Jeda

Bersiap Pesta Pilkada

Ahad, 12 February 2017 06:00 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

HANYA kurang beberapa hari lagi, pesta demokrasi bakal digelar. Sudah selayaknya pemilihan disambut dengan gegap gempita sebab ini ialah pesta rakyat sebenarnya. Ajang untuk masyarakat memilih yang paling baik di antara yang terbaik.

Selayaknya pesta, pesta demokrasi juga dirayakan sebagaimana mestinya. Berbagai persiapan telah dilakukan. Surat undangan telah disebar. Tinggal menunggu hari pelaksanaan. Foto mempelai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pun telah siap di surat suara, menunggu para pemilihnya.

Mereka yang bersiap tanpa kenal lelah untuk pesta rakyat ini patut diberi penghargaan setinggi-tingginya. Para panitia pemungutan suara di berbagai tingkatan telah berjuang keras untuk mewujudkan pilkada yang ideal.

Tak kenal lelah, mereka rela meluangkan waktu untuk mengurusi nasib bangsa. Lembur pun rela mereka lakonkan untuk menyukseskan helatan ini. Seperti di TPS Kelurahan Bukit Duri Jakarta Selaran, Tanah Sereal, dan Sukabumi Utara Jakarta Barat. Tak tanggung-tanggung, sampai pukul 3.00 dini hari pun mereka terkadang masih harus menyelesaikan tugas mereka. Sungguh pengorbanan yang begitu besar.

Para panitia tempat pemungutan suara pun rela menyumbangkan kemampuan mereka untuk menciptakan suasana yang nyaman. Seperti di tempat pemunggutan suara (TPS) di Kelurahan Sukabumi Utara, salah seorang panitia, Ansori, berencana menghias TPS dengan bunga-bunga. Ia berniat untuk menyumbangkan kemampuannya di bidang seni dekorasi demi mempercantik TPS-nya.

Menurutnya, sudah pembicaraan awal tentang ide untuk menghias TPS, tetapi belum sampai pada tahap pematangan karena harus melihat kondisi lapangan terlebih dahulu.

"Kemarin sih udah ngomong, tetapi belum ngomong yang terakhir kalinya. Belum pematanganlah. Kita masih mau ngobrol dulu," ujar Ansori, 39, dari TPS 10 Kelurahan Sukabumi Utara.

Menurutnya, proses menghias TPS bukan semata pekerjaan perorangan. Apalagi, tugas para panitia TPS juga bukan semata mengarap dekorasi. Lebih penting ialah memastikan kesiapan semua keperluan logistik pemilihan. "Mereka kan bukan pengganguran juga. Mereka punya pekerjaan. Mereka capek kan harus angkat-angkat kursi," tegasnya seusai mengikuti silaturahim dan pengarahan pilkada di kelurahan.

Cokelat valentine
Hal berbeda dilakukan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Karena pilkada serentak yang akan digelar pada 15 Februari berselang satu hari dari perayaan Valentine, cokelat juga dijadikan alat untuk meningkatkan partisipasi warga datang ke TPS.

"Caranya, kami menawarkan cokelat kepada pemilih agar bersedia datang ke TPS," kata anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, NTT, Novy Kana, Sabtu (11/2).
Novy yakin cokelat mampu menarik lebih banyak pemilih datang ke TPS di daerah itu. Hanya saja sampai saat ini baru dia yang mencetuskan ide bagi-bagi cokelat kepada pemilih. Dia berharap ada dermawan yang bersedia menyumbang cokelat sehingga seluruh warga yang datang bisa kebagian. Satu pemilih satu cokelat.

Menurutnya, ide kreatif seperti ini mestinya dilakukan juga oleh PPK dan Petugas Pemunggutan Suara (PPS). Jika setiap PPS mengeluarkan ide-ide kreatif, ia yakin banyak warga tertarik menyalurkan hak pilihnya.

Masyarakat Kampung Gunung Karikil, RT 04, 05, RW 07, Kelurahan Tuguraja, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, memanfaatkan lahan pekarangan rumah menjadi lokasi pemungutan suara. Persiapan menjelang pencoblosan pada 15 Februari 2017 tersebut dilakukan secara bergotong royong yang dilakukan oleh masyarakat, terutama menggunakan berbagai bahan yang ada, mulai baliho, bambu, dan papan.

Kepadatan penduduk terlihat dari banyaknya penduduk yang mendirikan rumah saling berhimpit satu sama lain hingga memasuki lokasi hanya bisa berjalan kaki dan menggunakan kendaraan roda dua meski harus saling mengalah. Aliran sungai dan jalan sempit sangat terasa bagi pemilik rumah tidak memiliki halaman luas dan masyarakat tetap berbaur untuk menjaga kondisinya tetap aman dan nyaman.

"Awalnya menggunakan toilet umum menjadi tempat pencoblosan pemilih mulai legislatif, wali kota, gubernur, dan presiden. Namun, karena lokasi tersebut digunakan untuk kebutuhan masyarakat seperti mandi, mencuci pakaian, minum, dan kakus, TPS beralih ke pekarangan rumah," kata Ketua RT sebagai anggota PPS, Ade Maman, 51.

Kesederhanaan masyarakat berada di Kampung Gunung Karikil tidak sama dengan masyarakat berada di kecamatan lainnya, terutama kepadatan tersebut sangat dirasakan semuanya mulai bangunan, lahan parkir motor sempit, parkir kendaraan roda empat tak memiliki, hingga seluruh masyarakat hanya bisa memanfaatkan toilet umum dalam kondisi mengantri.

"Alhamdulillah TPS sudah hampir selesai dilakukan, tetapi masih ada kekurangan, seperti kain penutup tiga kamar, spanduk selamat datang di TPS 23 dan seluruh anggota PPS akan menggunakan batik, bendo, sepatu, dan lainnya," jelasnya.

TPS bergerak
KPU Jepara memberikan pelayanan dan memenuhi hak warga, lanjut Haidar Fitri, KPU juga telah menyiapkan 66 TPS bergerak di beberapa rumah sakit yang nantinya mulai dilakukan pukul 12.00-13.00 WIB seperti di RSUD Kartini Jepara dan di RSI Sultan Hadlirin bakal dilayani delapan TPS terdekat, di RSU Graha Husada akan dilayani tiga TPS dan di RSUD Rehatta Keling dilayani tujuh TPS.

"Sistem kerja TPS bergerak, yaitu 2 petugas KPPS ditambah satu petugas pengawas dan saksi setiap calon akan mendatangi pasien yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut," jelas Ketua KPUD Jepara Haidar Fitri. Semangat dan energi ternyata tak cuma para relawan demokrasi dan para panitia pemungutan suara. Para lurah di wilayah yang sedang mengadakan pilkada juga menampilkan hal yang sama.

Lurah Tanah Sereal Tambora, Jakarta Barat, Suharti, 47, misalnya, sejak bimbingan teknis pada Januari (27/1) lalu telah membuat maklumat untuk memberi hadiah pada tempat pemungutan suara terpilih.

Awalnya, ia prihatin dengan keberadaan tenda yang telah masuk ke anggaran TPS masing-masing. Namun, banyak di antara Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang belum mendapat tenda untuk TPS. "Ada uang sewa tenda, tapi pengalaman-pengalaman kemarin katanya sering kehabisan. Jadi ala kadarnya, pakai terpal, <i>diriin<p> bambu," terang Suharti.

Selain itu, ia juga menerapkan beberapa kriteria untuk menentukan TPS yang berhak mendapat hadiah. Pertama, adalah kesesuaian administratif pelaporan, termasuk penggunaan tenda. Kedua, tingkat partisipasi pemilih di TPS. Ketiga, keunikan dan keindahan TPS.

Untuk melakukan pemantauan, Suharti melibatkan pegawai kelurahan. Ia membagi setiap pegawai kelurahan meninjau 3 RW. "Semua pegawai hadir di TPS. Jadi, saya menggerakkan pegawai, 43 TPS di 15 RW. Jadi saya bagi, satu orang tiga RW," terangnya. (PO/AD/AS/M-2)

Komentar