Lingkungan

Jokowi Berharap tidak Ada Titik Api di 2017

Senin, 23 January 2017 13:43 WIB Penulis: Yogi Bayu Aji

MI/Ramdani

PRESIDEN Joko Widodo bersyukur titik api pada 2016 lalu turun 82%-83% jika dibandingkan dengan 2015. Ia berharap, tidak ada lagi titik api di 2017.

"Kita harapkan 2017 ini tidak terjadi. Kalau kita lihat titik api di 2015, betul-betul merah semuanya," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (23/1).

Menurut dia, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2015 membuat pemerintah harus pontang-panting bekerja. Peristiwa tersebut juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.

"Ekonom menghitung, dampak karena pembatalan penerbangan, dampak karena perkantoran yang libur, dampak karena aktivitas ekonomi yang berhenti dengan angka yang tidak sedikit, (semuanya) Rp220 triliun kurang lebih, angka yang sangat besar sekali," jelas dia.

Peristiwa ini juga menyebabkan 504 ribu warga terserang infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan 2,6 juta hektar hutan rusak.

Jokowi mengaku senang upaya Pemerintah menekan kebakaran hutan pada 2016 cukup berhasil. Namun, ia mengingatkan publik tak boleh lengah menangani titik api pada 2017. Pasalnya, kata dia, BMKG memprediksi kondisi lahan gambut bakal lebih kering tahun ini.

Pemerintah daerah pun didorong menetapkan siaga darurat sejak dini tanpa menunggu api benar-benar besar. Jokowi menuturkan, hal itu harus jadi perhatian kepala daerah yang memiliki wilayah rawan terbakar.

"Perkuat sistem deteksi dini. Terutama Riau, Kalbar, Kltim, Kalteng, dan Papua. Semua unsur harus aktif lakukan pengecekan langsung di lapangan, jangan memantau dari belakang meja," pungkas dia. (MTVN/X-12)

Komentar