Weekend

Melayangkan Protes lewat Puisi Teatrikal

Ahad, 29 January 2017 08:35 WIB Penulis: MI

MI/Arya Manggala

BERBEDA dengan genre seni lainnya, puisi memiliki energi lebih memikat saat dibacakan. Terlebih jika untaian kata-kata itu merupakan luapan protes atas kondisi perpolitikan saat ini.

Sebanyak 20 puisi dibacakan pada pertunjukan puisi teatrikal dari buku Manusia Istana, karya Radhar Panca Dahana, di Teater Taman Ismail Marzuki, Jakarta semalam.

Pertunjukan yang dibalut dengan tata artistik, musik orkestra, berlatar visualisasi video mapping, dan streaming itu sungguh menghidupkan suasana dan atmosfer panggung. Pertunjukan dibuka Radhar sendiri yang membawakan dua puisi, yakni Politik itu Hutan Anakku dan Ekonomi Plastik.

"Semua kita tahu, segala kita akrabi pada akhirnya semua kita khianati..." ucap budayawan itu.

Kritik serta pesan kepada penguasa disampaikannya secara berani melalui bait-bait puisinya. Pada acara yang diselenggarakan Teater Kosong bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation itu tampil pula sejumlah selebritas, yakni Olivia Zalianty, Marcella Zalianty, Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi, Prisia Nasution, dan Dinda Kanya Dewi.

Puisi yang dibacakan, antara lain, Air Mata Umara oleh Marcella Zalianty, Kamar 608 Hotel M oleh Prisia, dan Sisa di Daster Misna oleh Olivia, Marcella, Dinda, Maudy, Prisia, serta Cornelia. Sementara itu, Maudy Koesnaedi membacakan Massa tak Bermasa.

Tak hanya dibacakan, beberapa puisi juga diekspresikan dalam bentuk lagu oleh grup band Slank dan penyanyi reggae Tony Q Rastafara.

Selain menyinggung situasi perpolitikan saat ini, di dalam puisinya Radhar menyoroti tingkah laku serta kebiasaan politikus, seperti dalam Parlemen Gerutu yang dibacakan Marcella Zalianty. Penonton dibuat tergelitik, misalnya pada bait 'Pantat mana kau wakilkan, rapat-rapat cuma barisan pura-pura....'

Dalam pertunjukan malam itu, para penampil masing-masing membacakan dua buah puisi.

Menurut Radhar, pembacaan puisi dramatik itu merupakan sebuah genre baru pertunjukan yang dimulainya di Indonesia dan Teater Kosong lebih dari 30 tahun lalu.

"Pada 1985 saya memanggungkan kumpulan puisi pertama saya, Simfoni Duapuluh, yang terinspirasi oleh video teatrikal dari album Bad milik Michael Jackson," tutur Radhar ketika jumpa pers yang digelar satu hari sebelum pementasan. (Indriyani Astuti/X-7)

Komentar