Surat Dari Seberang

Abu Dhabi dan Pesan dari EADC

Kamis, 2 February 2017 08:03 WIB Penulis: Milto Seran

Dok. EADC

“Word is mightier than the sword,

but pictures speak louder than words”__N.N

BULAN September 2016 lalu, semua terasa lain. Ada hembusan angin segar. Setelah menyelesaikan kursus bahasa Rusia, saya mesti berangkat ke Jakarta untuk mengurus visa lagi. Di Jakarta semua urusan mengalir lancar. Lalu, pada tanggal 18 November saya meninggalkan Jakarta menuju Moscow dengan transit di Abu Dhabi International Airport.

Saat menunggu boarding di Gate 31, seorang penumpang (mahasiswa) dari Mesir meminta tolong pada saya. Dia meminta saya meminjamkan handphone dengan layanan facebook untuk berkomunikasi dengan orangtua. Maka saya membuka akun facebook untuk di-sign out. Sebelum memberi handphone kepada sahabat perjalanan tadi, saya membaca satu pesan di kotak inbox yang membuat saya tersenyum sendiri.

Sahabat dan mentor kami, Endah W Sulistianti, mengirim link berita tentang terpilihnya Film Dokumenter kami (Lepo Lorun Untuk Dunia) sebagai Best Documentary Film di ajang Indonesian Ethnographic Film Festival. Saya lalu meminjamkan handphone kepada Samir Ibrahim, sahabat dari Mesir tadi. Tapi ingatan saya langsung terbawa jauh ke pengalaman pra-produksi hingga post-produksi tiga tahun lalu di ajang EADC Metro TV.

Pada 2014, selama kurang lebih enam bulan, saya mengikuti seluruh kegiatan Eagle Awards Documentary Competition (EADC). Eagle Awards sebenarnya merupakan sebuah ajang kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Eagle Institute Indonesia untuk menjaring sineas-sineas muda (19-35 tahun) di Tanah Air. Hal yang membedakan kompetisi ini dari kompetisi-kompetisi lain adalah sebagai peserta saya mesti melewati tahap seleksi awal (50 proposal terbaik), tahap 20 proposal terbaik, seleksi wawancara jarak jauh (10 proposal terbaik), dan selanjutnya pitching forum di studio Metro TV di hadapan dewan juri yang adalah sutradara, budayawan dan kritikus film nasional. Berikut tanpa biaya registrasi. Tuntutannya adalah kreativitas peserta untuk jeli melihat realitas sosial di sekitarnya dan mulai melakukan riset berdasarkan ToR (Term of Reference) dari website Eagle-awards.

Masih ada banyak hal unik yang bisa disebutkan sekadar untuk memperkenalkan EADC, misalnya, setelah lulus pitching forum, peserta dikarantina selama 10 hari untuk pelatihan pembuatan film dokumenter (Eagle Lab). Selama tahap ini peserta mendapat training dari sutradara-sutradara nasional, cinematographer dan camera person profesional, serta editor-editor handal. Semua biaya, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kompetisi berlangsung ditanggung oleh panitia, jika peserta lolos ke tahap pitching forum dan selanjutnya ke tahap lima proposal terbaik (finalis).

Secara personal, sebetulnya ini bukan kali pertama saya terlibat di Eagle Awards. Tahun 2008 saya mulai mengenal EADC dan tahun 2009 melakukan riset di Maumere, NTT, tetapi proposal kami ditolak. Tahun 2010 saya melakukan riset lain, tetapi saat 50 proposal terbaik diumumkan, judul proposal saya tidak ada dalam list. Gagal lagi. Kadang saya berpikir mungkin saya tidak punya kemampuan untuk merumuskan ide cerita atau film statement dengan baik dan benar. Atau saya tidak memiliki kemampuan dalam menulis resume riset dan sinopsis cerita secara benar sehingga proposal saya selalu ditolak. Tapi kadang saya juga berpikir, mungkin saya sudah tinggal selangkah menuju puncak impian menjadi finalis EADC. Hal terakhir ini yang bikin saya tidak pernah putus asa meski gagal sudah menjadi hal yang hampir biasa bagi saya.

Tema EADC Metro TV tahun 2014 adalah INDONESIA OK; OK = Orang Kreatif. Pada awal Maret 2014, setelah mempelajari ToR EADC, saya berpikir bahwa saya harus segera menentukan subjek film. Karena itu saya mencari tahu mungkin ada orang kreatif di sekitar wilayah Maumere yang bisa di-interview. Saya yakin ada banyak orang kreatif di Flores dan NTT umumnya. Tetapi mengingat saya tinggal di Ledalero (menunggu visa ke Russia), maka saya berusaha untuk menemukan orang kreatif di sekitar Maumere, biar mudah dijangkau.

Ternyata, orang kreatif yang kemudian menjadi subjek utama dalam film dokumenter yang kami garap itu tinggal di Nita, tak jauh dari Seminari Tinggi Ledalero. Cuma butuh lima menit untuk tiba di rumahya dengan sepeda motor. Ibu Alfonsa Horeng, adalah sosok kreatif yang saya maksudkan. Beliau sudah cukup dikenal di mancanegara. Sayang sekali, banyak orang di daerahnya sendiri tak mengenalnya. Dia memiliki kreativitas unik dalam hal menjaga warisan budaya tenun ikat. Meski banyak pihak memandangnya dari sisi yang kurang konstruktif, tapi saya melihat bahwa sebagai perempuan desa, ia memiliki idealisme yang tak biasa di zamannya.

Tenun ikat

Semua proposal yang tiba di desk Eagle Awards 2014 berjumlah 250. Jumlah ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Umumnya jumlah proposal bisa mencapai angka 300-an. Sebenarnya bukan soal proposal kami unggul atau tidak unggul. Masalahnya adalah apakah proposal itu sesuai dengan tema EADC atau tidak? Apakah proposal itu memiliki potensi visual untuk diangkat menjadi sebuah film dokumenter atau tidak? Saya melihat bahwa secara visual proposal kami itu sangat potensial, sebab kisah unik dari pelestari budaya tenun ikat dan juga view alam Flores cukup menjanjikan untuk diangkat ke layar lebar. Kami mengusung tenun ikat Flores dan itu menurut pengakuan Leila S Chudori (saat Pitching Forum) sangat “colorful”.

Keterbatasan proposal kami justru terletak pada kesuksesan subjek film (Ibu Alfonsa Horeng, dkk). Subjek film sudah berada pada titik nyaman dan karena itu ide cerita lebih menekankan perjuangan subjek di masa lalu. Ini agak problematis. Sebab film dokumenter yang diinginkan EADC lebih melihat kejadian hari ini, bukan kejadian yang sudah lewat, sekalipun masa lalu subjek menentukan kiprahnya saat ini. Perjuangan ibu Alfonsa Horeng dalam melestarikan tenun ikat itu satu hal yang sangat inspiratif, tetapi itu masa lalunya, bukan perjuangannya hari ini. Ini problem yang nantinya berhubungan dengan hari-hari produksi (shooting days).

Tentang karantina, ini hal menarik yang tak terlupakan. Pertama, Eagle Lab. Kami dikarantina di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) selama sepuluh hari setelah berhasil mempertahankan ide cerita di hadapan dewan juri. Selama di Desa Wisata kami dibimbing untuk merumuskan ide cerita secara tepat dan membuat treatment (story line), bagaimana treatment dieksekusi saat produksi, mengenal kamera, proses editing hingga program nonton bersama dan diskusi film. Pada akhir tahap ini kami diminta untuk menyusun budget produksi, mulai dari akomodasi hingga biaya sewa alat.

Dalam tahapan ini kami bisa bertemu dan berdiskusi dengan sutradara, editor, camera person, dan sinematografer, baik yang berkarya di tingkat nasional maupun mancanegara. Ini pengalaman yang sangat bermanfaat sebab hingga saat ini kami masih tetap saling kontak dan membangun jaringan kerja sama. Saya kemudian sadar bahwa “jejaring” itu adalah roh media. Dan ajang EADC tepatnya menjadi rumah bersama untuk finalis-finalis Eagle Awards dari tahun ke tahun sejak 2005. Hingga tahun ini EADC sudah menghasilkan 60 film dokumenter pendek yang disutradarai 120 sineas muda dari seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya sudah diikutsertakan dan menang di ajang-ajang festival film nasional dan internasional, misalnya di Prancis, Iran, Qatar, dll.

Setelah Eagle Lab, kami kembali ke daerah masing-masing (NTT, Bali, Magelang, Jogja dan Lampung) untuk melakukan riset lanjutan. Riset lanjutan ini amat penting untuk memastikan apakah treatment yang sudah di-logline itu berubah atau tidak. Jika berubah maka hal ini bisa didiskusikan lagi dengan pihak Eagle Institute melalui supervisor dan camera person masing-masing tim.

Pada tanggal 4-15 Agustus 2014, tim kami yang terdiri dari empat personil (director/sutradara, produser, supervisor dan camera person) melakukan proses shooting di sejumlah tempat (Flores Timur, Sikka dan Ende). Setelah tahap produksi, kami kembali ke Jakarta dan selama tiga minggu dikarantina untuk editing class dan proses editing film itu sendiri. Pada tahap ini kami tidak lagi berurusan dengan camera person dan supervisor. Kami mulai menyusun editing script dan bekerjama dengan editor yang telah ditentukan untuk setiap tim. Script awal dibaca ulang, dan disesuaikan dengan stock gambar yang dibawa pulang dari daerah masing-masing. Untuk tahap ini, hingga mixing dan menjadi sebuah film yang siap tayang, kami mesti melewati 3 kali preview (Rough Cut 1, 2, 3). Rough cut (preview) merupakan saat yang baik untuk belajar membentuk alur cerita sesungguhnya. Saat ini “film kasar” setiap peserta dinilai oleh para mentor dan peserta dari daerah lain. Sebenarnya pada fase ini tak ada hal yang menyulitkan peserta jika proses praproduksi dan produksi berjalan lancar. Secara pribadi saya melihat bahwa ini semua merupakan bagian dari pembelajaran, meski sesungguhnya suasana kompetisi terus mengalir.

Proses editing bukan tahap terakhir sebab setelah editing class kami kembali ke daerah masing-masing, dan masih kembali ke Jakarta untuk mengikuti dua moment penting yakni premiere (tayang perdana) di bioskop XXI Senayan City (Jakarta) dan Awards Night di Grand Studio (pengumuman film terbaik, film favorit pemirsa dan film rekomendasi dewan juri). Kelima film finalis kemudian menjadi copy right pihak Metro TV untuk lima tahun.

Saya merasa bersyukur karena sebenarnya saat kompetisi ini berlangsung, saya sedang menunggu visa untuk berangkat ke Moscow, tetapi saya mendapat kesempatan untuk mengikuti semua proses ini hingga selesai. Untuk itu saya berterima kasih kepada Pimpinan Seminari Tinggi St Paulus Ledalero dan Provinsi SVD Ende yang telah mendukung saya untuk mengikuti proses panjang ini.

Pelajaran paling berarti dari semua yang telah lewat ini antara lain, pertama, ini merupakan pintu masuk untuk belajar lebih jauh mengenai film dokumenter. Seperti kata salah satu mentor (Abduh Aziz, produser dan sutradara film), film khususnya dokumenter menjadi media baru bagi orang muda untuk melihat keindonesiaan yang amat luas. Dalam hal ini dokumenter mengandalkan riset dan interpretasi atas realitas sosial. Kedua, membangun jejaring. Karena film menjadi media untuk menyampaikan gagasan filmmaker kepada publik, maka film juga menjadi media untuk menyatakan keberpihakan, stand point tertentu. Film menjadi media perjuangan. Saya melihat bahwa perjuangan untuk menggapai atau mewujudkan apapun hanya mungkin terjadi jika kita berhasil membangun jejaring yang kokoh. Ringkasnya itu saja pelajaran yang saya bawa pulang dari EADC 2014, meski ada banyak hal teknis yang sangat berarti dan tetap hangat dalam ingatan saya.

Pesan yang berulang-ulang disampaikan adalah “anda masih muda, teruslah berkarya, teruslah menjadi filmmaker.” Selain itu, Prita Laura dalam acara live talk show di program Wide Shot MetroTV, bertanya pada saya, “Milto, anda belajar Teologi dan Filsafat, kenapa anda terjun ke dunia filmmaking?” Saya tidak menjawab pertanyaan itu sampai tuntas, tetapi sebenarnya saya melihat film sebagai media yang menarik untuk menyampaikan sikap tertentu yang dibuktikan dengan riset, bukan sekadar ide yang lahir dari buku-buku tua dan berdebu. Buku memang sangat berarti, tetapi tanpa riset, kita tak pernah melihat sesuatu yang benar-benar baru. Hasil riset yang kemudian menjadi fondasi story-telling adalah nyawa film dokumenter. Itu sebabnya ada keyakinan, “Word is mightier than the sword” tetapi “Pictures speak louder than words”. (X-2)

Komentar