Teknopolis

Yuk Ramai-Ramai Buat Konten Positif

Sabtu, 4 February 2017 02:15 WIB Penulis: Hera Khaerani

MI/PERMANA

TAHUKAN kamu, tak peduli bagaimana cuacanya, orang Indonesia sangat suka makan cabai? Saat musim penghujan, konsumsi cabai orang Indonesia mencapai 54.346 ton. Sementara itu, ketika musim panas, jumlahnya tak jauh berubah, yakni 54.076 ton.

Fakta menarik itu ditemukan Eko Fristianto, Rininta, beserta delapan rekan mereka yang lain. Mereka mahasiswa Universitas Paramadina yang menjadi salah satu tim yang memenangi Workshop Konten Informasi Digital (Kidi) 2016 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi
Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bekerja sama dengan Media Group.

Nyatanya, siapa pun bisa membuat konten yang menarik asalkan mau mengerahkan waktu ekstra mencari ide menarik dan sumber-sumber informasi yang tepat. Cara itu digalakkan Kemenkominfo guna menangkis bahaya informasi yang keliru, hoax, dan menyesatkan di media sosial.

Bagi Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Niken Widiastuti, media sosial ibarat pilar kelima demokrasi, setelah pers yang disebut-sebut pilar keempat sebagai penyeimbang eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Satu sisi menjadi instrumen warga berpartisipasi dalam pembangunan, di satu sisi menciptakan situasi hiruk pikuk. Akibatnya, masyarakat tidak bisa membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.

Dalam acara Talkshow Konten Informasi Digital 2017 di Grand Studio Metro TV, Rabu (25/1), Niken menyatakan kekhawatirannya atas kecenderungan masyarakat yang selalu ingin jadi nomor satu menyebarkan informasi di medsos, tanpa melakukan cek dan ricek kebenaran dan manfaat informasi itu.

“Kalau informasi atau data yang salah ini diviralkan, maka yang salah itu dianggap kebenaran,” pikirnya. Dia juga resah melihat lebih massifnya produksi informasi negatif ketimbang yang positif. Makanya Kidi yang diselenggarakan sejak 2016, diambil sebagai langkah inisiatif untuk mendorong anak muda memproduksi konten yang positif.

Dengan sifatnya yang egaliter dan koneksi tinggi, media sosial menjadi kekuatan baru dalam pembentukan ranah publik Indonesia. Menurut pakar dan pengamat media sosial Dirgayuza Setiawan, kelebihan itu sebenarnya baik untuk penguatan demokrasi bangsa, tapi juga berpotensi memendam trauma. Berbicara saat pertemuan tahunan Forum Tata Kelola Internet (IGF) PBB di Guadalajara, Meksiko akhir 2016, dia mengatakan, “Tren terkini penggunaan media sosial di negara-negara yang menganut demokrasi adalah dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi, tapi di saat bersamaan juga dapat membuat masyarakat trauma akan demokrasi.”

Saat ini kian banyak anggota masyarakat yang menyatakan opininya secara terbuka di media sosial, yang mengalami serangan terorganisasi dari pihak yang tidak sependapat dengan opini tersebut. “Pengalaman ini bisa membuat banyak orang trauma dan menahan diri dari menyatakan pendapat” ujarnya.

Konsekuensi

Sejalan dengan itu, Prof Henry Subiakto, Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi, menyatakan disinformasi sekarang terjadi secara masif. Dia menepis anggapan ketika ada sesuatu yang sangat viral, pasti menyuarakan aspirasi masyarakat. “Belum tentu begitu, banyak informasi yang diproduksi netizen yang ingin mencari keuntungan secara bisnis atau politik.”

Menurutnya, hoax itu diproduksi 10% kalangan. Namun, dibesarkan 90% pengguna netizen yang asal membagi informasi tanpa verifikasi.

Hal itu sejalan dengan temuan Drone Emprit yang setiap hari melakukan algoritma gugus berbekal software, membaca hal-hal yang ramai dibahas di Indonesia. Menurut Fahmi, mudah melihat peta pertempuran isu-isu tertentu terutama di medsos seperti Twitter.

Dia menyarankan meredam informasi keliru atau hoax, paling efektif dengan menyiapkan kontra informasi. Jadi, bukan asal bicara, tapi pakai fakta dan data.

Menambahkan itu, Ndoro Kakung, bloger yang lumayan aktif bermedia sosial itu mengingatkan pentingnya membangkitkan hati nurani. “Sebelum kroscek, ingatkan hati nurani dulu bahwa semua yang kita sampaikan memiliki konsekuensi,” cetusnya.

Celakanya, banyak orang yang tidak sadar konsekuensi berbagi informasi sekalipun hanya satu kicauan. Misalnya orang-orang yang membagi info kesehatan, ramuan untuk kanker yang tidak disertai hasil riset yang kelas. “Tidak ada kesadaran itu bisa membahayakan nyawa orang, yang menyebarkan tidak tahu dan menganggap remeh,” keluhnya.

Di sisi lain, Usman Kansong melihat media sosial merupakan ekosistem yang memiliki banyak aktor terlibat di dalamnya. Bukan hanya konsumen yang mesti ‘literate’, melainkan semuanya.

“Penanggung jawabnya banyak termasuk pemerintah dan penyedia aplikasi layanan,” cetusnya. Itu menjadi penting karena media sosial secara langsung maupun tidak bisa mengubah tatanan perilaku budaya.

Rencananya, Workshop Kidi akan kembali digelar 2017 ini di sembilan universitas berbeda di berbagai kota. Ketika makin banyak yang menyebar konten positif, diharapkan manfaat media sosial pun berkontribusi positif bagi masyarakat. (M-4)

Komentar