PIGURA

Kesatria Sejati

Ahad, 29 January 2017 08:45 WIB Penulis: Ono Sarwono

KETENTERAMAN kehidupan kebangsaan kita belakangan ini rasanya sedang diusik. Biangnya adanya kelompok atau elemen yang terus mengumbar keangkaramurkaan. Selain modusnya memaksakan kehendak, dengan pula mengerahkan massa, sepak terjangnya merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. Dasar negara pun diutak-atik.

Namun, meski itu sungguh menggiriskan, gerak aparat negara tampaknya kurang gereget, terkesan masih ragu-ragu menindak mereka. Padahal, mereka jelas-jelas mengancam entitas kita sebagai bangsa. Bila mereka diulur-ulur, pasti akan semakin menjadi-jadi. Ini akan seperti ungkapan kearifan lokal, 'Diwenehi ati ngrogoh rempela'.

Dihinggapi keraguan

Dalam seni perkeliran, sikap ragu-ragu pernah merasuki jiwa kesatria Pandawa menjelang pecahnya perang Bharatayuda. Persoalan utamanya karena yang mereka hadapi adalah Kurawa, keluarga sendiri, darah daging sendiri. Pandawa dan Kurawa sama-sama trah Raja Astina Prabu Kresna Dwipayana alias Begawan Abiyasa.

Apalagi, menurut persepsi Puntadewa, sulung Pandawa, perang yang tak lain adalah saling bunuh itu hanya untuk memperebutkan kekuasaan Negara Astina. Baginya, bentrok demi memburu kenikmatan duniawi merupakan ekspresi nafsu rendahan. Itu sangat bertentangan dengan keyakinan bahwa misi hidup ialah darma kasih sayang.

Puntadewa memilih tidak ingin berperang melawan Kurawa. Sikap tulusnya itu ia sampaikan kepada paranpara sekaligus botoh Pandawa, Prabu Kresna. Pandawa juga tidak akan berani melawan para sesepuh dan pepundennya sendiri yang berada dalam barisan Kurawa, di antaranya Maharsi Bhisma, Begawan Durna, dan Karna Basusena.

Pandawa memilih mengalah dan tidak masalah takhta Astina, warisan bapaknya (Pandu Dewanata), dikenyam Kurawa.

Kresna tidak kaget dengan sikap Puntadewa. Ia sangat paham luar-dalam adik sepupunya itu. Pun watak adik-adiknya Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa bahwa apa pun yang diucapkan Puntadewa, keempat saudaranya tersebut akan mengikutinya. Karena itu, bila sikap Puntadewa tidak diluruskan, Bharatayuda tidak akan pernah terjadi.

Kresna menjelaskan bahwa perang Bharatayuda sesungguhnya bukan urusan pribadi Pandawa. Itu merupakan persoalan jagat, tentang keadilan marcapada. Kodrat menggariskan bahwa Pandawa, yang merepresentasikan kebaikan, harus melawan Kurawa, yang melambangkan kezaliman.

Lewat kesaksiannya sendiri, dalam sidang paripurna di Kahyangan Jonggring Saloka yang dipimpin Bathara Manikmaya, dewa telah membuat 'skenario' rinci mengenai jalannya Bharatayuda yang dituangkan dalam skrip yang dinamakan Kitab Jitabsara. Dalam buku itu di antaranya tertulis, siapa menghadapi siapa, siapa menang atau yang kalah. Itu sesuatu yang tidak bisa diubah.

Kresna, titisan Bathara Wisnu, itu menambahkan bahwa sejatinya yang dilawan Pandawa itu bukan orangnya, melainkan nafsu keserakahan yang disandang Kurawa. Dengan demikian, Bharatayuda itu perang suci yang mesti terjadi. Pandawa tidak perlu ragu melaksanakan kewajibannya tersebut demi tegaknya keadilan dan ketenteraman jagat.

Petuah Kresna itu seperti mantra yang menyinari kalbu Puntadewa dan adik-adiknya. Mereka tercerahkan bahwa yang mereka perangi adalah nafsu-nafsu kezaliman. Mereka lalu tidak lagi bimbang dan ragu terjun ke kurusetra menghadapi Kurawa yang berbala beribu-ribu.

Karna Tandhing

Meski demikian, di tengah berkecamuknya perang, masih muncul keraguan yang menghinggapi Pandawa, khususnya pada diri Arjuna tatkala sedang berhadap-hadapan dengan saudara kandungnya lain ibu, Karna Basusena. Karna adalah senapati utama pasukan Kurawa.
Arjuna merupakan putra Pandu dengan Kunti Talibrata, sedangkan Karna beribu Kunti Talibrata dari 'benih' Bathara Surya dari Kahyangan Ekacakra. Karna lahir jauh sebelum ibunya, Kunti, dipinang Pandu.

Dalam seni pedalangan, meski lahir dari ayah yang berbeda, secara fisik, Arjuna dan Karna mirip. Sama-sama tampan, pideksa, dan sakti mandraguna. Bahkan, karena sulitnya menemukan perpedaan di antara keduanya, pada suatu ketika Bathara Narada pernah tidak bisa membedakan mereka saat menganugerahi senjata Kuntawijayadanu.

Keraguan Arjuna memuncak ketika sedang sengit-sengitnya adu anak panah, tiba-tiba Karna terdesak. Salah satu roda kereta yang dinaiki Karna dengan sais mertuanya sendiri, Prabu Salya, terperosok ke lumpur. Pada saat itu, Karna sendiri sadar bahwa dirinya bisa menjadi sasaran empuk panah Arjuna.

Sambil berusaha membantu mengangkat keretanya dari kubangan lumpur, Karna berseru kepada Arjuna agar menghentikan sementara pertempuran. Karna mengatakan seorang kesatria tidak akan pernah membunuh lawan yang sedang pada posisi tidak siap.

Pasopati, panah pamungkas, yang semula sudah siap dilepaskan kemudian pelan diturunkan. Arjuna juga paham bahwa Baratayudha bukan perang tanpa aturan. Nista bagi kesatria yang menyirnakan musuh yang sedang dalam kesulitan, tidak dalam konsisi siap berperang.

Dalam detik-detik genting itulah, Kresna, yang menjadi kusir kereta yang dinaiki Arjuna, dengan sigap kembali menyadarkan adik iparnya tersebut untuk tidak ragu bertindak. Ia tekanlah lagi bahwa yang berada di depannya itu adalah lambang ketidakadilan. Harus tega. Kalau tidak berani, keangkaramurkaan akan langgeng.

Menurut pakem, nasihat Kresna kepada Arjuna itu merupakan wejangan Bhagawadgita (nyanyian orang suci) yang sangat masyhur. Pada intinya ajaran itu berisi pengetahuan mengenai rahasia kehidupan (spiritual).

Tanpa membuang waktu, Arjuna lalu melepaskan pasopati dan tepat mengenai leher Karna dan gugurlah sang senapati agung Kurawa. Pertempuran dua bersaudara itu dalam dunia perkeliran dikenal dengan lakon Karna Tandhing.

Elemen sontoloyo

Hikmah cerita ini bahwa kesatria sejati tidak bimbang atau ragu menghancurkan kezaliman. Kesatria mesti tegas dan tanpa kompromi menegakkan kebenaran meski lawannya adalah saudaranya sendiri.
Dalam konteks kebangsaan kini, mengambil nilai dari kisah di atas, negara tidak boleh loyo. Siapa pun mereka, bila gerakannya telah menyenggol kewibawaan negara, aparat tidak perlu berpikir dua atau tiga kali, mesti segera tegas menindak.

Kesatria sejati bhayangkara negara tidak pernah ragu menjemparing siapa pun yang angkara murka. Tanpa kompromi menindak kelompok-kelompok atau elemen-elemen 'sontoloyo' yang membahayakan eksistensi bangsa dan negara. (M-4)

Komentar