KICK ANDY

Si Petani di PBB

Sabtu, 4 February 2017 01:45 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/ SUMARYANTO

PETANI merupakan profesinya. Namun, ia bukan petani biasa.

Pemikirannya soal dampak kerusakan lingkungan dan hutan membawanya menjadi pembicara di forum berskala internasional.

Petani sayur dan buah asal Provinsi Riau itu bernama Suryono.

Di Konferensi Tingkat Tinggi PBB Perubahan Iklim di Maroko, November 2016 itu, Suryono menjadi perwakilan delegasi Indonesia.

Ia memaparkan pentingnya menjaga lingkungan alam dari segala kerusakan hutan yang disebabkan tangan-tangan manusia.

Tentunya hal itu dilakukan hanya untuk menjaga bumi dari kerusakan.

Pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, itu terpilih karena berhasil melakukan mitigasi perubahan iklim.

Caranya, ia mengubah kebiasaan masyarakat dari bertani sawit menjadi petani hortikultura.

Tak hanya itu, Suryono turut andil menjaga lingkungan serta mencegah kebakaran lahan dan hutan.

Suryono sendiri awalnya bukan petani hortikultura. Pria yang tinggal di Dusun Sukajaya, Kabupaten Siak, itu menghabiskan tujuh tahun bertani sawit di lahan seluas 2 hektare.

"Awalnya itu saya disebut gila sama masyarakat sekitar kampung saya. Kenapa? Karena saya justru lebih memilih menanam sayur ketimbang memperluas lahan untuk sawit," ujar Suryono.

Suryono sadar bertani sawit tidak menguntungkan.

Di samping itu, hal tersebut merusak lingkungan.

Kedua alasan itu yang menguatkan keputusan Suryono untuk beralih menjadi petani hortikultura.

Kini lahan sawit miliknya telah disulapnya menjadi lahan aneka sayur mayur dan buah-buahan. Bahkan, para petani yang dulu mengejeknya kini mengikuti jejak langkah Suryono menjadi petani hortikultura.

Langkah mereka itu ternyata bisa melestarikan dan menjaga alam sekitar.

Di samping itu, mereka bisa meningkatkan perekonomian keluarga lebih baik, jika dibandingkan dengan saat mereka menjadi petani sawit.

Beberapa jenis tanaman hortikultura yang menjadi andalan Suryono di antaranya bayam, kangkung, jambu, pepaya, kacang panjang, jagung, cabai, terong, wortel, melon, dan semangka.

Dengan berbagai tanaman tersebut, Suryono benar-benar bisa memanfaatkan secara maksimal lahan miliknya.

Ia mengaku tidak fokus pada satu atau beberapa jenis tanaman saja.

Sejumlah tanaman hortikultura bersifat musiman sehingga dalam satu tahun ia dapat terus bercocok tanam berbagai jenis tanaman.

"Enaknya tanam jenis hortikultura itu cepat panennya sehingga satu tahun bisa tanam banyak jenis," kata Suryono.

Sebagai petani ia tidak pernah lelah memajukan hasil pertaniannya.

Atas kerja kerasnya, Suryono diganjar penghargaan Adikarya Pangan Nusantara dan petani terbaik Siak Hortikultura dari pemerintah Kabupaten Siak.

Suryono bangga atas segala kerja keras dan penghargaan yang diterimanya.

Aspirasinya sebagai petani kecil bisa dihargai hingga forum internasional.

Suryono berharap akan ada petani-petani lain yang juga bisa seperti dirinya. (M-4)

Komentar