Features

Aroma Bhineka Tunggal Ika di Sudut Jatinegara

Sabtu, 28 January 2017 19:16 WIB Penulis: Yanurisa Ananta

ANTARA/Ujang Zaelani

AROMA dupa dan berbagai ornamen berwarna merah, menghiasi rumah Cici Khi Wa di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Bekasi Timur IV No 11 RT 006 RW 008, Cipinang Besar Utara. Saat Media Indonesia berkunjung ke rumahnya Sabtu (28/1) sore itu, sanak keluarganya tengah berkumpul.

Mereka bersilaturahim merayakan Tahun Baru Imlek. Sesekali tetangga sekitar juga mampir, sekadar bersalaman dan mengucapkan selamat. "Seperti di tahun-tahun sebelumnya kami membuka pintu rumah kami untuk siapa pun," ujar Khi Wa.

Perempuan itu mengungkapkan, sebagai keturunan Tionghoa, dia dan keluarganya merayakan Imlek atau yang lazim dikenal dengan Tahun Baru Cina. Meski agama yang dianut masing-masing anggota kini berbeda, tradisi itu tetap mereka hormati. Menurut Khi Wa, saudaranya ada yang beragama Islam, Protestan, Katolik, serta Buddha.

Yudi, 40, salah satu saudara dari Khi Wa yang beragama Islam, turut hadir sore itu. Ia mengatakan, keluarganya memang berasal dari beragam budaya. Kakeknya keturunan Tionghoa, sementara Ibunya keturunan Sunda. Namun, ia tetap menghargai pilihan agama setiap anggota keluarganya.

"Saya tetap menikmati perayaan Imlek. Anak-anak saya juga senang sekali karena dapat angpao," tuturnya tertawa.

Di kawasan Jatinegara memang banyak warga Tionghoa. Mereka tinggal berbaur dengan penduduk lainnya. Di situ juga ada vihara, tepatnya di Jalan Raya Jatinegara Timur No.102, RT 02 RW 03, Kelurahan Bali Mester. Namanya Vihara Avalokitesvara. Berdasarkan pantauan Media Indonesia, sejak siang beberapa keluarga terus berdatangan ke vihara tersebut.

Maria, 64, salah seorang pengunjung vihara mengaku datang dari Jakarta Selatan untuk beribadah sore itu. Ketika Media Indonesia iseng menanyakan soal segala bentuk intoleransi yang terjadi akhir-akhir ini, perempuan paruh baya itu mengatakan."Sangat miris memang melihat banyaknya aksi intoleransi di Jakarta. Kita semua kan bersaudara. Semoga di tahun ini tidak ada lagi," harapnya.

Hal senada dikatakan Lucy, 57, pengunjung vihara lainnya. "Buddha dan semua agama sudah pasti mengajarkan kebaikan. Segala aksi teror atas nama suku dan ras tergantung kepada setiap individunya. Di kalangan umat Buddha juga terdapat oknum yang mudah sekali terprovokasi," ujarnya.

"Buddha mengajarkan untuk saling mengasihi. Islam dan Kristen pun mengajarkan hal yang sama. Pintar-pintar kita jaga diri saja. Karyawan-karyawan saya juga ada yang beragama Islam dan semua saya perlakukan sama," imbuhnya.

Jelang senja, kawasan Jatinegara dan sekitarnya yang sejak siang digayuti mendung, mulai diguyur hujan. Air yang tercurah dari langit lantas membasahi apa saja yang ada di tanah, tanpa memilah. OL-2

Komentar