Jeda

Jembatan Cinta di Sawah Kami

Ahad, 5 February 2017 05:30 WIB Penulis:

MI/ARYA MANGGALA

Angin cukup kencang menerpa lembah di kaki bukit Ardi Lawet, Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) pada Senin (30/1) lalu. Ami, 24, tak surut langkahnya meski sesekali rambut anak dalam gendongannya diterpa angin.

Perempuan itu berjalan melintasi jembatan bambu wulung atau disbeut pringwulung oleh masyarakat lokal. Ia yang ditemani adiknya, Fitri, 21, kemudian naik ke dalam bangunan yang lebih tinggi. Mereka berswafoto untuk mengabadikan kehadirannya dengan latar belakang Jembatan Cinta Pringwulung.

Disebut jembatan cinta karena bambu wulung (pringwulung) yang ditata sebagai jalan dibentuk lambang hati dengan panjang 280 meter. "Saya penasaran karena di Instagram dan Facebook lagi ramai. Makanya, saya bersama adik ke sini. Masak orang yang jauh-jauh sudah pada datang, saya enggak," kata Ami yang merupakan warga Kertanegara, Purbalingga.

Sesekali ia dan adiknya bergaya dengan latar belakang Jembatan Cinta Pringwulung. Di bagian tengah, ada air yang memancar, menambah keindahan jembatan di atas areal persawahan produktif itu. Sawah sengaja tetap ditanami karena justru menambah keeksotikan.

Selain jembatan cinta, juga ada jalan dari bambu wulung di atas areal persawahan, pun tempat istirahat dengan atap untuk berteduh.

"Jembatan ini dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dilewati pengunjung dengan aman. Kami sengaja membuatnya dengan bambu wulung karena jenisnya cukup kuat. Dinamakan pringwulung karena Panusupan dulu memiliki tempat sakral Pringwulung, titik temu sumber mata air, yakni Kali Kahuripan, Kali Mudal dan Kali Kraton. Kami ingin bambu wulung jadi kekhasan desa," ungkap Koordinator Pengelola Wisata Jembatan Cinta Panusupan Edi Wahyono.

Hasil gotong royong

Jembatan Cinta Pringwulung sesungguhnya belum terlalu lama dibangun. Awal pembangunannya pada 10 Februari 2016 dan dibuka mulai 1 April 2016. Lahan yang digunakan ialah tanah desa di Dusun Tipar dengan luas 1 hektare dengan biaya Rp15 juta.

Di sekitar tempat parkir, pengelola yang merupakan warga Dusun Tipar juga membuat taman berbentuk lambang cinta. Tanaman bunga dipilih yang warna warni agar foto yang dihasilkan para pelancong keren pun mereka yang terpikat datang, makin banyak.

Bahkan, di bagian depan juga ada bengkel kerajinan dari bambu. Bengkel kerajinan bambu sengaja dibuat di sini untuk melayani para wisatawan yang ingin membawa suvenir khas Desa Panusupan," ujar Edi.

Menurut Edi, dengan adanya Jembatan Cinta Pringwulung, ada efek domino yang muncul. Di antaranya, kerajinan bambu yang merupakan khas Desa Panusupan terangkat. "Tak hanya itu, cimplung singkong dan tempe, dua makanan khas desa ini juga meningkat produksinya," katanya.

Sebelumnya, perajin tempe hanya memproduksi tempe dengan bahan kedelai 2-3 kg, tetapi berkat aneka bentuk cinta yang dipamerkan, meningkat hingga 10 kg per hari. Demikian juga dengan produksi cimplung yang biasanya 1-2 kg, pada akhir pekan dapat menembus 5 kg.

Khusus di Jembatan Cinta Pringwulung, pendapatan sejak dibuka pada 1 April hingga akhir tahun 2016 mencapai Rp190 juta. Adapun pada Januari, kisaran pendapatannya Rp30 juta. Itu hanya perhitungan tiket masuk Rp5 ribu dan parkir Rp2 ribu untuk roda dua serta Rp5 ribu untuk roda empat, belum lagi rupiah yang didapat warga desa yang berjualan.

Gencar berpromosi
Terkenalnya Jembatan Cinta Pringwulung tidak bisa lepas dari promosi yang terus digeber Sutarno, tim promo dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ardi Mandala Giri Desa Panusupan.

"Kami mengelola medsos Intagram dan Facebook untuk promosi. Setelah Jembatan Cinta Pringwulung terkenal, kami kini memopulerkan rumah pohon Igir Wringin, air terjun mini Pingit Kembar, Taman Puncak Srimbar Jaya atau Puncak Sendaren serta lainnya. Kami beruntung karena meski desa kami terpencil, bahkan jaraknya dari Kota Purbalingga 40 km, potensi desa luar biasa," jelas Sutarno.

Semakin bergeliatnya wisata memacu pemuda bertahan di tanah kelahirannya. "Karena di Panusupan saja sudah banyak pekerjaan yang menanti. Sebab, objek wisata yang butuh pengelolaan dan pemikiran dalam pengembangannya cukup banyak," ujar Sutarno.

Sementara Ketua Pokdarwis Ardi Mandala Giri Desa Panusupan Yanto Supardi mengungkapkan agenda berikutnya, mengemas kearifan lokal dan kultur. "Panusupan memiliki Lengger Lanang, Rodat, Dayakan. Ada beberapa kesenian yang nyaris punah. Namun, seiring dengan perkembangan wisata di Panusupan, mereka dirangkul menghibur para wisatawan yang datang. Secara otomatis, kesenian juga tetap dipertahankan dan dilestarikan," ungkap Yanto. Selama 2016, setidaknya 120 ribu pengunjung yang datang ke Panusupan dan menggulirkan transaksi sekitar Rp1 miliar.

Inisiatif di Curug Jenggala

Inisiatif serupa juga terjadi di Desa Ketenger, Banyumas. Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita mengembangkan wisata alam Curug Jenggala. Pada September 2016 lalu, pemuda desa yang tergabung dalam LMDH Gempita dengan hanya bermodal Rp750 ribu mulai menggagas wisata alam.

Lokasinya memang agak terpencil karena dari rumah warga desa paling akhir di Dusun Kalipagu, masih harus berjalan melewati jalan setapak sekitar 2 km. Sebetulnya sudah ada jalan setapak, tetapi masih ada sejumlah pepohonan yang menghalangi sehingga perlu dipinggirkan.

Perjalanan sepanjang 2 km tersebut sebetulnya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau dengan jasa ojek. Namun, lebih asyik memilih jalan kaki.

Meski jalannya menanjak, lelahnya tidak terlalu terasa karena di sisi kanan kiri terlihat pemandangan sawah dan hutan yang asri. Kalau lelah, bisa istirahat di sepanjang jalan menuju Curug Jenggala. Apalagi, ada warung-warung kecil yang dibuka oleh warga sekitar dengan menjajakan minuman dan makanan.

Sekitar 20-30 menit perjalanan, bakal terdengar suara air yang menderu. Pantas saja, karena dari papan petunjuk jalan terlihat kalau Curug Jenggala hanya tinggal 50 meter lagi. Begitu sampai di kawasan Curug Jenggala, air terlihat jatuh seperti embun pagi. Cipratan air itu berasal dari Curug Jenggala yang memiliki tiga titik air terjun, dan yang paling besar berada di tengah. Ketinggian air terjun Jenggala mencapai 30 meter.

Di sinilah peran para pemuda LMDH Kalipagu sangat nyata. Mereka membuat semacam gardu pandang dengan ketinggian sekitar 2 meter. Tempat itu digunakan untuk memotret air terjun dan tempat swafoto yang berbentuk hati atau lambang cinta. Bagi yang ingin mandi di air terjun, bisa ambil jalan setapak untuk turun ke bawah. Namun, perlu waspada karena airnya dingin dan cukup deras.

Dengan membuat akses jalan agar lebih mudah menjangkau Curug Jenggala. Selain itu, kami menambah gardu pandang di bagian depan curug pada dataran yang lebih tinggi sebagai tempat untuk mengambil gambar. Sedangkan di depannya ada papan dari kayu yang ditata berbentuk hati. Kalau mau selfie yang di situ. Itulah gambar-gambar yang paling ramai di medsos," jelas Ketua LMDH Gempita Desa Ketenger Purnomo.

Menurut Purnomo, untuk tiket masuk hanya Rp5 ribu. Dengan tiket senilai itu, sudah termasuk dengan itu nantinya ada pembagian hasil dengan Perhutani. Sebab, lahan setempat merupakan areal milik Perhutani KPH Banyumas Timur.

"Untuk parkir kendaraan diserahkan kepada warga masing-masing. Artinya, mereka yang memiliki halaman bisa dijadikan tempat parkir. Kalau untuk sepeda motor Rp2 ribu dan mobil Rp5 ribu. Ini dilakukan agar masyarakat Kalipagu jiuga merasakan dampak baik dari pembukaan wisata Curug Jenggala," katanya.

Tak hanya itu, warga juga telah diberi tempat di sepanjang jalan menuju Curug Jenggala untuk membuka warung. Bahkan, mereka yang dulunya pencari burung di hutan, kini sudah ganti profesi menjadi tukang ojek.

"Ada 14 orang tukang ojek yang dulunya merupakan pencari burung di hutan sekitar lereng selatan. Namun, setelah dibukanya wisata, mereka melayani jasa ojek untuk mengantarkan wisatawan ke Curug Jenggala. Dengan menjadi tukang ojek, pendapatannya malah lebih baik dan tidak mengganggu lingkungan. Untuk hari biasa, setidaknya bisa membawa pulang Rp50 ribu. Namun, kalau akhir pekan, itu mencapai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Jadi, penghasilannya lebih baik jika dibandingkan dengan menjadi pencari burung," jelasnya. Liliek Dharmawan/M-1

Komentar