Jeda

Mereka yang Penuh Semangat

Ahad, 12 February 2017 06:15 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH MARZUQI

HARI masih pagi, ketika April Syar, 45, mulai bersiap. Seusai melengkapi keperluan pribadi, ia bergegas mengambil ponsel pintar miliknya. Ia lalu memesan ojek via aplikasi daring. Ia tak memakai kendaraan sendiri, sebab kondisi tidak memungkinkan untuk mengendarai kendaraan di jalanan. Kedua matanya mempunyai masalah dengan penglihatan. Ia seorang penyandang disabilitas.

Ia bertolak dari kediamannya di kawasan Sunter Jaya. Tak butuh waktu lama untuk mencapai lokasi tujuannya. Sekitar pukul 07.00 WIB, ia sudah berada di KPU Kota Jakarta Utara. Ia datang lebih awal, padahal acara baru bermula 2 jam kemudian sekitar pukul 09.00 WIB.

April Syar ialah salah seorang relawan demokrasi di KPU Kota Jakarta Utara. Di tengah keterbatasan penglihatan, ia tidak berputus semangat untuk berturut dalam pesta demokarasi yang bakal dihelat pada 15 Februari mendatang. Bahkan, April dipercaya menjadi koordinator simulasi pemungutan dan penghitungan suara di tempat penghitungan suara yang diadakan KPU Kota Jakarta Utara, Rabu (8/2).

"Ya kebetulan saya koordinator. Jadi saya kebetulan relawan demokrasi KPU Kota Jakarta Utara. Hari ini saya dipercaya untuk mengoordinasi acara ini," terangnya.

Sesampainya di sana, April tidak lantas berpangku tangan. Sebagai koordinator, ia memastikan semua yang diperlukan dalam acara itu terpenuhi. Segera ia mengambil ponsel miliknya dan mulai memantau kehadiran peserta. Ia juga memantau kesiapan lokasi dan segala perlengkapannya.

"Saya meninjau dan memantau kegiatan semua panitia di sini, mulai persiapan bangku peserta sampai ke TPS juga. Itu saya memantau tadi. Saya mengoordinasi dari semua peserta, ada yang masih OTW (dalam perjalanan), ada yang sudah sampai sini, ada yang masih di rumah," imbuhnya.

Semangat itu juga ia tularkan kepada sesama penyandang disabilitas. Terdapat 90 penyandang disabilitas berada di bawah koordinasi April. "Untuk hari ini kurang lebih ada 35 penyandang tunanetra, 25 tunarungu, 20 tunagrahita, terus 10 tunadaksa. Jadi 90 orang," terangnya.

Semua itu dilakukan April untuk mendorong dan mendukung para penyandang disabilitas agar bisa turut dalam pesta demokrasi. April memang hanya berperan untuk mengawal para penyandang disabilitas sampai pada simulasi. Pada hari pemilihan pun, April juga tidak menjadi bagian dari panitia yang bertugas di TPS.

Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Masih ada yang bisa dilakukan agar para penyandang disabilitas tetap bisa berturut, yakni dengan memastikan mereka mendapat kesempatan dan hak yang sama seperti warga lainnya.

"Jadi artinya memberi, mencarikan waktu dan kesempatan untuk mereka, untuk hak pilih mereka, serta untuk memberikan hak dan kesempatan yang sama untuk penyandang disabilitas Jakarta Utara," tegasnya.

April mengawal para penyandang disabilitas dengan menggunakan lewat online saja. Ia membuat formulir dalam format SMS untuk para penyandang disabilitas ketika mereka berada di TPS. "Jadi saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan kayak semacam laporan tertulis apa yang mereka alami di TPS masing-masing," lanjutnya.

Semangat berdemokrasi rupanya telah sedemikian kuat dalam diri April. Ia telah berperan aktif dalam pesta demokrasi.
"Saya mulai aktif di pemilihan itu pada 2004. Sebenarnya sejak 1999 saya sudah aktif, tapi kan suara kita belum banyak didengar," ungkapnya.

April ialah sedikit kisah dari orang-orang yang mendedikasikan diri untuk demokrasi. Tak cuma berbincang tentang demokrasi, ia merelakan dirinya berpeluh untuk pesta rakyat. Selain April, masih ada orang-orang dengan semangat pesta yang cukup tinggi.

Mereka rela bekerja lebih dari waktu normal untuk memastikan pesta demokrasi berjalan sebagaimana mestinya agar pesta ini bukan hanya menjadi ajang yang asal-asalan. Mereka ialah para panitia pemungutan suara, baik dari level TPS maupun KPU.

Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK) Tambora, misalnya. Mereka melakukan sosialisasi dan bimbingan hampir setiap malam untuk mendatangi satu per satu Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Hampir tiap malam mereka berkeliling untuk menyosialisasikan tata cara pemilihan.

"Kami mengadakan simulasi sama teman-taman sekaligus bimbingan teknis pendalaman. Jadi setiap malam, ada," terang anggota PPK Tambora Wahyu Hidayat. "Makanya saya berpikir, teman-teman sungguh tabah menghadapi tugas ini," tegasnya.

Bukan cerita baru ketika mereka harus bergadang untuk menyelesaikan tugas. Demi sebuah pesta rakyat yang bermanfaat untuk bangsa, mereka rela melakukan itu. Tak jarang mereka bekerja sampai larut malam, bahkan sampai pula pukul 03.00.
"Kalau lembur jangan ditanya, ya. Itu sudah jadi bagian dari tugas kita," terang anggota PPS Kelurahan Sukabumi Utara Nana Dahliana, 42.

"Pukul 02.30, kadang pukul 03.00. Sampai kita kadang nginep di kelurahan," imbuhnya. Nana mengakui, dengan ritme kerja yang sedemikian padat, ia tetap menikmati tugas itu. Selain itu, Nana merasa sangat nyaman dengan orang-orang yang berada di timnya.

Perkara yang lebih penting ialah ketika hati telah terpanggil demi kepentingan bangsa dan negara. Honor bukan lagi masalah yang dianggap bisa mengganggu kerja. "Mungkin karena hati kita sudah terpanggil. Tapi asalkan kita suka. Senang aja, jalan," tegasnya.

Itu sekelumit kisah dari mereka yang tetap menjaga semangat demi sebuah pesta anak bangsa. Kepada mereka, layaklah disematkan terima kasih atas energi untuk demokrasi negeri ini. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar