Jendela Buku

Sang Pencari Tuhan

Sabtu, 11 February 2017 03:16 WIB Penulis: Usman Kansong

ERIC Weiner tak pernah melupakan pertanyaan menggelitik itu.

Ketika dirawat di rumah sakit, seorang perawat menanyainya, "Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?"

Weiner terpaku pertanyaan itu.

Hari-hari berikutnya, kehidupannya dipenuhi kegelisahan tak tertarakan.

Ditambah lagi, Sonya, anak perempuannya yang berusia lima tahun, sudah mulai bertanya-tanya tentang Tuhan.

Semua itu memaksa Weiner melakukan pencarian Tuhannya.

Ia menelusuri keberadaan Tuhan dengan mengikuti ritual delapan agama di berbagai belahan dunia.

Ia lantas menuliskan pengalamannya dalam buku ini.

Menariknya, Eric tidak mencari Tuhan dalam ajaran agama mainstream.

Ia mencari-Nya dalam ajaran dan praktik agama 'alternatif'.

Ia mengeksplorasi delapan aliran non-mainstream itu melalui seleksi ketat.

Weiner pun berputar bersama para sufi di Turki, lantas bermeditasi di Tibet bersama Dalai Lama.

Kembali ke negaranya, Amerika Serikat (AS), ia mengabdi bersama kaum Fransiskan di sudut Kota New York, lantas bersenang-senang bersama para Raelian di Las Vegas.

Ia kemudian terbang ke Tiongkok, melatih chi-nya bersama para Tao.

Kembali lagi ke negaranya, ia melingkar bersama para penyihir Wicca dan kesurupan binatang bersama pengikut Syamanisme.

Pada akhirnya, sebagai seorang Yahudi, ia kembali merenungi jati dirinya pada ritual Kabbalah di Jerusalem.

Mengonstruksi Tuhan

Karena Weiner menjelajahi keberadaan Tuhan pada berbagai aliran agama di berbagai belahan dunia, pantaslah jika ia memakai judul Geography of Faith untuk buku ini.

Apakah Weiner menemukan Tuhan di tempat-tempat itu? Tentu saja.

Lebih dari sekadar menemukan, Weiner malah mengonstruksi Tuhan sebagaimana pengikut aliran-aliran agama non-mainstream itu mengonstruksi-Nya.

Sufisme mengonstruksi Tuhan itu cinta.

Buddhisme menggambarkan Tuhan itu kondisi pikiran.

Fransiskan membayangkan Tuhan itu pribadi.

Raelisme menyebut Tuhan itu nun jauh di luar sana. Taoisme mengatakan Tuhan itu bukanlah apa-apa.

Wicca menjelaskan Tuhan itu ajaib.

Syamanisme mengibaratkan Tuhan itu seekor binatang.

Kabbalah menyimpulkan Tuhan itu rumit.

Wiener bahkan memiliki rekonstruksi sendiri atas Tuhan.

Ia menemukan dan merancang Tuhannya sendiri.

Ia menyebut Tuhan itu himpunan.

"Jadi, alih-alih mencari Tuhanku, aku harus menciptakan-Nya. Mungkin tepatnya bukan menciptakan. Merancang. Menghimpun. Dia harus berfondasi Yahudi, tetapi ditopang Buddha. Dia harus memiliki hati Sufi, kesederhanaan Tao, kebaikan hati Fransiskan, keriaan Raelian," tulis Weiener.

Begitulah Weiner mengonstruksi Tuhan sebagai sinkretis, himpunan dari berbagai sifat baik Tuhan yang dianut agama-agama yang dijelajahinya. Terang benderang Weiner hendak menegaskan bahwa Tuhan mahasegala hal yang baik-baik.

Membaca buku ini membuat kita berpikir: dari mana sesungguhnya kita, manusia, berasal; apa yang terjadi ketika kita mati kelak.

Dengan berpikir, kita tidak bersikap nrimo, menerima begitu saja, dalam beragama.

Bukankah beragama itu untuk mereka yang mau berpikir?

Pula, buku ini membawa kesadaran kita akan keragaman iman manusia.

Bahkan kita, sekurang-kurangnya pembaca Indonesia, menemukan agama yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya, yakni Raelian, Wicca, dan Syamanisme.

Tak ayal The Geography of Faith menyajikan perspektif tentang agama dengan gaya asyik, menghibur, dan menginspirasi, tatapi tetap serius, berbobot, dan penuh makna Tak ada kalimat percuma.

Maklum, Weiner, sang pencari Tuhan, ialah seorang wartawan kawakan.

(M-2)

____________________________

Judul buku: The Geography of Faith, Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat

Paling Religius di Dunia dari Tibet sampai Jerusalem

Penulis: Eric Weiner

Penerbit: Qanita, September 2016

Tebal : 497 halaman

Komentar