Wirausaha

Meriahnya Resepsi, Sedapnya Oleh-Oleh

Ahad, 29 January 2017 06:15 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/Adam Dwi

CHRISTINA Susanto, 30, boleh saja menghabiskan kehidupan sehari-harinya di atas kursi roda karena osteogenesis imperfecta (OI) yang diidapnya sejak lahir. Namun, dua bisnis dikelolanya sekaligus, wedding organizer (WO) dan toko oleh-oleh makanan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

"Dua bisnis ini bisa saling mengisi waktu sehari-hari. Karena untuk bisnis WO, tidak setiap minggu atau setiap bulan bisa mendapatkan klien. Ketika sedang tidak ada klien, saya bersama sang adik, Theresia Yuniati, bisa lebih fokus mengurusi toko oleh-oleh," kata Nina, panggilan akrabnya.

Kepada Media Indonesia, Nina berkisah sejak masih usia dini telah menyukai hal-hal berbau acara pernikahan. Kerap hadir di acara pernikahan saudara dan teman-temannya menjadi inspirasinya memilih bisnis.

Melihat gairah Nina, pada 2011 ketika kedua orang tuanya akan merayakan hari jadi ke-25pernikahan, mereka memercayakannya kepada Nina dan sang adik. "Saya dan adik memang tidak bisa bergerak ke sana ke sini, tapi kami yang menjadi perancang di acara ini. Kami meminta bantuan teman dan saudara untuk masalah operasionalnya," tutur Nina.

Awalnya, pesta orangtua

Bersama sang adik dan teman-teman yang bertugas di acara pesta itu, Nina memutuskan melanjutkan WO tersebut ke ranah bisnis hingga pada 2012 WO bernama Carnation berdiri.

"Carnation itu artinya bunga cinta, memang persahabatan saya dengan teman-teman yang membentuk WO ini sudah terjalin lama dan begitu akrab," jelas Nina yang menjadi motor bisnis itu, dibantu sang adik dan dibantu 8 hingga 15 kru.

Satu demi satu klien digarap Nina. Dalam bisnisnya, Nina selalu menawarkan dua jenis persiapan, yakni wedding planner dan wedding organizer.

Jasa wedding planner, lanjut Nina, meliputi persiapan dari awal seperti menyesuaikan bujet, mencari vendor, menemani klien berburu keperluan, memberikan saran, dan hari pernikahan.

"Biasanya kalau dapat klien seperti itu, kami sudah bekerja jauh-jauh hari, bahkan bisa dari satu tahun sebelumnya. Di kerjaan wedding planner ini, kebanyakan pasangannya tinggal di luar negeri dan harus menikah di Jakarta sehingga tidak ada waktu untuk mengurusnya," papar Nina yang mematok tarif Rp10 juta-Rp20 juta untuk jasa morning call atau panggilan mengingatkan, penjemputan, hingga memastikan ritual pernikahan secara agama serta resepsi berjalan sesuai rencana.

Setelah hampir lima tahun bisnisnya berjalan, Carnation lebih banyak menerima pekerjaan berupa WO. Saat ini sudah lebih banyak pasangan calon pengantin yang mau mengurus segala sesuatu persiapannya sendiri.

"Kebanyakan klien kita meminta jasa WO, rasionya sekitar 80-20. Karena kalau untuk persiapan awal, kebanyakan sudah bisa diurus tiap-tiap calon karena memang sudah mudah diakses dan banyak juga pameran wedding," ungkap Nina yang WO-nya dalam setahun menangani enam hingga delapan klien.

Bandung hingga Bangka

untuk bisnis toko oleh-olehnya, Nina mengawalinya dari lahan kosong yang dimilikinya. "Melihat lokasinya tepat bersebelahan dengan bisnis keluarga di bidang kuliner, saya menggabungkan dengan kuliner juga. Awalnya itu mau buka toko baju, tapi kayaknya kurang cocok karena sebelahnya itu rumah makan," tutur Nina.

Toko oleh-oleh Omah Ngemil alias Omil ini mulai beroperasi pada 17 Agustus 2016, dan menjual makanan khas daerah, seperti Bandung, Surakarta, Bali, Surabaya, dan Bangka.

"Banyak orang Jakarta yang kerap kangen dengan makanan-makanan daerah ketika sedang tidak berlibur. Mungkin juga pas ke luar daerah tidak sempat beli ketika ke luar kota, juga malas pesan online, jadi belinya bisa disini," jelas Nina yang mematok harga Rp8.000-Rp90 ribu di tokonya.

Aneka kue, keripik, kerupuk, minuman, hingga cabai khas daerah dijual di Omil. Mulai pie susu bali, sambel surabaya, kerupuk bangka, keripik tempe salatiga, pia mangkok malang, keripik pisang lampung, dan masih banyak lagi.

"Ketika saya memilih produk yang akan dijual, saya tidak mau sembarang apalagi tidak mengetahui rasanya. Kebanyakan produk yang saya jual di sini pasti sudah saya coba dulu, kalau enak dan saya rasa cocok untuk pelanggan, pasti saya jual," kata Nina yang mendesain tokonya minimalis modern, mementingkan kerapian, kebersihan, dan kenyamanan dalam berbelanja.

"Biasa kan toko oleh-oleh itu kan jarang yang konsepnya minimalis dan rapi. Justru itu yang kita terapkan supaya pelanggan bisa nyaman dan santai selama berbelanja," pungkas Nina. (M-1)

Komentar