Tifa

Manusia dan Istana dalam Kata

Ahad, 5 February 2017 04:45 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

DOK. BAKTI BUDAYA DJARUM FOUNDATION

PUNCAK seni ialah puisi. Begitu banyak dibilang. Kata-katanya mengerucut sedemikian rupa. Setiap jalinannya meringkas semua yang ada. Dalam setiapnya, ada samudera makna. Demikianlah kesungguhan kata dalam merawat setiap ada menjadi makna.

Tidak ada yang meragukan itu karena kata ialah senjata. Tidak setiap pun budaya tanpa kawalan kata. Lalu bagaimana dengan politik. Tentu tidak jauh berbeda pula. Dalam dunia politik, kata-kata bergulir, beredar dan berkeliling dalam makna yang sangat mentah. Tiada kemasakan, tak ada kedalaman, tanpa nuansa.

Semua bahasa berkata secara pragmatis dengan maksud yang sangat praktis. Tiada lagi keindahan, estetika, hingga dalam cara berpolitiknya. Kata-kata di istana boleh jadi bergeser menjadi semacam kata-kata di pasar. Hanya ada dapat apa, dapat berapa, berapa lama, lalu transaksi.

Begitu pula ketika menikmati pertunjukan puisi teatrikal berjudul Manusia Istana. Pentas ini dilakonkan pada 28 Januari 2017 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, oleh Teater Kosong dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation dan bekerja sama dengan OZ Production dan Kasni Production. Sebanyak 20 puisi di ambil dari antologi buku puisi Manusia Istana (2015) karya Radhar Panca Dahana yang sekaligus menjadi sutradara pertunjukan malam itu. Hampir semua puisi Radhar bernada kemarahan dan kekecewaan. Namun, tidak perlu ditampilkan dengan marah-marah, teriak-teriak, dan baku hantam di jalan. Cukup di atas panggung. Demonstrasi via seni. Sungguh cara yang elegan.

"Kita ingin menggunakan cara yang kita bisa dan punya dengan cara artistik untuk mengekspresikan isi hati, pikiran, jiwa, batin, dan mimpi tentang negeri ini. Semoga apa yang kita sampaikan mampu menggugah para elit agar tergerak hatinya, batinnya, pikirannya. Sebelum mengubah negara ini dia harus mengubah dirinya sendiri," terang Radhar. Namun, lebih dari sekedar marah, jenuh, suntuk, ataupun mengumpat. Di atas itu semua, Radhar menjelma dalam kata untuk berada dalam posisi menasihati. Ia menunjukkan yang terjadi pada negara ini. Ia membingkai semua dalam kata-kata padat.

Sutradara Radhar Panca Dahana Radhar seolah membangkitkan kembali kesadaran eksistensial kita sebagai rakyat yang telah begitu lama dibodohi penguasa.

Pada salah satu penampilannya, malam itu, Radhar tampak berbeda. Salah satu bagian, dia memasuki panggung dengan pakaian ala koki. Sebuah dapur portabel tiba-tiba saja berada di tengah. Radhar membaca puisi berjudul Sejilid Komik Kritik-Politik dengan busana seolah koki. Seolah koki sedang memasak, dia sekenanya mencacah kol, menumis wortel, memotong sawi, dan memasukkannya ke air yang dia jerang. Beberapa kali dia menambahkan penyedap rasa dalam masakannya.

Pencacahan bahan makanan itu menjadi simbol bagaimana penguasa mencacah otak generasi penerus masa depan dengan berbagai macam perilaku mereka yang tak ubahnya seperti hiburan murah. "Karena ternyata yang disisipi mereka juga generasi nanti juga yang jadi korban," tegas Radhar.

Sekian lama tak kunjung masak,malah Radhar membanting pisau disusul gambar percikan darah di latar belakang panggung. Adegan itu sebagai simbol betapa rakyat selalu menjadi mainan penguasa.
Sejilid Komik Kritik-Politik menyoroti perilaku para elite politik, wakil rakyat, dan aparatur negara tak ubahnya hiburan murah. Guliran perdebatan tentang kebijakan dibalut retorika demi kesejahteraan rakyat. Namun, di balik itu, tawar-menawar harga terjadi. Selain juga dibalut tekanan dan ancaman demi keuntungan seseorang.

Rakyat menjadi tumbal

Pada akhirnya, rakyat menjadi tumbal konstitusi demi pengumpulan modal. Yang tersisa tinggallah kebodohan dan kemiskinan. Rakyat selalu menjadi obyek penderita. Itu semua berulang seperti tontonan.

"Di kursi penonton, sinema itu tetap memesona. Wanita cantik hero yang tampan. Negeri kini tinggal hiburan. Direproduksi untuk bisnis sampingan. Betapa lucu gaya pimpinan. Pahlawan lugu tidur kemalaman. Rakyat senang menjadi korban. Komik ini, komik politik. Entertainment tak ada habisnya. Kesenangan di sisa jiwa," begitu bunyi potongan puisi itu.

Sejumlah pelaku seni Tanah Air, baik seni peran maupun seni musik terlibat di pementasan ini. Sebut saja Olivia Zalianty, yang juga merangkap sebagai produser, Cornelia Agatha, Marcella Zalianty, Maudy Koesnaedi dan Prisia Nasution.

Berbeda dengan para artis wanita yang membaca puisi, maka Slank membawakan puisi dalam aransemen lagu berjudul Kabut Sebuah Negeri.

Sementara Tony Q Rastafara akan membawakan komposisi musikalisasi puisi berjudul Indonesia Jalanan. Sebanyak 20 puisi selama hampir 2 jam. Tentu bisa membosankan bagi yang tak begitu suka melahap kata. Apalagi, bahasa puisi yang padat dan dalam. Namun dalam pertunjukan itu semua pekerja sukses mengusir kebosanan. Azis Dyink sebagai penata cahaya, Yandi pada visual maping, dan Aidil Usman pada tata artistik.

Pada akhirnya, hadirlah keindahan puisi berpadu tata artistik dengan objek suara dan cahaya yang menciptakan latar dan suasana kehidupan sesuai dengan pesan setiap puisi.

Radhar memperlihatkan keresahannya mengenai kondisi politik Indonesia saat ini, bahkan lebih luas lagi. Radhar sedang berbicara kepada manusia-manusia di dalam istana, sembari merujuk pada manusia-manusia di luar istana. Termasuk di puisi Yang Sisa di Daster Misna. Misna, perempuan berusia 36 tahun yang harus menghidupi diri dan anaknya. Menjual harga diri demi buah hati. Itukah buah reformasi? (M-2)

Komentar