PIGURA

Kompetitor Nges

Ahad, 5 February 2017 04:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

ADA yang nges (bernas) dari pernyataan salah satu calon Gubernur DKI Jakarta dalam debat pertama pasangan calon yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang lalu. Menurut ia, berkampanye itu mesti juga mendidik warga. Jangan karena adreng (bernafsu) memikat hati pemilih, lantas menjanjikan sesuatu yang semu. Dalam bahasa lain, warga jangan dibohongi pakai kampanye.

Ia memberikan contoh, warga mesti dididik bahwa bertempat tinggal di bantaran sungai itu tidak benar karena menghambat fungsi sungai. Ini diatur pula dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 38 Tahun 2011. Apalagi, tinggal di tempat tersebut juga tidak sehat.
Sikap rasional dan apa adanya ini memang melawan arus. Pada umumnya, kompetitor selalu menjauhi program yang bisa membuat warga 'sesak napas'. Maka, kemudian yang ditabur janji-janji yang meninabobokan, membius. Padahal, itu belum pasti bisa dilaksanakan manakala memimpin.

Sayembara Kunti

Dari perspektif budaya, sikap terbuka dan tanpa tedheng aling-aling (fair) seperti itu selaras dengan nilai-nilai kesatria. Pakemnya, kesatria itu mesti jujur dan tidak takut menghadapi segala sesuatu (kekalahan) demi tegaknya keadilan dan kebenaran.

Bila kita menengok cerita dunia wayang, keberanian 'mendidik' kepada semua orang tentang nilai-nilai kesatria itu secara simbolis pernah diperlihatkan dua titah bernama Narasoma dan Pandu Dewanata ketika keduanya bersaing dalam Sayembara Kunti di Negara Mandura.

Sayembara yang digelar Raja Mandura Prabu Kuntiboja tersebut terbuka untuk semua kesatria, tanpa pandang bulu trah (asal usul), warna kulit, keyakinan, dan negara asal. Siapa yang unggul dalam adu kesaktian di gelanggang perang, ialah yang akan menjadi pemenang dan berhak meminang sang putri kedhaton, Kunti Talibrata.

Banyak kesatria dari mancanegara yang mengikuti sayembara, berlomba-lomba memperebutkan Kunti. Di antara mereka ada yang mesanggrah (menginap) di alun-alun dengan maksud tidak kehilangan kesempatan.

Narasoma, kesatria dari Negara Mandaraka, salah satu pesertanya. Sebelum mengikuti kompetisi, ia sudah memiliki istri bernama Dewi Pujawati atau dalam seni pedalangan juga bernama Dewi Setyawati. Pujawati merupakan anak semata wayang pasangan Begawan Bagaspati-Dewi Darmastuti di Pertapaan Argabelah.

Kisahnya, terjunnya Narasoma dalam kompetisi itu benar-benar menjadi 'neraka' bagi semua peserta. Dari ratusan peserta, tidak ada satu pun yang mampu merepotkannya, apalagi mengalahkannya. Mereka gigit jari dan kembali ke negara masing-masing. Ada yang cedera, ada pula yang malu karena terpaksa bertekuk lutut. Bahkan, ada pula yang pulang hanya tinggal nama.

Kesaktian Narasoma yang tak tertandingi itu berkat ajian candrabirawa yang dimiliki. Bila ajian pemberian mertuanya itu dirapal (digunakan), secara gaib muncul makhluk berwujud buta kerdil yang mengerikan. Buta ini sangat setia kepala tuannya dan anehnya tidak bisa mati. Ketika dibasmi, ia malah memecah diri menjadi dua. Jika dua buta kecil itu disirnakan, mereka justru membelah diri menjadi empat dan bertambah begitu seterusnya dengan kelipatan deret ukur.

Buta-buta itu bahu-membahu berjibaku, mengeroyok lawan-lawan majikannya. Inilah yang membuat semua pesaingnya kewalahan, terbirit-birit meninggalkan gelanggang kalau tidak ingin dimangsa candrabirawa. Pada saat itu, tidak ada satu pun yang mampu menghentikan Narasoma dengan ajian yang menggiriskan tersebut.
Ketika sudah tidak ada lawan, sayembara dinyatakan usai. Narasoma disahkan Prabu Kuntiboja sebagai sang pemenang. Kunti lalu mengalungi Narasoma dengan roncean bunga melati simbol bahwa kesatria yang digadang-gadang telah terpilih.

Sebelum Narasoma pamit untuk kembali ke negaranya, mendadak datanglah kesatria berkulit pucat bernama Pandu Dewanata dari Negara Astina. Kepada sang raja, ia sampaikan bahwa dirinya sesungguhnya datang untuk mengikuti sayembara. Namun karena sudah rampung, Pandu berniat pulang karena keterlambatannya adalah kesalahannya sendiri.

Prabu Kuntiboja, yang sangat tahu siapa Pandu karena ia mengenal betul ayahnya (Prabu Kresna Dwipayana), tidak berniat mencabut keputusannya, sabda pandhita ratu tak kena wola-wali. Padahal, sejatinya Kuntiboja sejak awal sangat berharap Pandu menjadi menantunya.

Di luar dugaan semua yang hadir, Narasoma mengatakan bahwa meski kompetisi telah selesai, dirinya bersedia meladeni Pandu jika berniat menginginkan Kunti. Pada titik ini, motivasi Narasoma sesungguhnya ingin menguji sejauh mana kesaktian ajian candrabirawa. Semula, Pandu menolak. Namun karena dipaksa-paksa Narasoma, akhirnya ia menyanggupi.

Pertarungan berlangsung sengit hingga pada akhirnya Narasoma terdesak. Ia kemudian mengeluarkan ajian candrabirawa. Pandu menghadapi dengan gagah berani. Akan tetapi, lama-kelamaan ia kewalahan karena candrabirawa tidak bisa sirna dan malah terus berkembang biak.

Pandu lalu ingat ilmu yang pernah ia cecap dari bapaknya yang berlatar belakang begawan. Bahwa yang dihadapi itu sesungguhnya makhluk jadi-jadian. Ia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil merapal mantra. Tidak lama kemudian terjadi keajaiban. Ribuan buta kerdil yang semula mengepungnya tiba-tiba sirna tanpa bekas.

Narasoma terpana dan saat itu pula menyatakan kalah. Ia kemudian menyerahkan Kunti sebagai putri boyongan. Bahkan, ia juga memberikan 'bonus' kepada Pandu. Ia titipkan adiknya, Dewi Madrim, untuk juga diboyong pula ke Astina.

Dalam perjalanan pulang, Pandu bertemu Raja Plasajenar Prabu Gendara yang juga berniat ikut sayembara. Pandu menjelaskan bahwa kompetisi telah rampung dan Kunti dalam kekuasaannya. Namun, Pandu siap menyerahkan Kunti saat itu juga bila Gendara bisa mengalahkannya. Maka, terjadilah peperangan. Singkat cerita Gendara tewas. Adik Gendara yang menyertainya, Harya Suman, pun diberi kesempatan. Namun, Suman juga tidak berkutik di depan Pandu dan menyerah.

Mengukur martabat

Hikmah dari kisah tersebut ialah bahwa berkompetisi tidak semata-mata untuk mendapatkan kekuasaan. Narasoma dan Pandu Dewanata menempatkan kekuasaan (Kunti Talibrata) bukan segala-galanya. Mereka mengadu kualitas diri, bertarung untuk mengukur seberapa tinggi harkat dan martabat mereka. Itulah perjuangan sejati mereka.

Dalam konteks ini, persaingan dalam pilkada untuk menjadi pemimpin, seyogianya juga tidak menjadikan kekuasaan sebagai titik akhir. Bila itu yang menggelora, siapa pun bisa lupa diri dan pada gilirannya akan mengorbankan harkat dan martabatnya.
Di sinilah pentingnya para kompetitor untuk tidak takut apa pun risiko dengan kejujuran. Salah satu aspeknya ialah mendidik warga. Yang pasti, sikap mulia itu akan 'memviral' dan secara langsung dan tidak langsung berperan membangun demokrasi dan peradaban bangsa. (M-4)

Komentar