Features

Mantan yang Dilupakan

Kamis, 2 February 2017 22:22 WIB Penulis: Rudy Polycarpus

MI/Galih Pradipta

DALAM tiga bulan terakhir, tiga kali Susilo Bambang Yudhoyono menggelar konfrensi pers yang baik secara langsung maupun tidak langsung menyinggung nama Presiden Joko Widodo.

Dalam periode yang sama, Jokowi justru menikmati santap siang sembari berdiskusi dengan semua mantan presiden dan wakil presiden yang masih hidup. Tidak ketinggalan para ketua partai yang dianggap besar dijamu sang tuan rumah di Istana Merdeka.

Pertanyaannya, mengapa SBY dan Demokrat tidak diundang? Bagaimanapun, SBY menjadi presiden selama 10 tahun, bandingkan dengan BJ Habibie yang hanya dua tahun.

Ibarat menebas tanpa pedang, lewat bahasa semiotika dan simbol politiknya, sesungguhnya Jokowi telah menjawab pertanyaan tersebut. Jika Presiden Jokowi mengundang si anu dan si ini, maka yang tidak diundang itu titik-titik. Silakan interpretasikan sendiri.

Namun, dalam sebuah konfrensi pers di Wisma Proklamasi, Rabu (1/2), sang mantan mengutarakan keinginan terpendamnya untuk bertemu Jokowi. "Sayang sekali, saya belum ada kesempatan bertemu Presiden Jokowi. Kalau bertemu, saya ingin bicara blakblakan, siapa yang menyampaikan informasi dan intelijen kepada beliau kalau saya mendanai 411, dan lain-lain," ujarnya.

Keinginan Presiden ke-6 RI itu direspon Jokowi dengan satu syarat, silakan mengajukan permintaan resmi ke Kementerian Sekretariat Negara. "Waktunya akan diatur tetapi kalau ada permintaan," ujar Jokowi seusai menghadiri Konfrensi Forum Rektor di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (2/2).

Tidak ada yang bisa memastikan kapan pertemuan tersebut dilaksanakan. Dalam sebuah pertemuan imajiner, publik bisa membayangkan bagaimana suasana kebatinan pertemuan keduanya yang diselingi dengan santap siang.

Namun, yang tidak diketahui SBY, ternyata di meja makan bundar berwarna coklat, sudah ada Megawati Soekarnoputri dan Antasari Azhar. "Duduk Sus, tak ambilkan nasi," ujar Megawati ramah kepada SBY.

Belum sempat SBY menikmati ikan bakar sebagai menu pembuka, Antasari yang duduk di samping Presiden, terbatuk. "Eh, ada Pak Antasari. Sakit batuk pak?," tanya SBY. Antasari menjawab, sel penjara yang lembab menyebabkan ia menderita batuk kronis.

Jokowi yang melihat kekakuan mencoba mencairkan suasana dengan mengadakan kuis yang sudah menjadi kebiasaanya. Jokowi meminta mereka menyebut empat nama ikan. Setengah berbisik BY menjawab, "Ikan tongkol, lele, paus, teri," ujar SBY.

Jokowi rupanya tidak mendengar jawaban SBY itu. "Laut kita luas, masa tidak ada yang tahu empat nama ikan," ujarnya. Setengah berteriak, Megawati langsung menyebut nama-nama ikan, yakni tongkol, mujair, gurame dan pari. Jokowi lantas mengangguk dan tersenyum mendengarkan jawaban Ketua Umum PDI-P itu.

Melihat respon Jokowi, SBY pun tersinggung dan sontak nadanya meninggi. "Saya kan sudah jawab, kok tidak direken, Pak Jokowi. Salah saya apa? Kok dibeginikan," ujarnya sembari meninggalkan ruangan.

Mengutip pernyataan SBY, sampai 'lebaran kuda' pertemuan imajiner seperti itu tidak akan terjadi. Tetapi, bangsa ini memerlukan model hubungan presiden dan pendahulunya yang berbeda dengan yang terjadi selama ini. Seperti lagu Raisa Andriana, mungkin mereka bukan 'Mantan Terindah'

Mengutip pendapat ahli politik dan komunikasi Harold Lasswell dari Yale Univesity, para mantan itu belum dapat menjalankan salah satu fungsi komunikasi, yakni transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya. (OL-1)

Komentar