Khazanah

Ritual untuk Memohon Keselamatan

Ahad, 29 January 2017 08:15 WIB Penulis: Widjajadi

MI/WIDJAJADI

"Hong wilaheng ngawigena tata winanti....

Mas tuna mas sidhem
Niyat ingsun nyekel menyan
Luhur jati kulite menyan
Dhempul putih kukuse menyan
Sang Hyan Manikmaya putih
Ratuning prahiyangan
Aja gendhak sikara-kara umati Kangjeng Nabi
Muhammad............dst."

BAIT-BAIT doa harapan yang dilafalkan ulama Keraton Kasunanan Surakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Pujo Setiyono Dipura dalam bahasa Jawa Kuno itu berkumandang pelan di tengah pelataran Alas Krendowahono, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Kamis (25/1) siang.

Suasana sakral pun begitu terasa, ketika setiap seusai lafal bait harapan diucapkan, disambut dengan jawaban kata 'rahayu' oleh ratusan abdidalem dan sentanadalem Keraton Kasunanan yang duduk simpuh di belakang dan samping Kanjeng Pujo. Yang terpapar di atas merupakan bagian dari prosesi ritual adat Keraton Kasunanan yang disebut sebagai Upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung.

Suasana kejawen sangat kuat. Ditingkahi bau aroma kemenyan yang dibakar di depan punden batu bersandar sebuah pohon besar berumur ratusan tahun, prosesi sesaji untuk tujuan keselamatan sekaligus menyelaraskan alam dengan nasib manusia berlangsung khidmat.

Bagi Keraton Kasunanan Surakarta, alas atau hutan Krendawahono memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan keraton. Dalam jagat gaib, hutan ini merupakan lawang gapit atau pintu masuk keraton di sisi utara. Kekuatan mahkluk gaib hutan Krendawahono dipercaya mampu menghalau segala bentuk kekuatan jahat yang akan masuk keraton.

Di tengah hutan yang kini sudah tidak seberapa luas itulah, keraton setiap tahun menggelar ritual Mahesa Lawung, yang dilangsungkan setiap Selasa atau Kamis, pada bulan penanggalan Jawa, Rabiulakhir.

"Merupakan bentuk sesaji kepada Dewi Kalayuwati, penunggu hutan Krendawahono yang diyakini sebagai penjaga Keraton Surakarta di sisi utara dari dunia gaib," ungkap Wakil Pengageng Sasana Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno kusumo kepada Media Indonesia seusai ritual adat yang disambut hujan.

Keraton Kasuanan menggelar ritual adat sesaji ini sejak masa Raja Surakarta Paku Buwono II, seusai memindahkan Keraton Kartasura yang sudah hancur karena terbakar ke Desa Sala sebagai Nagari Surakarta Hadiningrat pada 1670. Gelaraan sesaji diselenggarakan sang raja setelah sepanjang 100 hari sejak pergantian nama, keraton memperoleh berkah keselamatan.

Ritual sesaji Rajawedha

Menurut Kanjeng Winarno, jauh sebelum keberlangsungan adat Mahesa Lawung, sebenarnya ritual-ritual memohon keselamatan sejenis, sudah ada sejak zaman jauh sebelum Kerajaan Majapahit dengan nama ritual sesaji Rajawedha. "Sedang yang terjadi di tingkat desa yang juga berlanjut sampai sekarang ini, disebut dengan gelaran upaca bersih desa. Tujuannya sama, yakni memohon keselamatan," imbuh Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan.

Prosesi sesaji Mahesalawung berawal dari Ndalem Gondorasan, yang merupakan dapur Keraton Kasunanan. Seluruh bahan sesaji disiapkan dan dimasak di dapur keraton dan seusainya, aneka sesaji yang meliputi jajan pasar, ingkung, kelapa muda, nasi kebuli, dan kepala kerbau lengkap dengan kaki dan jeroan yang dibungkus plastik putih itu dibawa ke Sasana Maliki untuk diketahui kelengkapannya, baru kemudian didoakan di Sitinggi Keraton. Setelah itu baru dibawa ke Alas Krendhowahono yang berjarak 20 km, arah utara. Potongan kepala kerbau menjadi inti dalam upacara sesaji Mahesa Lawung.

Kali ini, korban kerbau merupakan kerbau bule yang didatangkan dari Demak. Hewan yang akan ditanam di Alas Krendowahono itu bukan sembarang kerbau. Itu pun harus kerbau berjenis jantan yang belum pernah dipekerjakan dan belum pernah kawin.

"Istilahnya kerbau bujang yang diliarkan. Dalam istilah Jawa disebut sebagai Joko Umbaran," papar Kanjeng Win sekali lagi.
Ritual Mahesa Lawung tegas Kanjeng Win mengandung banyak makna dan filosofi. Selain memohon keselamatana dan keselarasan alam, itu dimaksudkan sebagai upaya memberantas kebodohan dalam kehidupan.

"Dengan mengubur kepala kerbau yang masih muda, dimaksudkan juga untuk mengubur kebodohan. Karena memang dalam kehidupan ini, kerbau disimbulkan sebagai hewan bodoh. Bahkan ada istilah Jawa, 'Bodo longa longo koyo kebo'. Demikian pula dalam Mahesa Lawung ini," tegas sentana sepuh Keraton Kasunanan itu sekali lagi. (M-2)

Komentar