Inspirasi

Menularkan Virus Nontunai ke Masyarakat

Senin, 23 January 2017 06:30 WIB Penulis: Adhi Muhammad Daryono

MI/ARYA MANGGALA

PERKEMBANGAN teknologi digital semakin pesat merambah ke segala bidang. Berkat teknologi digital, segala kegiatan, khususnya yang berkaitan dengan ekonomi, juga menjadi semakin lebih mudah.

Berkat teknologi digital, kini aktivitas berbelanja pun menjadi lebih mudah.

Di negara maju, kini semakin jarang orang melakukan transaksi dengan menggunakan uang tunai.

Cukup dengan menggesek kartu kredit, debit, atau dengan menggunakan kartu prabayar isi ulang, transaksi tuntas sehingga dompet tidak perlu lagi sesak oleh lembaran-lembaran kertas uang tunai.

Tren menggunakan 'uang plastik' tersebut kini juga mulai merambah ke Indonesia.

Memang intensitasnya belum sebanyak di negara maju.

Namun, bagi Director and Country Manager of Visa Indonesia Harianto Gunawan, hal ini justru menjadi peluang.

Pasalnya, potensi untuk mengembangkan sistem pembayaran nontunai itu masih besar pangsanya.

"Indonesia itu masih sangat luas dan sangat besar opportunity-nya untuk mengembangkan sistem pembayaran nontunai atau membangun sistem cashless society," ujar Harianto, saat ditemui Media Indonesia, di kantornya, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Indonesia, kata Harianto, penggunaan sistem pembayaran nontunai masih di bawah 10%.

Jadi 90% lebih masyarakat kita masih menggunakan pembayaran tunai.

Penggunaan transaksi konvensional itu masih terjadi di berbagai sektor, seperti sektor ritel dan sektor pariwisata.

"Secara keseluruhan, Indonesia populasi masih cash. Khususnya dari sektor ritel dan pariwisata. Kita lihat ini justru potensinya sangat besar," ujar dia.

Menurut dia, memang perlu sosialisasi dan edukasi yang luas kepada masyarakat agar menggunakan pembayaran nontunai yang cepat dan efisien ini.

Tantangan untuk membangun masyarakat nontunai atau cashless society, untuk mengajak masyarakat, kata Harianto, bukan hanya tugas salah satu perusahaan, tetapi semua pihak yang terkait.

"Di Indonesia itu pembayaran nontunai masih sangat kecil maka dari itu kita bersama-sama bisa membangun, baik itu Bank Indonesia (BI), pemerintah, industri, dan masyarakat tentunya," papar pria lulusan dari University of California ini.

Memang, tantangan selain sosialisasi dan edukasi mengajak masyarakat untuk beralih ke pembayaran secara elektronik ini ialah masalah infrastruktur.

"Bukan saja masalah infrastruktur fisik, melainkan juga infrastruktur virtual seperti jaringan komunikasi yang tentunya menunjang pada sistem pembayaran nontunai perlu ada percepatan pembangunan. Sangat dasar mempunyai infrastruktur. Infrastruktur kami bagaimana alat pembayaran dengan cahsless bisa diperluas secara seluas-luasnya," jelas Harianto.

Harianto menerangkan bahwa penggunaan sistem pembayaran nontunai yang semakin luas justru akan berdampak pada meningkatnya angka konsumsi domestik dan produk domestik bruto (PDB).

"Kalau saya baca hasil riset dari Moody's Analytics setahun lalu, kesimpulannya adalah meningkatnya penggunaan pembayaran nontunai akan berdampak kepada peningkatan konsumsi domestik dan PDP selain itu juga menambahnya lapangan pekerjaan," papar Harianto.

Terlebih lagi saat ini perkembangan industri financial technology (fintech) dan sejumlah perusahaan startup e-commerce terus berkembang serta sangat bergantung pada teknologi pembayaran dengan sistem nontunai.

"Sudah pasti kita akan terus bekerja sama dengan semua pemain di industri, perbankan, pemerintah, dan toko-toko merchant. Sekarang ini semua orang berbicara fintech start-up company," tuturnya.

Perekonomian membaik

Harianto pun bercerita di tengah kondisi perekonomian dan politik dunia yang memengaruhi Indonesia, dirinya yakin perekonomian akan terus membaik dari masa ke masa.

"Dari beberapa tahun terakhir perkembangan ekonomi Indonesia sangat stabil karena ditunjang beberapa faktor. Contohnya political situation sangat stabil yang bisa terkendali," tambah dia.

Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.

"Ini menjadi salah satu kekuatan."

Kondisi itu, lanjutnya, diiringi dengan konsumsi domestik yang besar dan berjalan dengan baik serta keadaan politik yang positif sehingga dampaknya ekonomi Indonesia akan terus membaik.

"Kita lihat sekarang dengan kepemimpinan Presiden Joko Widodo, negara-negara lain sangat respect. Saya rasa ini sangat positif bagi Indonesia. Kita enggak khawatir. Selama kondisi politik kita stabil dan konsumsi domestik tetap berjalan dengan baik, itu akan menjadi satu alat baik. Apa pun yang akan memengaruhi di luar sana," tuturnya.

Hobi membaca

Di sela-sela kesibukannya sebagai Director and Country Manager of Visa Indonesia, Harianto selalu menyempatkan membaca.

Bacaan yang menjadi favoritnya ialah majalah gaya hidup dan otomotif.

Bahkan, karena seringnya dia membaca dan mengoleksi majalah otomotif, dirinya pun sering menjadi referensi koleganya jika ingin membeli mobil, motor, atau perlengkapan otomotif lainnya.

"Saya juga sering kebanjiran pertanyaan referensi dari teman-teman saya kalau mereka mau beli mobil. Tapi saya tidak menyarankan berdasarkan merek. Saya sekadar saran berdasarkan referensi yang saya baca saja," cerita Harianto dengan ungkapan yang ceria.

Meskipun bekerja dan bergelut di dunia perbankan, justru Harianto pada saat membaca berita-berita ekonomi atau pun perbankan tidak terlalu mendetail.

"Bahkan saya, kalau baca berita-berita ekonomi, saya cukup baca judulnya saja," kata Harianto.

Selain penggemar otomotif, Harianto setiap akhir pekan selalu mengajak keluarganya pergi menonton di bioskop.

Namun, yang dirasakan Harianto bukanlah film yang dia tonton, melainkan sensasi duduk di kursi bioskop.

"Makanya saya kalau pergi ke mana-mana, di luar negeri misalnya, saya selalu ingin tahu bagaimana suasana bioskop di sana," ceritanya.

Menurut pria penggemar film patriotik itu, setiap negara memiliki karakteristik dan kebersihan bioskop yang berbeda-beda.

"Saya rasa bioskop-bioskop di Indonesia saat ini sudah sangat baik dan bersih jika dibandingkan dengan bioskop di negara lain. Bahkan Singapura dan Australia masih kalah dengan bioskop di Indonesia yang nyaman dan bersih," pungkasnya dengan tawa ceria. (E-4)

BIODATA

Nama: Harianto Gunawan

Pendidikan: Bachelor of Science dari University of California, Irvine di Amerika Serikat.

Karier:
November 2016 - sekarang Direktur dan Country Manager PT Visa Worldwide Indonesia
Juli 2007 - November 2016 Director, Head of Sales PT Visa Worldwide Indonesia
Agustus 2006 - Juni 2007 Vice President and Group Head of Credit Card and Merchant Business di PT Bank Lippo Tbk
Maret 2002-Juli 2006 Deputy Country Manager Visa Internasional
September 1996 - Maret 2002 Head of Merchant Business and Area Coordinator PT Bank Internasional Indonesia

Komentar