Wirausaha

Majalah Bekas, Inspirasi Abadi

Ahad, 5 February 2017 03:00 WIB Penulis:

MI/IIS ZATNIKA

MASIH di lantai yang sama, ada kios majalah bekas yang juga menyediakan sedikit buku-buku. Kios majalahnya istimewa karena koleksi majalah fesyen global, Vogue dari berbagai kota Eropa, ada di sana. Juga ada Monocle, malalah gaya hidup yang terbit di London, juga majalah impor dengan kondisi 100% baru.

"Sebagian daya beli di semacam agen, kondisinya bekas pakai, tapi yang Monocle ini, yang bisa laku delapan dalam waktu lima hari, dapat dari agen dari jaringan toko buku, sehingga kondisinya baru tapi tahunnya memang lama," kata Medi Farnan, 32.

Medi yang berjualan sejak 2009 dan menempati kios seluas 4 x 4 meter itu mengawali langkah wirausahanya di kawasan perniagaan itu. "Dulu saya kerja, ada saudara yang dagang buku di sini dan dibilang coba saja, lumayan, dan ternyata memang bagus sih sejauh ini, walaupun sejak turun di 2016, hingga sekarang belum terasa tinggi lagi nih omsetnya," kata Medi yang mulai berdagang mulai pukul 10 pagi hingga 8 malam.

Bisnis berawal di Blok M

Berawal dari modal Rp 10 juta, perputaran bisnis terasa lumayan kencang dan dua tahun berikutnya, Medi telah punya langganan. "Ada langganan dari Surabaya yang rutin saya kirim majalah fesyen untuk dijual lagi dan dari Bali yang borong majalah interior untuk dibaca sendiri. DI HP juga ada nomor-nomor Whatsapp pelanggan, mereka pesan majalah tertentu, atau kalau ada yang kira-kira mereka suka, saya yang info ke mereka," kata Medi yang bermukim di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tak punya karyawan, dan tak merasa butuh tenaga bantuan, Medi mempraktikkan kultur sesama pedagang, cukup menitipkan pada kios di sebelahnya saat ke toilet atau musala. "Sekarang ini sudah cukup kok, memang kios masih sewa, yang punya mematok Rp2,5 juta per bulan dan itu masih bisa saya usahakan. Enggak ingin beli juga, yang penting bisnis mutar terus," kata Medi yang merupakan salah satu dari 100 pedagang buku dan majalah bekas di sini, yang menurutnya sebagian besar berasal dari Padang dan Medan.

Kian ramai

Kendati puncaknya pada Sabtu dan Minggu, Medi tetap bisa membawa uang Rp200 ribu hingga Rp1 juta setiap harinya, yang sebagian kemudian diputarnya kembali untuk modal. Kian berwarnanya lantai yang ia tempati sejak kedatangan para pedagang piringan hitam, kaset, dan CD sejak empat tahun lalu, kata Medi, juga membawa angin segar.

"Ya memang beli buku dan majalah bekas di sini, paling enak. Ada juga yang jualan di Pasar Senen dan Kwitang, tapi kan di sana enggak ada AC dan mesti ekstra hati-hati. Di sini sih adem," kata Medi yang mengaku merasa jumlah pedagang di Blok M Square masih dinilai seimbang dengan jumlah pembeli. Kecuali Medi yang bergelut di buku dan majalah bekas di Blok M Square, mayoritas pedagang pindahan dari Pasar Kramat Jati dan Taman Puring.

Mematok harga mulai Rp10 ribu untuk tiga majalah anak-anak lokal dengan kondisi terbilang bagus dan dikemas dalam plastik hingga Rp200 ribu untuk majalah impor yang langka, Medi mengaku masih optimistis dengan bisnisnya. "Langganan saya pelajar, karyawan juga kolektor. Semoga ekonomi terus membaik sehingga uang yang tersisa untuk beli majalah dan buku bekas juga makin banyak!" Zat/M-1

Komentar