Jeda

Karena Nasionalisme tidak Bersekat

Ahad, 29 January 2017 09:23 WIB Penulis: Hera Khaerani

Antara/Wira Suryantala

TUBUHNYA masih tegap dan langkahnya mantap kendati usianya tidak lagi muda. Dengan ramah Daniel Tjen menyambut kehadiran Media Indonesia di kantornya di RS Mayapada, Rabu (11/1). Sepintas tidak ada yang mengira dokter spesialis saraf itu merupakan purnawirawan TNI.

Mayor Jenderal (Purn) Daniel terakhir menjabat sebagai Kepala Pusat Kesehatan TNI sebelum pensiun 2015 dan bergabung dengan RS Mayapada tahun 2016. Ia pun sempat menjadi Direktur Kesehatan Angkatan Darat tahun 2012 dan Mei 2015 terpilih sebagai chairman dari International Committee of Military Medicine (ICMM) yang pusatnya di Belgia. Menariknya, dia berhasil mengalahkan dua kandidat lain dari Tiongkok dan Singapura kendati kala itu banyak keraguan terhadap Indonesia di tengah maraknya isu terorisme. "Saya bilang kita damai, aman, bisa jalan dengan baik," jelasnya.

Jabatan dan posisi yang sempat diraihnya menjadi fakta TNI menjadi tempat yang tidak membeda-bedakan orang berdasarkan etniknya. "Siapa pun dia, yang memang melalui proses dan rekam jejak yang baik, pasti akan dipromosikan, tidak ada perbedaan apa pun," simpulnya.

Daniel tidak pernah menyangka bisa mencapai posisi itu. Bukan lantaran kebanyakan WNI keturunan Tionghoa dianggap identik dengan dagang dan bisnis, melainkan ayahnya hanya petani yang juga bekerja di perusahaan timah. Biaya kuliah kedokteran pun dikumpulkan dari hobinya menulis.

Lulus tahun 1985, Daniel dihadapkan dengan dua pilihan wajib kerja. Jalur Kementerian Kesehatan dengan program instruksi presiden atau jalur Kementerian Pertahanan dengan wajib militer. "Saya dapat panggilan dari dua-duanya, tapi dulu kan kalau wamil harus ikut, kalau tidak ya dijemput hehe," ungkapnya.

Batalyon 745 di ujung paling timur dari Timor Timur menjadi penempatannya yang pertama. Di belantara hutan yang kala itu banyak ancaman gerakan pengacau keamanan (GPK), Mayjen Daniel satu-satunya etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, menurutnya, tidak pernah ada tindakan diskriminatif terhadapnya.

Dua tahun lebih dia di batalyon itu, lalu sempat ada pendidikan lanjutan di Jakarta hingga dia dipindah kembali ke Dili, langsung ditugaskan sebagai Kepala Rumah Sakit Angkatan Darat di Dili.

"Saya lihat di TNI tidak ada sekat karena memang dia komponen bangsa yang dipersiapkan untuk mengawal keutuhan NKRI. Kami diajarkan supaya memahami Indonesia terdiri atas berbagai etnik dan agama, jadi dilatih untuk siap beradaptasi dan memimpin di daerah dengan lintas kultur. Tidak ada perbedaan," terangnya.

Dia melanjutkan, "Ini yang harus kita kawal karena perbedaan itu justru kekayaan bangsa kita dan inilah yang membuat dunia luar iri.

"Kini Daniel sudah tidak di TNI. Namun, ia memilih mengabdi dengan cara lain, yakni menjadi tenaga sukarelawan di rumah sakit militer di Bogor tempat dulu ia bertugas. Ia merasa berutang budi.

Bangun Rai
Sejurus dengan Daniel, Willybrodus Lay (Wily) memilih mengabdi ke negara dengan cara lain. Pria keturunan suku Hakka yang datang ke Pulau Timor abad ke-16 itu memilih maju dalam bursa kepala daerah Belu, Nusa Tenggara Timur.

Sebagai etnik Tionghoa, Wily ragu untuk maju kendati secara turun-temurun keluaga Lay hidup bersama masyarakat setempat. Keputusannya maju dalam Pilkada 2015 berkat dorongan para sahabat dan keluarganya.

Ia ingat jelang Pilkada 2015, ia bersama para sahabatnya berbincang tentang peluang bisnis, permasalahan pendidikan, kemiskinan, dan infrastruktur. "Ada beberapa kandidat yang kami bicarakan, tetapi teman-teman malah mendorong saya mencalonkan diri sebagai bupati," kata Wily yang terpilih sebagai Bupati Kabupaten Belu periode 2016-2021 pada Pilkada 2015. Ketika itu pilkada diikuti tiga pasangan, dan Wily Lay-JT Ose Luan merebut 46% suara. Ia pun menjadi bupati pertama keturunan Tionghoa di Belu.

Keputusannnya maju pun seusai melihat respons akar rumput dan keluarga ditambah panggilan hati membangun rai (tanah) Belu. Meski begitu masih banyak yang memandang remeh keputusannya maju dan menyangka ia tidak akan menang. "Syukurlah semua orang mendukung saya," katanya.

Sejak dilantik Maret 2016, Wily sudah melakukan perbaikan. Salah satunya perbaikan jalan raya Halilulik-Betun sepanjang kurang lebih 10 km yang dikerjakan April-Juli 2016.

Saya Indonesia
Bila sebagian keluarga keturunan mengubah namanya, Daniel tetap pertahankan marga keluarganya. Ia merasa menunjukkan dirinya representasi Indonesia yang terdiri dari berbagai etnik dan suku bangsa. "Saya tunjukkan saya Indonesia, saya tidak pernah meragukan diri saya dan teman-teman saya," ujarnya.

Lahir dan besar di Bangka, kehidupannya berbaur dengan berbagai suku, termasuk Melayu. Daniel ingat saat sekolah, bersama teman-temannya ia ke surau dan ikut memukul beduk.

Mayjen Daniel tidak menampik ada masa ketika pilihan profesi orang keturunan Tionghoa jadi terbatas. Itu terjadi pada masa Orde Baru. "Untuk jadi pegawai negeri susah, untuk jadi militer susah, mau enggak mau dia harus bertahan hidup," simpulnya soal mengapa banyak etnik Tionghoa yang menjadi pedagang dan pengusaha.

Namun, patut diingat pula, kondisi demikian tidak merata. Di masa yang sama di Sumatra ataupun Kalimantan, banyak WNI etnik Tionghoa yang menjadi petani, buruh kasar, dan menjalani pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Dia menolak anggapan bahwa jiwa wirausaha melekat pada etnik Tionghoa. Karena nyatanya, banyak juga orang dari suku lain yang sukses berdagang seperti orang Padang, keturunan Arab dan India, juga lainnya.

Bertahun-tahun ini, selain banyak menyarankan sesama etnik Tionghoa untuk masuk TNI, dia juga mengajak orang-orang dari etnik lainnya. Dia sangat mendukung bila banyak WNI keturunan Tionghoa yang ingin merambah bidang profesi lain. Menurutnya, cita-cita memasukkan Indonesia dalam 10 negara besar dunia pada 2030, baru akan terwujud bila semua komponen bangsa bersatu untuk maju. "Pengabdian bisa di semua bidang," cetusnya. (PO/M-4)

Komentar