Travelista

Toraja, Negeri di Atas Awan

Ahad, 5 February 2017 02:15 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Abdillah Marzuqi

Toraja sungguh kumplet, ada suguhan alam, kearifan lokal, eksotisme, dan tentunya kopi yang teramat sedap.

"DARI tidur, bangun. Tidur lagi, lalu bangun lagi. Itu pun belum sampai," begitu ujaran lazim untuk perjalanan Makassar ke Toraja.

Bagaimana tidak? Untuk menikmati wisata di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, dua kabupaten di Sulawesi Selatan ini, wisatawan harus menempuh perjalanan terbilang melelahkan dengan waktu tempuh lebih dari 7 jam perjalanan darat.

Pada perjalanan bersama Kementerian Pariwisata 23 hingga 25 Januari lalu, berangkat pada pukul 12.00 Wita, hingga menginjak senja, Toraja belum terlihat.

Namun, Toraja yang tersohor dengan kopi, panorama, dan kulturnya yang istimewa membuat medan perjalanan itu terasa sepadan dengan pengalaman yang menanti. Jajaran rumah adat tongkonan pertama kali menyapa begitu memasuki Toraja ketika hari mulai gelap.

Bandara buat Toraja

Esok harinya, setelah rehat, seperti lazimnya pelancong lain, perjalanan dimulai ketika langit belum terang benar. Tujuan pertama, Kampung Lolai atau yang kerap dijuluki Negeri di Atas Awan, sekitar 20 km dari Rantepao, Kota Kabupaten Toraja Utara. Di sini terdapat tongkonan lempe yang punya halaman luas untuk para pengunjung. Spot sempurna untuk menikmati indahnya awan sembari menunggu matahari.

Di sini suguhan keindahan alam kampung sungguh eksotis. Mata leluasa menikmati hamparan awan dari sebidang tanah lapang. Sejauh mata memandang, hanya ada gulungan awan dan matahari kemudian muncul dari baliknya. Sinar surya bersemu perak berpendar.

Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Triawan Munaf, menyempatkan diri menikmati indahnya gulungan awan. Mereka sehari sebelumnya berbicara dalam Rapat Pengembangan Pembangunan Bandara dan Destinasi Pariwisata Toraja.

Ke'te Kesu'

Seusai menikmati wisata alam, kami mengobati rasa penasaran terhadap kekayaan kultur Toraja. Ke'te Kesu' menjadi tujuan selanjutnya. Berjarak sekitar 4 km dari Rantepao, desa ini menjadi salah satu tempat favorit para turis, baik lokal maupun mancanegara yang didominasi Eropa.

Di sini, kami dibuat takjub dengan deretan rumah adat tongkonan yang berhadapan dengan lumbung atau alang yang dibangun sejak ratusan tahun lalu. Atap rumah tongkonan yang terbuat dari bambu ini banyak ditumbuhi tumbuhan perdu, menjadi penanda usia bangunan yang kini sepenuhnya didedikasikan sebagai museum ini.

Ada pula kompleks pekuburan yang juga berusia ratusan tahun sehingga masih bisa ditemui erong, yakni wadah besar dari kayu untuk menguburkan jenazah. Erong diletakkan mengantung di tebing atau diletakkan di sisi gua. Penguburan jenazah metode erong berlangsung sampai abad ke-17, sebelum digantikan liang pahat atau pa'paa' dan kuburan beton alias patane. Di mana-mana terhampar tulang belulang manusia.

Lemo, bukit kuburan

Perjalan berlanjut ke Lemo, sekitar 9 km dari Kota Makale, Kabupaten Tana Toraja. Destinasi ini terdapat kubur batu berpadu panorama hamparan sawah nan hijau.

Lemo merupakan kuburan yang dibentuk di dinding bukit dan awalnya diperuntukkan bangsawan suku Toraja sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi kewajiban menyambangi tempat ini.

Ada lebih dari 70 buah lubang batu kuno dan di depannya disimpan patung kayu atau tau-tau dari mereka yang sudah meninggal. Tidak semua orang Toraja bisa dibuatkan tau-tau. Hanya kalangan bangsawan saja yang berhak dibuatkan, itu pun setelah memenuhi persyaratan adat.

Seruput kopi di kebun kopi

Jalanan berkelok dengan kontur naik dan turun yang cukup ekstrem menjadi kelaziman di sini. Pun terjadi saat kami bertandang ke Pango Pango. Destinasi ini tersohor dengan hawanya yang dingin dan alam pemandangan menakjubkan.

Selain itu, mata bakal dimanjakan hamparan tanaman seperti kopi, cokelat, enau, tamarillo alias terong belanda, kacang tanah, jagung, dan beragam sayuran.

Ketika kabut turun menerobos pepohonan, panorama kian eksotis. Sungguh indah. Dari sini, tampak pula Gunung Kandora yang diyakini sebagai kediaman sang nenek moyang, yaitu Puang Tamboro Langi' juga gunung tertinggi di Toraja, Sinaji.

Kami pun menyeruput kopi Toraja di sini, langsung di tengah hamparan pohonnya. Selayaknya, kami telah melakukan ziarah kopi di tempat kelahirannya.

Mari berharap Bandara Internasional Buntu Kuni segera beroperasi seusai mufakat tercapai dalam perjumpaan pejabat pusat dan daerah sehingga agenda Lovely December dan Festival Kopi Toraja kian riuh dan mendatangkan manfaat berganda.

Kisah-kisah yang sarat ajaran kehidupan teramat istimewa buat dilewatkan. Cerita tentang tongkonan lempe, turis yang kesurupan sebab membawa potongan tengkorak, erong yang mirip dengan peti di dataran Tibet, alasan rumah tongkonan berbentuk mirip perahu dengan banyak tanduk kerbau digantung di depannya, kerbau seharga Rp1 miliar, hingga perbedaan posisi tangan tau-tau. Yuk terbang ke Toraja! (M-1)

Komentar