Tifa

Februari Patah Hati

Ahad, 12 February 2017 06:45 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

Lalu lalang orang tidak membuatnya bergerak dari kursinya. Ia tetap duduk dengan tenang menghadap sebuah meja. Berbusana merah, Nia Gautama melekatkan pandang pada benda-benda di atas meja. Sebuah terakota berbentuk hati serta bertangkai-tangkai bunga mawar merah bertenang pula di atas meja.

Tiba pada waktunya, ia lalu mengeluarkan lipstik sekaligus cermin kecil. Tenang pula ia menyapu bibir dengan ujung lipstik.
Suasana tenang itu tidak bertahan lama. Sebab yang terjadi berikutnya wajah Nia berubah memerah. Habis sudah kesabaran dalam diam. Seolah melepas semua gejolak amarah yang tersembunyi di balik tenang. Awalnya, ia meremas semua mawar. Mengubah kuncup bunga indah itu menjadi lungsut dan remah. Hingga ia berdiri dan menghancurkan terkota berbentuk hati.

Prakkk!!!! Hati terpecah muncullah happiness dan sorrow. Dua kata itulah yang ternyata tertulis dalam kertas yang dibungkus terakota berbentuk hati.

Itulah aksi performatif Nia Gautama kala membuka pameran Broken Heart Gallery di Atrium Plaza Indonesia Jakarta pada 9 Februari 2017. Pameran itu berada segaris dengan tema besar Love Philosophy yang digelar oleh Plaza Indonesia. Rencananya, pameran Broken Heart Gallery digelar sampai 28 Februari 2017.

Dikuratori Aisha Habir dan Rega Ayundya, Broken Heart Gallery menampilkan karya 14 seniman. Di antaranya Ika Vantiani, Wickana Laksmi Dewi, Ayu Dila Martina, Muhammad Taufiq (EMTE), Evelyn Pritt, Abimantra Pradhana, Sekar Puti, Varsam Kurnia, Monica Hapsari, Resatio Adi Putra, Rebellionik, Diela Maharanie, Muchlis Fachri, dan Adi Sundoro.

Momen patah hati

Februari dikenal sebagai bulan ketika cinta dirayakan. Apapun itu. Bukan hanya indahnya cinta, tetapi juga termasuk momen patah hati. Itulah filosofi cinta.

"Broken itu sesuatu yang pecah patah. Itu berhubungan dengan rasa, dengan hati. Kita tidak akan merasakan patah hati kalau kita tidak pernah merasakan cinta," ujar Nia ketika menjelaskan konsep pertunjukannya.

Pertanyaan tentang esensi dan kesejatian menjadi pertanyaan awal untuk memahami cinta. Menurut Nia Gautama, sakit jalan untuk kebahagiaan yang sebenarnya. Hidup akan selalu seperti itu, kebahagiaan dan kesedihan tidak pernah berhenti. Keduanya saling melengkapi dan datang. Itulah esensi cinta. "Antara kebahagiaan dan kesedihan itu hanya terpisah selembar benang saja. Jadi judul dari performance ini Sehelai Benang Saja," terangnya.

Broken Heart Gallery menampilkan karya 14 seniman muda yang menginterpretasi patah hati dengan cara masing-masing. Kurator pameran ini Aisfea Habir dan Rega Ayundya.

Broken Heart Gallery mengajak untuk selalu percaya ada hari esok yang lebih baik. Selalu percaya ketika mengalami patah hati bukan akhir dari segalanya. Karena menemukan cinta sejati akan jauh lebih indah ketika bisa melewati proses kesakitan. Kuncinya kerelaan. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar