Surat Dari Seberang

Kisah Lama dari TIM dan ‘Piala Persahabatan’

Jum'at, 10 February 2017 09:11 WIB Penulis: Milto Seran

If kisses were water, I'd give you the ocean.

If hugs were leaves, I'd give you a forest.

If love were space, I'd give you a galaxy.

If friendship were life, I'd give you mine for free._NN

KADANG kamu merasa tersudutkan karena lingkungan menghendakinya. Tapi cinta dan mimpi-mimpimu janganlah pudar. Sungguh benar ungkapan ini, saat lingkunganmu tidak sehat, berjuanglah supaya pikiranmu tetap sehat dan janganlah kamu menyerah. Boleh-boleh saja sejenak kamu berhenti berlangkah, tapi jangan sampai mundur.

Pertengahan Oktober 2014, setelah visa ke Russia dinyatakan beres dan tiket pesawat ke Moscow sudah di tangan, saya masih memiliki beberapa hari di Jakarta untuk sekadar jalan-jalan ke Gramedia, mencari-cari edisi bahasa Indonesia “Adultery” karya Paulo Coelho, membaca lagi wawancara Juan Aryas dengan Paulo Coelho, lalu diajak mentor dan sahabat Endah Sulistianti ke acara perpisahan dengan Ibu Marie Elka Pangestu (Menteri Parekraf) di Taman Ismail Marzuki. Sungguh ini adalah pengalaman yang tak terlupakan.

Di TIM, di Teater Besar, di sana semuanya tersedia. Mulai dari konser musik, souvenir gratis hingga berbagai masakan tanah air yang bisa dicicipi di berbagai sudut. Mungkin kata “gratis” terasa berlebihan, tapi itu yang terorganisir dengan amat baik untuk semua undangan.

Malam itu untuk pertama kalinya saya berada di Teater Besar. Melihat berbagai pertunjukan yang menghibur hati, mendengar kata perpisahan dari Ibu Marie yang sedikit emosional, suara Sandi Sandhoro yang memukau dan semuanya mengalir bersama malam yang kian larut.

Di antara sekian banyak undangan, mayoritas di dekat kami adalah filmmakers, presenter, aktor dan masih banyak lagi seniman. Di antara mereka ada Alex Komang (semoga beristirahat dalam damai abadi) dan Desi Anwar.

“Ini salah satu finalis kita di Eagle Awards Metro TV tahun ini,” begitu Endah Sulistianti memperkenalkan saya pada Aleks Komang dan Desi Anwar. Langsung saja, tak mau lama-lama, saya minta pose bersama. Biar kelak bisa mengenang.

Ehhh ternyata benar, biar kelak bisa dikenang. Setelah setahun berada di Russia saya membaca kabar kepergian Alex Komang untuk selamanya.

Sungguh Tanah Air kehilangan seorang aktor yang hebat, seniman yang apa adanya. Pengalaman di TIM adalah pertemuan pertama dan terakhir dengan Alex Komang.

Saat itu di luar Teater Besar, kami bercerita, sambil menikmati suasana perpisahan dengan Ibu Menteri Parekraf yang belum lama ini ikut hadir di Grand Studio Metro TV, mulai dari Pitching Forum hingga acara Awarding Night, 11 Oktober 2014. Saat pertama kali bertemu ibu Marie, saya merasa bangga bukan main, sebab di akhir Pitching Forum EADC Metro TV, ia berbisik ringan, “Saya kenal baik subjek film kamu, Alfonsa Horeng. Kalau ke Flores nanti sampaikan salam untuknya.” Saya cuma tersenyum lebar menahan rasa bangga. Selain bangga karena tim kami dinyatakan lolos di tahap Pitching, saya bangga karena subjek film kami sudah tak asing di kalangan juri, tokoh-tokoh hebat ini.

Ibu Marie lalu berlangkah menuju peserta pitching lainnya dan menyalami mereka. Tiba-tiba berdiri di depan saya sosok Riri Riza. Sutradara kesohor berambut sedikit tak beraturan dan berkaca mata khas ini bikin saya kian bangga bisa berada di tempat ini. Ia juga berbisik, “Kamu dari Nita ya. Saya pernah di Nita. Di tempatnya Alfonsa.” Bangga lagi. Mungkin itu satu-satunya kata yang bisa menjelaskan perasaanku saat itu. Selain Riri Riza, di depan kami ada Leila S. Chudori – penulis dan kritikus film dari Tempo, juga Seno Gumira Adjidarma – penulis yang tidak asing lagi di mata para penikmat sastra di tanah air.

‘Piala Persahabatan’

Itu sekelumit kenangan dari Pitching Forum. Di samping saya ada sahabat Weldy Handoko. Juga ada dua teman yang sedang menunggu visa ke Austria, keduanya baru selesai belajar filsafat di STF Ledalero. Sama seperti saya yang selama ini cuma mendengar nama TIM dari Flores, tapi malam ini berada di antara seniman-seniman kesohor di lorong-lorong TIM, begitulah Igo Reldy dan Marjo. Keduanya baru pertama kali datang ke Jakarta belum lama ini dan malam ini ada di TIM. Mereka ikut menikmati kebaikan Endah Sulistianti yang menyediakan tiga undangan untuk kami.

Mengetahui bahwa keduanya dalam waktu dekat segera berangkat ke Austria, Weldy Handoko menyampaikan selamat kepada Igo dan Marjo. “Kalau kamu sering nonton acara Eagle Docseries di Metro TV, ini salah satu filmmaker yang cukup giat menghasilkan short documentaries untuk program itu,” singkat saja saya memperkenalkan Weldy Handoko untuk Igo dan Marjo. Mereka tersenyum kagum dan tak tahu mau bilang apa. Mungkin juga mereka jarang nonton Eagle Docseries atau tak pernah menikmati program yang jam tayangnya sudah larut malam untuk wilayah Indonesia Timur.

Saat menulis kembali kisah-kisah ringan ini, Igo dan Marjo sudah kembali ke Flores setelah menghabiskan dua tahun belajar bahasa dan budaya orang di Austria. Barangkali mereka sudah tak ingat lagi orang-orang yang kami jumpai di TIM. Barangkali mereka juga sudah lupa siapa yang mengundang kami hingga kami bisa berada di sana, bertemu orang-orang hebat penuh inspirasi, dan yang terutama barangkali kisah yang ditulis di sini cuma jalan sederhana untuk mengenang kebaikan seorang sahabat.

Setelah acara di TIM berakhir, dan masih banyak orang menikmati konser gratis di sana, saya dan kedua sahabat tadi, Igo dan Marjo, memutuskan untuk berangkat ke rumah kami di Matraman Raya. Di jalan pulang ke rumah, kami masih bercerita tentang semua yang baru saja kami alami dengan rasa bahagia. Kami bercerita di dalam taksi Blue Bird dengan bangga. Kapan lagi kami bisa berada di TIM? Siapa lagi yang bisa mengundang kami ke sana? Kami akan berada di negara yang berbeda. Saya sendiri akan segera terbang ke Russia, jauh dari Austria tentu saja.

Cuma kami tahu, masih ada beberapa hari lagi di Jakarta. Kami mungkin tidak diundang ke TIM dalam waktu dekat, tetapi sekiranya bisa jalan-jalan ke tempat lain, biar mimpi-mimpi kami yang sudah tumbuh tetap subur dan menemui harapan di jalan perwujudannya.

Terima kasih kaka Endah W. Sulistianti yang berkenan mengundang kami ke TIM. Terima kasih karena Alam Semesta berkenan mempertemukan kita di Eagle Awards. Setelah semuanya berlalu, saya tahu bahwa di Eagle Awards, lebih dari seorang mentor engkau adalah seorang sahabat yang tulus. Kami memang tidak membawa pulang piala Eagle setelah semuanya berakhir dengan Awarding Night, tapi kami membawa pulang “piala persahabatan”. Kami memang tidak tercatat sebagai pemenang di Eagle Awards 2014, tetapi kami sungguh tercatat sebagai sahabat dan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Eagle Institute Indonesia.

Suatu hari nanti, saat semuanya sudah tak lagi diingat dengan baik, seorang sahabat atau beberapa sahabat akan membantumu mengingat semuanya dengan baik. Sebab di hadapan waktu, manusia tak memiliki jalan pulang ke masa lalu, meski dalam sejarah ada sosok seperti Eliyahu Ben-Shaul Cohen yang memiliki kemampuan luar biasa perihal mengingat. Manusia memang hanya bisa mengingat dan mengenang dengan kemampuan terbatas.

Di situ, manusia mustahil mengundur waktu dan mengulang semua yang sudah lewat. Di situlah saya mengenang masa lalu, mengingat kebaikan dan hati seorang sahabat dengan menulis. Iya, dengan menulis, cara yang termudah dan termurah untuk menjadikan masa lalu tetap hangat dalam ingatan yang tak selalu segar. (X-2)

Komentar