Tifa

Rasa Nasionalisme yang Terusik

Ahad, 5 February 2017 05:00 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

JAGO-JAGO itu berdiri tegak, siap menyongsong tantangan yang menghadang. Begitu pula, ayam jago siap mempertahankan apa pun yang menjadi haknya. Dengan sikap tempur ia mengepakkan kedua sayapnya, melindungi apa pun miliknya dari siapa pun. Mata bulat tajam menjadi seolah menyampaikan ucapan bahwa ia siap berhadapan dengan apa pun.

Ayam jago menjadi sentral tema lukisan karya Sulistyo. Kali ini, ia menggelar pameran ke-25 di Kunstkring Paleis Jakarta pada 1-13 Februari 2017. Sebanyak 30 karya terbaru dipamerkan dalam helatan ini sebab fokus utama Sulistyo ialah ayam jago. Maka, jangan harap bisa menemukan objek lain. Hampir semua lukisan Sulistyo dalam berbagai bentuk. Semua lukisannya bersenyawa dengan judul.

Tengoklah lukisan berjudul Jagoan Indonesia (100 cm x 180cm), Sulistyo menggambarkan peta wilayah negara Indonesia dalam warna hijau, sedangkan seekor ayam jago berdiri tegak di ujung timur, tepat di wilayah Pulau Papua. Seolah berkata, negara Indonesia yang sedemikian makmur dengan simbol warna hijau haruslah punya jagoan.

Itu hanya satu dari 30 karya yang dipamerkan. Belum lagi gambaran pesan kuat dari setiap lukisannya. Selain itu, hampir semua lukisan Sulistyo punya kekuatan dari judulnya, selain tampilan visual yang juga kuat, seperti Reach the Sky (140 cm x 140 cm), Powerfull Legacy (100 cm x 180 cm), Braveheart Jagoan (120 cm x 120cm), Jagoan Indonesia (100 cm x 180 cm), Powerfull Movement (120 cm x 140cm), Jathayu Spirit (120 cm x 120cm), Jagoan Tridharma (120 cm x 140cm), Ready for Battle (120 cm x 140cm) ataupun Fly Higher (120 cm x 140cm).

Dominasi warna merah putih sangat ketara dalam lukisan Sulistyo. Seperti NKRI Harga Mati (100 cm x 180cm), Indonesia Knight (120 cm x 120cm), Indonesia Warrior (120 cm x 140cm), Red and White Spirit (120 cm x 120 cm), dan Patriotism Spirit (120 cm x 140cm).

Gerakan moral

Rasa nasionalisme yang terusik. Itulah yang menjadi landasan utama Sulistyo. Pameran tunggal ini menyerukan gerakan moral untuk membangun bangsa ini bersama. Lebih dari itu, seruan untuk menyadarkan kembali semangat nasionalisme dan pantang menyerah bagi seluruh anak bangsa. Bukan rahasia lagi, Indonesia dengan segala kekayaan alamnya menjadi incaran bagi siapa pun. Untuk itulah, diperlukan sikap mental untuk selalu terjaga dan sadar.

"Merasa terganggu rasa nasionalismenya saya. Banyak kekayaan yang dikalim, bahkan seniman hasil budaya negara Indonesia banyak diklaim diluar, jadi kita diam saja. Itu rasanya perlu penyadaran secara menyeluruh bagi saya," terangnya. Untuk menjadi Jagoan bagi Bumi Pertiwi, tidaklah harus bertempur di medan tidak pula harus berdarah-darah di peperangan. Apalagi, membela kelompok tertentu dengan menafikan kepentingan bangsa dan negara yang jauh lebih besar. Justru sebaliknya, berjuang pada darma kebaikan masing-masing ialah jagoan yang sesungguhnya. Berguna bagi banyak orang, bangsa, dan negara ialah jagoan sebenarnya.

Terkait dengan maraknya konflik yang belakangan ini kerap terjadi, pesan itu menjadi sangat relevan dan selalu relevan. "Karena setiap kita bisa menjadi jagoan buat Indonesia," tegasnya

Seperti ayam jago, ia tidak pernah meninggalkan kelompoknya. Ayam jago akan bertarung matian-matian untuk melindungi anggota kelompoknya. Selain itu, ayam jago selalu menjadi pengingat untuk mengawali hari saat pagi. Ia tidak memanggil matahari, tetapi mengingatkan dan memanggil untuk segera menyongsong matahari. Seolah berkata, hari ini, mari berkarya untuk negeri. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar