Wirausaha

Bisnis Nostalgia di Blok M

Ahad, 5 February 2017 02:45 WIB Penulis: Iis Zatnika

MI/IIS ZATNIKA

Anak Jakarta 1970-an, hingga angkatan 1990-an, dipastikan punya kenangan dengan Blok M. Bukan cuma kawasan Melawainya yang melegenda, pun terminal dengan aneka rupa dan jurusan kopaja dan mikrolet, berbagai gaya hidup anak muda terkini pastinya terhubung dengan kawasan di Jakarta Selatan ini.

Jadi, akhir pekan ini, pun saat luang, mari menjelajahinya kembali. Pun, buat para warga milenial penyuka aneka koleksi vintage. Ada koleksi buku, majalah, piringan hitam, kaset, hingga cakram padat di lantai bawah tanah Blok M Squre. Namun, mal yang jadi salah satu ikon Blok M itu bukan cuma kaya nostalgia, ada banyak kisah tentang perjuangan pengusaha UKM di sana. Mal yang berada dalam naungan Trade Mall Agung Podomoro itu menjadi wahana perjuangan para pengusaha tangguh yang beroperasi mulai di teras-terasnya, hingga lantai terbawahnya, mereka silih berganti mengais rezeki, saat matahari belum terang hingga menjelang pergantian hari.

Semua tempat, seluruh jam

Di teras ada pelukis karikatur yang dengan bangga memajang wajah Iwan Fals, Nelson Mandela hingga penyanyi Yuni Shara sebagai penanda halusnya karya mereka. Turun ke lantai paling bawah, di basement, perayaan kreativitas pun terjadi. Ada penjahit yang piawai membuat kebaya hingga jas, buku-buku dan majalah bekas dan yang mungkin paling terhubung dengan gaya kekinian, tapi dengan barang-barang masa lalu, yaitu penjaja koleksi piringan hitam, kaset, dan CD.

Di lantai-lantai atas, korporasi dan UKM dipertemukan. Ada restoran cepat saji, bioskop, tapi ada juga pengecer fesyen serta warung-warung ayam penyet yang beroperasi di kios seluas kurang dari 5 meter.

Perputaran uang dimulai ketika pedagang pasar tradisional di lantai bawah mulai beroperasi, dilanjutkan pedagang yang menempati kios, baik itu milik sendiri maupun menyewa. Ketika malam kian larut, dan restoran serta kios tutup satu per satu, giliran pedagang lesehan mencari rezeki menggantikan tempat pelukis karikatur di teras. Mereka menjual nasi dengan puluhan lauk, dengan hamparan tikar di sekitarnya.

Musik kenangan

Mari mendalami kisah perjuangan mereka. Di lantai bawah tanah, di Blok B 157 dan 167, ada kios Musik Kolektor milik Arman Wahyudi, 45. Ada sedikitnya 300-an piringan hitam, 2.000 buah cakram padat dan 5.000 kaset di sana. Pun tumpukan kaus bergambar band-band, mayoritas bergenre rock dan metal. "Saya memang dikenal kolektor dengan koleksi rock metal, walaupun ada juga kaset pop, dangdut di sini. Namanya juga pedagang. Tapi, di sini kan toko sebagian besar ada spesialisasinya, saya di rock dan metal, contoh nya CD Napalm Death ini, saya impor langsung lo," kata Arman.

Mulai berbisnis sejak 2007 di kawasan Jatinegara dan pindah ke Blok M Square sejak 2012, Arman mengaku awalnya hanya menjajal berdagang saat penyelenggaraan Cassette Store Day. "Kita sewa kios yang kosong saat itu, dan ternyata responsnya bagus, sudah ada yang mulai jualan juga saat itu sih, tapi kemudian kami yang Jatinegara dan berbagai tempat lain, mulai menjajaki jualan di sini," kata Arman yang awalnya menyewa dan kini percaya diri mencicil dua kios, tiap-tiap 2 x 2 meter yang ketika digabungkan membuat kiosnya memiliki dua pintu.

Didominasi 70% barang bekas, Arman mematok harga Rp15 ribu-Rp25 ribu untuk kaset, Rp150 ribu-Rp250 ribu untuk piringan hitam dan Rp80 ribu-Rp300 ribu untuk CD. Buat mengisi stok koleksinya, Arman mengaku harus rajin nongkrong di kawasan Jatinegara, salah satu pusat penjualan produk rekaman musik bekas, menerima pasokan juga mendatangkannya dari labelnya langsung.

Bisnis lancar

"Alhamdulillah bisnisnya lancar, pedagang disini yang total jumlahnya 20 juga betah dan nyaman, tak ada persaingan ketat di sini. Justru, jika ada pedagang baru, akan membawa pelanggan baru kan. Pembeli dan kolektor kan memang lebih nyaman di sini, kan ada AC, nyaman, alternatif pedagang juga banyak," kata Arman yang mengaku kerap kedatangan para pesohor, bahkan sebagian telah menjadi pelanggannya, mulai Rian D'Masiv, penyanyi Ahmad Dhani hingga pembawa aacra Vincent.

Berbisnis barang nostalgia, kata Arman, ia pun mencintai musik, agar tetap terkoneksi dengan para pelanggannya.

"Kalau di sini mereka merasa cocok, suka bercanda bilang, salah masuk toko nih, karena pasti belanjanya banyak. Mereka suka bilang, duh ini surga dan bisa lo, kalau yang dari luar kota, seharian di toko," kata Arman yang pernah menjual kaset Iwan Fals berjudul Amburadul seharga Rp1 juta karena langka dan kondisinya bagus.

Ramaikan dengan kegiatan

Kendati roda bisnisnya terasa masih kencang, Arman tetap memandang penting penyelenggaraan berbagai kegiatan untuk mengundang kerumunan baru. "Ada Record Store Day, Cassette Store Day juga Terminal Musik Selatan. Ada penyelenggara yang bekerja sama dengan pihak pengelola mal ini, kami berpartisipasi dengan memberikan diskon khusus agar acaranya meriah. Itu terasa banget meningkatkan omset," kata Arman yang mengaku salah satu kunci sukses bisnisnya ialah kejujuran. Ia berkomitmen untuk menginformasikan kondisi barang yang dijualnya, pun ia menyediakan alat, mulai CD player, pemutar kaset serta peranti hitam agar pelanggannya bisa mencoba langsung kualitas suara produk yang akan dibelinya.

Langkah serupa, mendatangkan kerumunan calon pembeli juga dilakukan pengelola Trade Mall berupa Agung Podomoro Vaganza di tujuh lokasi kawasan perniagaan dengan ciri khas, lokasi usaha yang bisa dibeli UKM. "Ya memang harus ada acara sih, supaya ada pelanggan baru, orang ramai datang, kita mau kok ikut partisipasi dengan beri diskon," ujar Arman yang juga memasarkan produknya lewat Facebook dan Instagram @musikkolektor.

Kualitas produk yang baik, obrolan, dan pelayanan yang pas sesuai karakter para kolektor maupun yang masih menjajal koleksi, pun kejujuran, kata Arman, menjadi kunci suksesnya. "Tapi yang paling utama, ya kita sendiri harus suka musik," ujar Arman. (M-2)

Komentar