Tifa

Bhinneka Tunggal Ika dalam Tradisi Bunyi Toraja

Ahad, 29 January 2017 04:00 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi Abdi@mediaindonesia.Com

MI/ABDI TERISTI HARDI

TUJUH wanita tua berhadapan. Tidak sama jumlah memang, di sebelah kiri empat wanita, sedang tiga sisanya berada di sisi kanan. Di antara mereka hanya terpisah sebuah issong, sebutan masyarakat Toraja untuk menunjuk lesung. Penumbuk padi itu membujur utara selatan. Cukup mudah menandainya, sebab di sebelahnya ada rumah adat tongkonan. Semacam penunjuk arah, rumah adat masyarakat Toraja itu selalu membujur utara-selatan. Ma’tumbuki, demikian masyarakat sekitar menyebut untuk menumbuk padi. Padi menempati posisi penting dalam masyarakat Toraja. Kepercayaan Aluk Todolo mencatat bahwa padi adalah tanaman dan makanan yang dipelihara dan dibina Dewata sehingga diberi penghormatan yang layak oleh manusia.

Bunyian lesung itu tercipta dari posisi alu atau penumbuk yang berbeda-beda. Ditambah lagi perbedaan bagian lesung yang dipukul pun akan menghasilkan bunyian tak padan. Setiap bagian lesung punya ketebalan yang berbeda. Selain posisi alu dan bagian lesung, masih ada yang menjadikan bunyian itu terdengar indah, yakni hitung pukulan yang berbeda dari setiap pemukulnya. Boleh jadi, tradisi tabuh lesung lazim ditemui pada kebudayaan di Indonesia. Tradisi itu biasa ditemui pada masyarakat yang akrab dengan gugus budaya bercocok tanam padi. Di Yogyakarta, misalnya, terdapat tradisi Gejog Lesung. Tradisi itu merupakan bentuk syukur atas hasil panen padi yang melimpah.

Pada tradisi Toraja, tabuh issong tidak ditampilkan sembarangan. Tidak pula setiap aktivitas boleh disertai dengan tabuh issong. Hanya acara khusus seperti rambu solo’ (upacara kematian) ataupun rambu tuka’ (upacara syukuran), termasuk juga to’ kawin (perkawinan) dan saat ma’ rara banua (syukuran rumah). Di samping peruntukan yang terbatas, tabuh issong juga hanya boleh dilakukan pada upacara yang dihelat bangsawan Toraja. “Tidak semua orang bisa pakai, bangsawan yang pakai. Untuk pemakaman, pernikahan, dan syukuran rumah,” terang salah seorang pemukul issong Ma’ Sari. Begitupun saat itu, tabuh issong dilakukan untuk menghormati kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta rombongan di Rumah Jabatan Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae pada 22 Januari 2017. Dalam rombongan itu, ikut pula Ibu Wapres Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

Menyambut tamu
Selain issong, masih ada pa’pompang, yakni salah satu jenis musik tradisional Toraja yang terbuat dari bambu. Alat musik itu dimainkan secara berkelompok. Kala itu, Pa’pompang dimainkan SDN 118 Santung, Kecamatan Pango Pango, Kabupaten Tana Toraja. Puluhan siswa itu memainkan Rampomo To Mambela yang berarti rombongan tamu telah tiba. “Itu ­untuk menyambut tamu juga,” terang dirigen pa’pompang Samuel Lingi.

Pa’pompang biasanya terdiri dari 25 atau 35 orang, termasuk peniup suling. Alat musik ini bisa dimainkan oleh semua orang, mulai anak kecil sampai orang ­dewasa. Selain dipergunakan sebagai musik ­pengiring dalam kebaktian di gereja, Pa’pompang sering juga dipentaskan dalam acara khusus komunitas masyarakat Toraja di berbagai daerah, seperti acara-acara pernikahan. Jenis musik tradisional Toraja yang terbuat dari bambu itu ­dimainkan secara kelompok. ­Biasanya ­memainkan dengan lagu-lagu rakyat, perjuangan, dan rohani.

Seperti halnya masyarakat Sunda di Jawa Barat dengan alat musik angklung, masyarakat Toraja juga punya alat musik bambu. Di Tana Toraja, penduduk setempat menyebutnya dengan pa’pompang atau pa’bas karena suara bas yang lebih dominan terdengar. Berbeda dengan angklung yang dibunyikan dengan cara digerakkan. Musik bambu Toraja merupakan jenis alat musik yang ditiup. Alat musik bambu dibentuk dari perpaduan potongan-potong­an bambu yang berukuran kecil dan ­besar. Besar-kecilnya ukuran ­bambu berpengaruh pada nada yang akan dihasilkan ketika ditiup.

Potongan bambu yang besar dan tinggi menghasilkan nada rendah dan sebaliknya potongan bambu yang kecil menghasilkan nada tinggi. Potongan-potongan bambu dilubangi dan dirangkai sedemikian rupa agar bisa menghasilkan ­bunyi. Biasanya potongan-potongan bambu diikat dengan rotan agar ­lebih kuat menyatu, sedangkan celah sambungan antarbambu ­ditutupi dengan ter atau aspal agar suara yang dihasilkan bulat dan ­tidak cempreng. Bambu yang dipilih untuk membuat alat musik ini adalah bambu yang tipis serta memiliki ruas yang panjang, tua, mulus, dan lurus. Hal ini tentu saja didukung alam Toraja yang memang kaya dengan aneka jenis bambu.

Dalam tabuh issong, semua sa­ling mengisi dan saling melengkapi. Beda hitung pukul, tak sama bagian lesung, lain posisi alu, tapi tetap saja serasi dan harmonis dalam bunyi. Begitupun dalam pa’pompang, beda ukuran bambu, lain nada yang dihasilkan. Semua menjadi indah dan harmoni jika mampu menggelolanya. Perbedaan akan indah jika dikelola secara bijak. Perbedaan adalah anugerah layaknya ­Bhinneka Tunggal Ika. (M-2)

Komentar