Jeda

Ambillah Potret dan Kenangan Saja

Ahad, 5 February 2017 05:15 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

MI/FURQON ULYA HIMAWAN

Dari lokasi tambang, kini jadi latar swafoto, ikhtiar yang mungkin secara hitungan industri wisata nasional tergolong mikro itu telah menggulirkan efek luar biasa pada warga desa. Mereka terungkit, kesejahteraan pun keterampilannya untuk berdaya, mengambil manfaat dari dunia kekinian, media sosial, dan kebutuhan untuk piknik. Tak kalah berkahnya, manfaat yang diberikan pada alam, awalnya dieksploitasi, kini harus dipastikan kelestariannya agar dapur warga yang bergantung hidup dari usaha wisata itu tetap ngebul.

Semamngat itu terasa betul di Stone Garden di Desa Gunung Masigit, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, serta Tebing Breksi, di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Mari mampir dulu ke Tebing Breksi. Selasa (31/01), pukul 14.00 WIB, jalan setapak menuju ke salah satu lokasi paling kekinian di Yogyakarta itu mendung, tetapi pelancong tetap riuh keluar masuk.
Di bawah pohon yang rindang, kiri jalan, terdapat pos penjagaan semi permanen tempat pengelola menghentikan kendaraan pengunjung untuk menarik tiket parkir Rp2.000 untuk motor, Rp5.000 untuk mobil hingga bus. Istimewanya, tarif untuk setiap pengunjung disebut seikhlasnya.

Kendati digagas dan dikelola warga, pada Mei 2015, Sultan HB X meresmikannya. Itu menjadi penanda berakhirnya kegiatan pertambangan di sana yang selama tiga dekade jadi gantungan perekonomian warga.

Batu dari Sambirejo jadi bahan baku fondasi dan patung yang sebagian diekspor. Bahkan, sebutan Breksi diambil dari sebutan orang-orang luar negeri yang menjadi konsumennya. "kami mendengar mereka menyebut breksi sehingga kami sebut Tebing Breksi," ujar Kholiq mengisahkan sejarah Tebing Breksi.

Pelarangan penambangan
Pada kisaran 2014, riset Kementerian ESDM dan peneliti berujung SK yang menyatakannya sebagai lokasi geo heritage, tebing dari endapan abu vulkanis gunung api purba di kawasan Candi Ijo, Yogyakarta.

"Lalu warga dilarang melakukan aktivitas penambangan," kata Kholiq Widiyanto, Ketua Lowo Ijo, nama kelompok pengelola Desa Wisata Tebing Breksi.

Opsi menjadikannya lokasi melancong dipilih setelah kemungkinan mengubahnya jadi areal pertanian tak memungkinkan.

Jika sebelumnya warga bertahan dari mencangkul, kini kreativitas yang jadi modal bertahan. Panggung amphitheater yang sekilas mirip Colosseum di Roma Italia menjadi nilai tambah. Panggung untuk pertunjukan ini bersih, sejuk, dan jadi salah satu lokasi favorit pelancong.

Naik ke tebing, ada relief wayang, naga, dan patung semar yang sengaja dibuat. Di sinilah spot wefie dan selfie terbaik. Jika naik ke atas lagi, pengunjung bisa menikmati panorama Yogyakarta dari ketinggian.

Jika tekad cukup besar, pengalaman menyaksikan matahari terbit dan tenggelam terbaik bisa disesapi di sini. Ada sosok Candi Prambanan, Candi Boko, Candi Barong, landasan bandara Adi Sucipto, hingga gagahnya Gunung Merapi.

Warga yang belajar dari masukan para pelancong, kemudian menyediakan tempat duduk dan tenda dari kayu beratap jerami. Pohon-pohon yang sengaja ditanam, dipastikan terawat untuk melindungi dari terik mentari. Pun demi menjaga keamanan, sekeliling tebing dipasang kawat pengaman.

"Juga ada petugas keamanan yang selalu berkeliling untuk memantau," kata Kholiq.

Ribuan pelancong

Meski begitu, secara keseluruhan Tebing Breksi terlihat asri. Petugas rutin berkeliling, memberikan jawaban pada pengunjung juga menegur jika ada yang melewati batas keamanan.

Salah satu awak pengelola itu adalah Sutariyanto. Ia dijumpai setelah mengarahkan pengunjung dengan sepeda motor. Setelah itu, ia menjumputi sampah di sekitarnya.

Lelaki berusia 30 tahun dan beranak satu itu, dulunya penambang batu.

"Saya sekarang bantu-bantu parkir dan kebersihan," kata Sutariyanto.

Di Tebing Breksi, ada sekitar 53 warga dari dua kampung di Desa Sambirejo yang jadi anggota Lowo Ijo.

Di awal, tak mudah mengajak warga bergabung karena hasilnya tak bisa serta merta terlihat. Namun, setelah Tebing Breksi kian eksis di sosial media, inistif bergabung datang dari warga.
Untuk mengisi kios kuliner, Kholiq memprioritaskan warga desa yang dulunya penambang. "Nanti ada 10 stan lagi dan kami prioritas untuk warga mantan penambang," terang Kholiq.

Saat ini pengunjung Tebing Breksi mencapai seribuan setiap harinya. Dalam hitungan Kholiq, peningkatan terjadi sejak Juni 2016. Saat itu rata-rata kunjungan dari Januari-Mei maksimal hanya 2 ribuan, Juni 7 ribuan, dan pada Juli melonjak menjadi 36 ribu perbulan.

"Sekarang pada hari Minggu pengunjung bisa mencapai 5-6 ribu," kata Kholiq.

Agenda pengembangan

Agar semangat warga tak padam, berbagai agenda dicanangkan. "Ke depan ada sistem tiket dan asuransi," katanya.

Agar jenis pelesir kian bervariasi, ada jalur treking serta keliling dengan jeep yang segera dibuka, tarifnya, Rp25.000.
"Rencana rutenya, Tebing Breksi-Candi Prambanan-Candi Sewu-Candi Plaosan-Candi Sojiwan-Candi Barong-Candi Ijo-Batu Papal-dan kembali lagi ke Tebing Breksi," jelas Kholiq.

Sinergi juga tengah dirancang dengan destinasi-destinasi kekinian di sekitar Tebing Breksi, seperti Arca Gupolo, Goa Nepen, Sumur Bandung, Watu Tepak, Situs Tinjon, Candi Dawangsari, DAM Pandanrejo, Air Terjun Tritis, Ganesa Sumberwatu.

Kholiq dan Sutariyanto, juga warga Sambirejo lainnya terus bekerja agar warga tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku juga penentu. Namun, tentunya seharusnya bukan cuma warga yang berikhtiar, Kholiq juga berharap upaya serupa juga dilakukan pemerintah dengan mengaspal jalan menuju Tebing Breksi yang kini rusak.

Semangat di Taman Batu

Kisah serupa, dengan jenis tambang berbeda, yaitu batu kapur, dijumpai di Stone Garden, Padalarang, Bandung. Bahkan, akses masuknya searah dengan truk-truk besar pengangkut batu.

Terberkahi dengan batuan yang terbentuk 25-30 juta tahun lalu, endapan di dasar lautan dan disusun cangkang binatang laut, dan ditemukan oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) Institute Teknologi Bandung pada 1990, kawasan yang semula ladang warga ini kini berubah wujud.

Ada POKDARWIS alias Kelompok Sadar Wisata Pasir Pawon yang mengelolanya, dipimpin Sukmayadi.

Kawasan karst Citatah ini termasuk warisan tertua di pulau jawa. Terbentang sepanjang enam kilometer dari Tagog hingga selatan Rajamandala.

"Sejak lama masyarakat sudah menyadari kawasan ini berpotensi karena batuannya unik," kata Sukmayadi yang kini memimpin sekitra 300 anggota yang kini menggantungkan hidupnya dari taman batu, dari sebelumnya pekerja tambang.

Mendapat penghasilan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari, pembangunan kawasan yang digagas Dinas Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan pun diharapkan tetap membuat Stone Garden jadi berkah dan lahan rezeki warga, bukan sebaliknya. (LD/*/M-1)

Komentar