Eksekutif

Menerapkan Model Bisnis Udara ke Darat

Senin, 30 January 2017 04:00 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

MI/ADAM DWI

LAYANAN teknologi transportasi berbasis daring kini sudah menjadi kebutuhan masyarakat di kota besar Indonesia.

Tren industri berbasis teknologi informasi yang terus berkembang itu membuat Ridzki Kramadibrata rela melepaskan jabatannya sebagai Chief Operating Officer (COO) of Air Asia Indonesia.

Dengan berbekal pengalamannya di bidang transportasi, Ridzki menerima tawaran bekerja di Grab Indonesia, dan kini menjabat Managing Director of Grab Indonesia.

Kendati bisnis perusahaan yang dia geluti berbeda, Ridzki mengaku tidak menemui kesulitan berarti bekerja di tempat yang baru.

Menurut dia, sejatinya inti bisnis kedua perusahaan itu sama, yaitu transportasi, hanya bedanya yang satu melalui jalur udara, yang lainnya melalui jalur darat.

"Matranya memang berbeda, tetapi konsepnya sama, yaitu meningkatkan kenyamanan dalam layanan serta keamanan," ujar alumnus Universitas Padjadjaran Bandung itu saat ditemui di Jakarta, Sabtu (28/1).

Menurut dia, bekal pengalaman bekerja di bidang transportasi di udara sangat berguna untuk diterapkan dia di tempat yang baru.

Dikatakan, peraturan pada perusahaan penerbangan sangat terstandar dan ketat.

Tiap aturan dijabarkan detail, baik dari level negara maupun internasional.

Itu jauh berbeda dengan regulasi transportasi darat. Hal ini yang menurutnya menarik.

Hal inilah yang menurut dia bisa juga diaplikasikan di perusahaannya yang baru.

"Di udara, ada regulasi yang harus dipatuhi secara detail. Ini justru yang menarik dari layanan transportasi darat, penyediaan teknologi layanan transportasi darat bisa dilihat masih banyak loopholes dari segi safety," ujar pria kelahiran 1970 itu.

Karena itu, salah satu misi utama dirinya bekerja di bidang baru saat itu ialah meningkatkan taraf keamanan/safety layanan transportasi darat di Asia Tenggara, khususnya bagi dia pribadi, yaitu Indonesia.

Itu juga yang menjadi misi Ridzki setelah bergabung dengan Grab Indonesia pada awal 2016.

"Alasan safety ini, seperti tadi saya katakan, kalau di airlines itu sudah sangat rigid aturan-aturannya. Mudah dilihat, mana yang boleh dan tidak. Semua ada bukunya. Pilot mau masuk dia punya manual book-nya. Semua sudah jelas, sedangkan layanan transportasi darat. walaupun ada regulasi, yang susah adalah tentu nomor satu tidak sedetail itu," tegasnya.

Dengan teknologi, dia yakin bisa membantu masalah keamanan layanan kendaraan, salah satunya, kebiasaan mengebut pengendara motor.

Motor di Indonesia, khususnya di Jakarta, memiliki kecenderungan mengebut karena manuver yang lebih mudah.

Melalui aplikasi Grab Indonesia, dia berupaya pengendara memiliki kepatuhan terhadap aturan berkendara yang berlaku di Indonesia.

"Kalau kami lihat pengendara Grab Bike kami berjalan lebih cepat daripada rata-rata biasanya, driver akan kami suspend sementara. Dipanggil untuk pelatihan ulang," beber dia.

Menurut Ridzki, kecepatan para sopir Grab Bike bisa dilihat antartitik.

"Kami sangat peduli dengan keamanan. Kami melakukan screening safety driving melalui sertifikasi pihak ketiga kami, sekitar 15% calon pengemudi tidak lolos saat tes keamanan berkendara," ujar pria yang menghabiskan empat tahun tinggal di Amerika

Kemudian, faktor keamanan lain yang mereka susun juga kepada algoritma sistem dalam memberikan order booking.

Tujuannya menghindari langganan yang tidak diharapkan, yaitu driver standby di depan rumah seseorang untuk mendapatkan order dari calon penumpang tersebut.

"Kami menghindari orang melakukan langganan karena di satu pihak mungkin orang melihatnya bagus. Di sisi lain, itu menjadi potensi untuk disalahgunakan, seperti stalking. Dikecualikan untuk kondisi armada kami masih jarang. Untuk keselamatan tujuan dari dibuntuti oknum driver. Jadi, kami ingin melindungi keselamatan penumpang," papar dia,

Untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang, dia juga menyediakan sistem rating menyangkut performa pengemudi dan feedback. Juga, mereka merespons dengan berhati-hati dan data pengemudi bisa dilihat customer.

"Di luar itu training dan fitur, kami memiliki daftar kode etik agar pengemudi bisa lebih taat terhadap aturan sehingga mereka menjaga dirinya dari melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan keamanan," jelasnya.

Pria yang secara rutin menyempatkan memakai Grab Bike atau Grab Car itu mengakui kompleksitas di darat jauh lebih rumit mengingat konsumen mereka, yaitu pengendara dan penumpang, jauh lebih banyak daripada perusahaan penerbangan.

Total armada Grab gabungan untuk roda dua dan empat kini sebanyak 580 ribu.

"Tetapi keuntungannya juga banyak. Kami bisa memberikan manfaat jauh lebih banyak orang lagi, bukan dilihat dari pelanggan pemakai, juga pelanggan pengemudi, sehingga kami wajib memberikan pelayanan produktivitas, safety, asuransi, discount isi bensin, makanan, perawatan kendaraan. Keduanya pelanggan yang harus kami jaga dengan kebutuhan masing-masing. Kami matching-kan melalui teknologi. Itu nature dari kami," papar dia.

Berbagai cerita dan keluhan pengemudi juga didengar langsung oleh Ridzki saat mengambil perjalanan dengan Grab.

Hal yang menarik bagi dia ialah bagaimana taraf hidup pengemudi naik, bahkan beberapa kasus menjadi solusi penyelamat pemasukan income keluarga.

Inovasi juga menjadi poin penting yang dia sorot.

Grab sendiri sebelumnya merupakan teknologi layanan untuk taksi di Malaysia dengan nama Grab Taxi, yang kemudian berkembang menjadi Grab untuk mobil pribadi.

Dahulu, kata dia, Grab hanya fokus memberikan layanan pemesanan dan produktivitas untuk pengemudi taksi.

Namun, bermacam faktor membuat perusahaan juga masuk ke layanan-layanan lain, yaitu layanan kendaraan roda dua, dan mobil, yaitu Grab Car.

Bahkan sampai saat ini layanan kendaraan roda dua Grab sudah bertambah, ada Grab Hitch, Grab Express dan Grab Food.

Indonesia merupakan inisiator inovasi Grab Bike, yang kemudian kini sudah diadopsi Vietnam, Thailand, dan Filipina.

"Di Indonesia sejak 2014 pertama kali kami keluar sebagai Grab Taxi kemudian pada 2015 awal kami luncurkan Grab Bike. Sampai pertengahan 2016, secara year on year, kami mengalami pertumbuhan jumlah bisnis layanan sebesar 250 kali lipat," papar dia.

Karier musik

Pekerjaan dia yang sekarang membuat dirinya harus fokus dan tidak sempat memiliki pekerjaan sampingan.

Bilapun ada kesempatan, waktu akan dia habiskan bersama keluarga.

Dia ceritakan pilihan pekerjaan profesional itu juga mengharuskan dia melepaskan karier musik yang sempat digelutinya.

"Ini full time job. Memang waktu banyak dihabiskan di pekerjaan. Kalau ada ekstra waktu, saya sangat menghabiskan waktu dengan keluarga sebisa mungkin. Anak-anak saya juga sedang remaja. Tetapi juga di waktu senggang saya juga main musik. Dahulu saya musisi. Kini bermain musik mungkin untuk kesenangan sendiri pelepas stres," ujar pemain keyboard ini.

Dahulu dirinya bahkan sempat ingin menjadi musikus profesional. Menjadi musikus dijalaninya selama hampir dua tahun.

Namun, memang dia lebih tertarik pada bidang profesional

"Dulu saya keyboardist di sebuah band dan suka ikut jam session. Dahulu sempat diseriusi, cuma saya putuskan saya pikir saya lebih cocok di dunia profesional," kata dia.

Dari awal dia sudah tertarik teknologi.

Berbagai bidang digelutinya dari manajemen keuangan, business development, marketing, sales, hingga operation sehingga cukup bisa melihat dari banyak segi.

"Sepanjang karier saya banyak dipercaya memegang beberapa area. Saya awalnya bekerja di Indonesia lalu sempat kerja empat tahun di Amerika bidang telekomunikasi. Kembali ke Indonesia di bidang telekomunikasi lagi. Kemudian pegang airlines, dua tahun di Indonesia sebagai chief operating officer, lalu satu tahun menjadi regional director di Air Asia Group Kuala Lumpur. Sekarang kembali ke Indonesia, kembali ke darat. Hubungannya kini ada transportasi ada teknologi, jadi kombinasi," tutup Ridzki, puas. (Fetry Wuryasti/E-4)

BIODATA:

Nama: Ridzki Kramadibrata

Pendidikan:
- MBA dari State University of New York
- Sarjana di bidang Managemen dari Universitas Padjajaran Bandung

Karier:
- Managing Director Grab Indonesia
- Regional Director AirAsia Group
- Chief Operating Officer AirAsia Indonesia
- EVP Marketing, Product and CRM Bakrie Telecom

- COO untuk Air Asia Indonesia, dan terakhir menempati posisi Regional Director of Air Asia Group.

- Kini Managing Director of Grab Indonesia.

Komentar