.
Sejak nyebur ke laut, sang Putri Mandalika tidak pernah muncul kembali ke permukaan, justru yang nongol adalah cacing laut yang kemudian diyakini sebagai jelmaan dari Putri Mandalika.

Penduduk Lombok meyakini bahwa nyale bukanlah cacing laut biasa, melainkan makhluk jelmaan yang akan memberikan kemakmuran bagi yang memercayai dan menghormatinya. Karena itu, jika nyale banyak bermunculan diyakini pertanda kemakmuran. Hasil tangkapan nyale biasanya masyarakat menaburkan di sawah, selain juga dimasak untuk dijadikan lauk berupa pepes, sambal nyale, hingga masakan bersantan.

Nama Putri Mandalika hingga saat ini terus melekat di benak masyarakat Lombok. Tradisi Bau Nyale pun kemudian menjadi salah satu event pariwisata NTB yang dianggap cukup potensial dikembangkan karena memiliki daya tarik bagi wisatawan.

Tidak mengherankan, pada setiap event ritual Bau Nyale, sepanjang Pantai Seger, Kuta, hingga Selong Belanak, Pantai Awang, Aan, Gerupuk, Mawun, Mawi, dan banyak titik lainnya dipadati lautan manusia.

Di Pantai Seger yang berlokasi di sisi kiri hotel Novotel, kawasan Kuta saat ini telah dibangun patung replika Putri Mandalika. Pantai yang memiliki pasir putih berbulir bagai merica ini memiliki panorama yang begitu indah. Di lokasi inilah pusat dari Festival Pesona Bau Nyale dilaksanakan setiap tahun.

Wisata budaya

Tradisi ini menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang menyukai wisata budaya. Namun, karena lokasinya yang sangat strategis, yakni panorama pantai yang begitu indah nan eksotis sehingga menjadi suatu perpaduaan antara wisata budaya dan alam atau pantai.

Kepala Dinas Pariwisata NTB H Lalu Moh Faozal mengatakan Bau Nyale merupakan salah satu di antara 10 event yang selama menjadi prioritas. "Kami berharap melalui event ini bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke daerah ini," ujar Faozal.

Kegiatan Bau Nyale yang tahun ini kemudian dikemas dengan branding Festival Pesona Bau Nyale berlangsung selama satu bulan penuh, diyakini dapat mendongkrak kunjungan wisatawan ke NTB yang pada tahun ini ditargetkan 3,5 juta.

Berbagai kegiatan rangkaian dari Festival Pesona Bau Nyale di antaranya parade budaya, pemilihan Putri Mandalika, atraksi seni budaya Presean, festival cilokaq, tapak tilas Bau Nyale, belancaran, betandak atau bekayak, photography contest, surving, volley beach, dan kampung kuliner.

Kegiatan yang berlangsung selama sebulan penuh itu praktis merupakan saat yang ditunggu-tunggu para pelaku pariwisata baik hotel, restoran terutama yang ada di sekitar Kuta. Jauh-jauh hari hotel-hotel di sana sudah dipesan wisatawan untuk menyaksikan event Festival Pesona Bau Nyale. (M-2)

Komentar