Tifa

Penghadiran dalam Ketiadaan

Ahad, 29 January 2017 04:30 WIB Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2)

MI/ABDILLAH M MARZUQI

SEORANG wanita tengah duduk di kursi sofa. Kedua tangannya tertelungkup di atas paha. Duduk dengan bersahaja. Objek berupa wanita itu digambar dengan warna yang lebih tajam dan jelas. Ada yang unik dengan gambar itu, sebab masih ada satu gambar lain dengan objek yang sama yakni wanita. Wanita yang sama juga berada pada latar gambar dengan posisi tangan berbeda. Jika sebelumnya kedua tangan telungkup, kini kedua tangan berada pada bahu kursi sehingga menampak jari manis yang berlingkar cincin.

Dua gambar objek itu diletakkan pada posisi sebidang sehingga terlihat saling menumpuk. Namun, hal itu tidak menciderai pandangan, sebab salah satu objek digambar dengan warna yang lebih kuat. Lukisan itu berjudul After Midday (2016, 150x190 cm) karya Windi Apriani. Beragam ukuran, mulai 1 meter hingga hampir mencapai 2 meter. Bukan hanya karya itu, masih ada 11 karya lain Windi yang bergantung tersebar di dua ruangan pamer. Kala itu, Windi Apriani tengah berpa­meran tunggal di Edwin Gallery Jakarta pada 24 ­Januari-4Februari 2017. Sebanyak 12 karya ditampilkan dengan beragam ukuran, mulai 1 meter hingga hampir mencapai 2 meter.

Bertajuk Tracing Subtle Signs (Menelusuri Tanda-Tanda yang Tersirat). Beberapa dari 12 karya Windi senapas dengan menghadirkan objek berupa potret diri seorang wanita dengan latar sebuah ruangan. Ia juga menghadirkan benda-benda dalam relativitas ruang dan waktu. Ia menggambarkannya dalam representasi berlapis dan tembus pandang, mengandung dimensi pergeseran waktu, menyatukan realitas yang terpisah dan sebaliknya. “Secara keseluruhan dalam proyek pameran tunggal kali ini kita diarahkan Windi untuk melihat pergeseran cara pandang eksistensi tanpa kehadiran identitas fisik,” begitu menurut A Rikrik Kusmara dalam kuratorial.

Metafisik dan kultural
Dalam pameran ini, Windi menyeimbangkan kehadiran sosok potret diri dengan penggambaran dan permainan cahaya. Windi mendekonstruksi realitas melalui olah digital dengan proses seleksi dan eliminasi pada struktur dan kualitas foto, lalu mengolahnya dengan penggambaran ritmik kain yang lebih intens dan teknik arsir yang sangat rumit sekaligus kompleks. Ia juga menggabungkan cahaya dan kain sebagai representasi hal yang metafisik dan kultural. “Proposisi yang ditawarkan Windi dalam proyek pameran tunggal kali ini adalah pendekatan tafsir atas ­metode artistiknya,” jelas Rikrik.

Menurutnya, Windi tidak melakukan perubahan drastis pada teknik maupun pola struktur representasi dalam karya-karyanya. “Windi lebih fokus menelusuri seluruh tahap proses artistiknya untuk menguatkan dan memperkaya pernyataan seninya,” begitu menurut Rikrik. Itu seperti karya berjudul After Midday, Gust of, Muted Colour I, Muted Colour II, Quiet Here, Remnant Lights I, Remnant Lights II, dan Window. Namun, pada beberapa karya, Windi menghilangkan gambaran potret diri. Tidak banyak properti dalam bingkai kanvas Windi, objek dominan hanya kain, kursi, meja kecil, dan jendela. Seperti alam karya Shade in Kamis, Shade in Senin, Covered by Morning 6.25, dan Covered by Morning 7.14.

Menikmati karya Windi akan membawa intuisi merajuk. Pertama bolehlah hanya melihat kanvas itu sebagai bingkai objek dari warna yang lebih kuat. Namun, mencermati lebih lanjut, ternyata masih ada lapisan lain yang menggoda tahap kesadaran dan permenungan akal budi, sedangkan seni akan mengasah dan mempertajamnya. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar