Tifa

Dukungan tidak Kenal Lelah

Ahad, 12 February 2017 06:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

DOK. BAKTI BUDAYA DJARUM FOUNDATION

GAJAH itu rebah tanpa kepala. Masih terlihat jelas warna merah di bagian leher. Pertanda ia baru saja selesai dipenggal. Satu lagi hewan yang juga kehilangan anggota tubuhnya. Berbeda dengan gajah yang kehilangan kepala. Si harimau tak lagi berbadan, hanya tertinggal keempat kaki dengan buntut dan kepala.

Singa dan gajah, keduanya seolah sedang melakukan pengorbanan. Ada satu hewan lagi yang berdiri di samping jasad keduanya. Namun sama sekali berbeda, hewan ini memiliki bagian dari anggota tubuh dari hewan yang dipotong.

Seolah bongkar-pasang, setiap hewan dipotong beberapa anggota tubuhnya. Lalu dari potongan itu, diwujudkanlah satu hewan baru. Berkepala gajah lengkap dengan belalai dan gading, tetapi berbadan harimau. Siapa sangka, lukisan berjudul Pengorbanan itu ialah salah satu karya dari seorang bocah penyandang disabilitas yang masih berusia 12 tahun.

Kali itu, Anfield Wibowo sedang gelar karya di Galeri Cipta 3 Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 3-12 Februari 2017. Selain itu, masih ada 36 karya Anfield yang turut dalam helatan bertajuk Anfiled; Rentang Masa. Meski demikian, sejumlah karya itu masih terhitung sedikit jika dibandingkan dengan karyanya yang mencapai 250 pada periode 2014-2016.

Terlahir dengan keterbatasan

Terlahir dengan keterbatasan, bukan berarti menutup kelebihan dari sisi yang berbeda. Namun ternyata, keterbatasan itu seolah membuka pintu lain. Benediktus Anfield Bagus Wibowo yang terlahir pada 19 November 2004 itu mempunyai keterbatasan tunarungu dan autisme.

"Keterbatasan ini seolah mengantar Anfield ke dimensi yang berbeda yang terus didalami bahkan menjadi hal keseharian seorang Anfield," begitu terang Maya Sujatmiko dalam kuratorialnya.

Beruntung, Donny Mardonius dan Veronica Christiyani selalu mendampingi Anfield dari mulai masa awal berkenalan dengan dunia gambar. Mereka berdua saling mendukung untuk sang buah hati.

Bakat Anfield sudah terlihat sejak usia yang sangat dini, yaitu tiga tahun. Anfield lebih berminat dengan alat tulis daripada mainan anak. Anfield mulai dengan menghasilkan goresan-goresan tegas dan mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi. Salah satunya ialah dengan menarik garis lurus tanpa memerlukan penghapus. Usia 3 sampai 6 tahun adalah masa Anfied berkenalan dengan alat tulis seperti crayon dan cat poster.

Pada pameran itu, Maya Sujatmiko membagi beberapa tema yang menjadi perhatian Anfield. Pertama adalah tema religi. Anfield rajin melihat Alkitab bergambar yang diberikan orangtuanya.

Seolah membekas dalam ingatan, Anfield lalu menerjemahkan dalam lukisannya. Setidaknya terdapat beberapa karya yang bertemakan religi. Seperti kisah penyaliban Yesus di Golgota, Anfield menuangkan cerita itu dalam komposisi warna yang bisa menciptakan suasana emosional dan mencekam. Terdapat beberapa judul karya yang bertemakan itu, seperti Jumat Agung (2014), The Other Side (2014), Ratapan sang Ibu (2015), dan Gemuruh Golgota (2014).

Kisah tentang Adam dan Hawa pun tak luput dari perhatian Anfield. Bahkan ia membuat enam serial lukisan tentang kisah Ibu dan Bapak umat manusia itu. Seperti judul Menggiurkan (2016), The Jungle (2016), Temptation (2016), The Forbidden Fruits (2016), Teguran Tuhan (2016), Terusir (2016), dan Penyesalan (2016).

Berikutnya, yang menjadi perhatian Anfileld juga tentang tema keseharian. Tema ini mencerminkan Anfield dalam merespons keseharian dan dalam kesunyian. Seolah Anfield ingin bercerita atas interaksi emosinya terhadap apa yang dilihat dan dirasa.

Seperti pada karya dengan objek gajah. Ada saatnya selama beberapa bulan Anfield seolah ingin mengekspresikan kekagumannya terhadap gajah. Gajah yang dilukiskan adalah hewan yang kuat, perkasa, namun jenaka dan baik hati.

"Terlihat jelas bagaimana paduan goresan dan permainan warna yang kontras dah berani memberikan kesan hidup dan motion atau bergerak," begitu menurut Maya.

Tema lain dalam keseharian yang tidak luput dari pengamatan Anfield ialah bangunan atau arsitektur. Figur juga merupakan objek yang menarik perhatian Anfield.

Menyukai animasi

Anfield menyukai animasi berupa robot, hewan seperti Tom and Jerry, tetapi Anfield lebih tertarik untuk melukis figur princess dengan keindahan pakaian juga kecantikan yang menawan seperti Snow White dan Cinderella. Bisa jadi itu adalah masa Anfield memasuki masa prapuber atau praremaja. Anfield mulai mengagumi figur wanita.

Ketiga, adalah tema landscape. Dalam tema itu, Anfield membuat banyak gambaran tentang siang, malam, hujan, langit mendung, pepohonan, dan tanaman dengan beberapa warna.

Rupanya, ketiga tema tersebut mempunyai periodisasi tersendiri. Begitu menurut orangtua Anfield, Donny Mardonius. "Jadi selama 5 tahun Anfield melukis diatas kanvas. Saya membaginya menjadi 3 periode. Periode pertama, dia umur 7-8 tahun. Dia lebih banyak menggambar hewan. Periode kedua, dia Bible Stories. Periode ketiga, landscape," terang Donny.

Karya-karya Anfiled menunjukkan betapa bocah itu mampu merekam bentuk sekelilingnya, lalu mengolah dalam imajinasinya, dan menuangkannya dalam kanvas. Jadilah kanvas yang seolah punya dimensi tersendiri dan rasa visual yang sungguh indah.
Jangan terkejut ketika melihat karya Anfield, rasa takjub dan kagum jika itu dibuat tangan seorang bocah.

Keterbatasan adalah sebuah keberkahan. Anfield beruntung mempunyai orangtua yang selalu mendukungnya untuk menggembangkan minat dan bakat. Sebaliknya, orangtua Anfield beruntung pula diberkahi cinta yang tiada tara untuk sang buah hati. Sehingga bisa melihat minat yang tinggi dan kemudian memberikan dukungan penuh terhadap kemauan Anfield. Jadilah ia menjadi seperti saat ini, seorang bocah 12 tahun yang telah mampu menggelar pameran tunggal. (M-2)

Komentar