Jendela Buku

Bekal untuk Memajukan Negeri

Sabtu, 11 February 2017 03:01 WIB Penulis: Wnd/M-2

MELIHAT persoalan terkini dengan bahasa yang sederhana menjadi pembuka manis dalam buku berjudul Dinamika Menuju Indonesia 2045; Percikan Pemikiran Lemhannas.

Padahal, sejak pertama kali membaca judul yang tertera di sampul buku bernuansa merah putih, ada kekhawatiran akan bahasa yang rumit dan bergaya ilmiah, tetapi begitu membaca tulisan utama di bab pertama tentang ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, senyum langsung merekah.

Buku yang berisi kumpulan artikel pemikiran dari praktisi, akademisi, fellow, dan jajaran staf Lemhannas RI ini tidak membuat jenuh karena selalu dikaitkan isu terkini yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti pada persoalan transportasi berbasis aplikasi, yang sempat mencuat dan membuat beberapa pelaku ekonomi konvensional di bidang tersebut ketar-ketir.

Dituliskan oleh Fellow Lemhannas RI, Nety Nurda, dengan apik dan bahasa yang sederhana.

Memang sistem dan praktik ekonomi akan terus berkembang, diikuti kebutuhan dan keinginan manusia serta perkembangan global.

Salah satunya kegiatan ekonomi menggunakan teknologi online.

Dengan hal tersebut, segala kegiatan menjadi lebih mudah, murah, dan hemat tenaga.

Namun, Nety juga menekankan perkembangan tak selalu bebas dari masalah, perlu regulasi agar menciptakan keamanan dari segi transaksi maupun jaminan keamanan dan keadilan bagi semua pelaku ekonomi.

Proses tersebut nampaknya sudah terlewati karena proses perdagangan barang dan jasa atau yang disebut e-commerce kini tumbuh subur dan diminati masyarakat Indonesia.

Pro dan kontra yang masih kerap didengar perihal kegiatan ekonomi, aplikasi transportasi, kunci untuk bisa memberikan kesamaan hak dan keadilan ialah dengan kehadiran negara.

Ciptakan regulasi yang memberikan keadilan bagi setiap pelaku ekonomi baik online maupun non-online, serta mendorong tumbuh kembang dunia bisnis yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Harus bersinergi

Bukan hanya negara yang ditekankan dalam menghadapi dinamika di Indonesia, melainkan juga harus bersinergi dengan rakyat Indonesia.

Seperti pada bab dua, buah pemikiran tenaga profesional bidang kewaspadaan nasional, Putu Sastra Wingarta berjudul Berani yang Waspada.

Tulisan yang mengajak kita untuk mengingat kembali peristiwa bom Thamrin, mengisahkan keberanian masyarakat Indonesia dan perangkat negara yang bisa menuntaskan kejadian tersebut dalam kurun waktu empat jam.

Puluhan masyarakat sipil berteriak lantang, menyerukan agar tidak perlu takut dengan ancaman, pun halnya dengan Presiden Jokowi yang datang langsung ke tempat kejadian lalu meminta semua harus berani menghadapi keangkuhan ide para teroris yang tidak masuk akal.

Sikap berani tentu harus diimbangi dengan langkah-langkah waspada yang memadai.

Tidak hanya kesiagaan yang dimiliki aparat keamanan semata, tetapi juga menuntut kesiagaan setiap anak bangsa.

Dengan begitu, deteksi dini untuk menangkal hal-hal serupa akan lebih bisa dimaksimalkan.

Keberanian untuk melawan dapat dijadikan momentum yang sangat berharga untuk membangkitkan nasionalisme.

Di bab terakhir terdapat satu tulisan pemikiran yang merangkum segala persoalan di Tanah Air, dari mulai isu politik maupun ekonomi.

Penulis yang merupakan Guru Besar Universitas Indonesia, dan bekerja di Lemhanas RI, Budi Susilo Soepandji mengatakan masalah kebangsaan menjadi inti dari permasalahan-permasalahan yang ada.

Hanya saja, bahasan dan diskusi mengenai kebangsaan memang kerap kali tidak menjadi sesuatu yang populer.

Tantangannya kini ego sektoral dan ego kelompok menguat, sementara pemahaman kebangsaan generasi penerus cenderung pragmatis dan begitu cair.

Hal ini disebabkan saat ini sedang berhadapan dengan generasi Y dan generasi Z yang hidupnya lekat dengan dunia maya serta media sosial.

Namun, itu bisa menjadi solusi untuk pemahaman nilai-nilai kebangsaan ditransformasikan sesuai dengan karakteristik setiap generasi.

Esensi tak akan terpengaruh perubahan jaman karena semangat kebangsaan akan terus mengedepankan semangat kebersamaan dan kegotongroyongan, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu ditanamkan dalam program bela negara.

___________________________________________

Judul : Dinamika Menuju Indonesia 2045 ; Percikan Pemikiran

Lemhannas

Penerbit : MI Publishing

Penulis : Praktisi, Akademisi, Fellow, dan jajaran sataf di Lemhannas RI

Halaman : 276 halaman

Komentar