PIGURA

Sang Pelaksana Tugas

Ahad, 22 January 2017 11:00 WIB Penulis: Ono Sarwono

DALAM sistem administrasi negara kita dikenal adanya pelaksana tugas yang sering disingkat Plt. Biasanya, seorang Plt ditunjuk pejabat di atasnya. Dalam konteks pilkada, Plt (gubernur, bupati, wali kota) menggantikan kepala daerah resmi yang sedang cuti berkampanye terkait dengan pencalonannya kembali.

Karena sifatnya sementara, Plt tidak dapat melaksanakan semua portofolio yang diberikan pada jabatannya itu. Penunjukannya hanya demi kelancaran kegiatan administrasi sehari-hari. Jabatan itu dikembalikan setelah pejabat yang sah menghabiskan preinya.
Terkait dengan itu, Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono belakangan ini ramai dirasani. Sebagai pejabat acting, 'aktingnya' dinilai laku lajak, bertindak sebagaimana gubernur sungguhan. Konon, ia membuat sejumlah kebijakan yang dianggap melewati garis-garis Plt.

Punya integritas

Dalam jagat wayang, ada pula kisah Plt raja yang menarik untuk disimak. Akibat tidak eling--persisnya elingnya tenggelam akibat dikelabui pihak lain, dan juga tidak waspada, sang Plt keliru mengambil kebijakan yang berakhir fatal. Sosok itu bernama Drestarastra, Plt raja Astina.

Cerita ini berawal ketika Raja Astina Prabu Pandu Dewanata pamit untuk menjalani hukuman dewa. Pandu menghadapi sanksi disiksa di Kawah Candradimuka sebagai konsekuensi atas kelancangannya menunggangi lembu Andini bersama Madrim. Istri keduanya itu pada waktu itu memang sedang mengidam naik tunggangan eksklusif Bathara Manikmaya, raja Kahyangan Jonggring Saloka.

Pada suatu hari, dalam pasewakan agung Astina yang lengkap dihadiri sentana dalem dan nayaka praja, Pandu mengatakan sudah tiba waktunya dirinya meninggalkan dunia fana. Ia menitipkan takhta Astina kepada kakaknya lain ibu, Drestarastra. Pandu berpesan bila anak-anaknya (Pandawa) sudah dewasa, kekuasaan negara diberikan kepada mereka.

Drestarastra berjanji akan merawat wasiat adiknya itu. Ia juga berkomitmen tidak akan mengutak-atik apa pun kebijakan yang telah digariskan sang raja. Pun ia tidak akan mengeluarkan kebijakan yang bukan menjadi kewenangannya.

Pandu menunjuk Drestarastra karena sang kakak telah terbukti integritasnya. Bila dilihat dari track record-nya, Drestarastra ialah sosok yang jujur, arif, dan bijaksana. Sedikit kelemahannya, pendiriannya agak rapuh. Tapi dalam hal kekuasaan, ia telah semeleh, tidak memiliki ketertarikan.

Bukti kuatnya, takhta Astina itu sesungguhnya miliknya. Sesuai dengan konstitusi negara, ia berhak sepenuhnya atas kekuasaan tersebut karena posisinya sebagai putra sulung raja sebelumnya yang juga bapak kandungnya sendiri, Prabu Kresna Dwipayana.
Sungguh di luar kebiasaan. Drestarastra menolak haknya itu ketika sang ayah lengser keprabon (meletakkan jabatan raja). Ia matur kepada bapaknya agar tampuk kekuasaan diberikan kepada Pandu. Kebesaran dan kelegawaan hatinya itu dilandasi atas kesadaran akan kekurangan pada dirinya. Sejak orok, Drestarastra, yang lahir dari rahim Dewi Ambika, menderita cacat netra alias buta.

Drestarastra memutuskan bahwa dirinya tidak layak menjadi raja. Pemahamannya, pemimpin itu mesti sentosa lahir-batin karena menjadi raja bukan tanggung jawab enteng. Itulah prinsip luhurnya dan itu pulalah bentuk ketulusan cintanya kepada bangsa dan tanah air.

Namun, di balik watak mulia sang Drestarastra, secara diam-diam istrinya, Dewi Gendari, bertolak belakang sikapnya. Ia siang malam merancang angan-angan dan itu harus berbuah kenyataan. Ia sampaikan ambisinya secara rahasia kepada adiknya, Harya Suman.
Gendari meminta Suman, yang juga ikut mengabdi di Astina, berusaha bagaimana caranya agar anak-anaknya (Kurawa) bisa berkuasa di Astina. Gendari merajuk karena sejatinya takhta Astina milik suaminya. Bila tidak berkenan, semestinya kekuasaan itu diwariskan kepada anaknya.

Niat jahat

Pada suatu ketika, Drestarastra merasa sudah waktunya mengembalikan titipan kepada anak Pandu. Ia menggadang Puntadewa, sulung Pandawa, sebagai penerusnya. Atas usul Suman, sebelum penobatan digelar pahargyan (pesta penghormatan) dengan mengundang raja-raja negara sahabat.

Suman sendiri sebagai pemimpin proyek. Ia merancang bangunan besar sebagai tempat pesta yang diarsiteki Puracona, bekas pasukan musuh yang takluk. Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang mudah terbakar.

Drestarastra tidak mengira sesungguhnya itu siasat jahat Suman untuk melenyapkan Pandawa (Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten). Karena hanya dengan itu, Kurawa bisa menduduki singgasana.

Pesta berlangsung meriah. Setelah pesta usai dan tamu kembali ke negara mereka masing-masing, tinggal Pandawa dan Kurawa (putra-putri Drestarastra-Gendari yang berjumlah 100 orang) yang berada dalam balai tersebut. Mereka menginap di tempat tersebut. Namun, Suman diam-diam mengatur siasat. Ia meminta Kurawa tetap terjaga dan kemudian meninggalkan tempat itu pada dini hari saat Pandawa terlelap.

Ketika situasi sesuai dengan harapan, Suman memerintahkan Puracona membakar balai. Segala sudut lalu disulut. Dalam sekejap, api berkobar dan melenyapkan semua bangunan seisinya.
Pada pagi harinya, di tempat itu ditemukan enam jasad yang gosong. Suman dan Kurawa memastikan mereka ialah Pandawa dan ibunya, Kunti Talibrata. Suman lalu melaporkannya kepada Drestarastra.

Drestarastra sedih dan bingung. Ia kehilangan nalar kelanjutan pemegang kekuasaan Astina. Di saat itulah, Suman usul agar takhta diberikan kepada Duryudana, sulung Kurawa. Saran itu diamini Gendari.

Drestarastra akhirnya mengambil kebijakan melantik putranya itu sebagai raja Astina bergelar Prabu Duryudana. Keputusan inilah yang menjadi bibit pertengkaran Pandawa-Kurawa hingga pecahnya Perang Bharatayuda. Ini harga yang mesti dibayar karena, kenyataannya, Pandawa dan Kunti selamat dari upaya pemusnahan.

Besar godaannya

Hikmah dari kisah tersebut ialah Drestarastra, Plt raja Astina, terjerembap karena tidak waspada terhadap sekelilingnya. Namanya tercoreng karena ia tidak tahu bahwa dirinya 'digoreng' orang-orang terdekatnya yang memiliki kepentingan.

Niat dan komitmen tidak cukup menjamin Drestarastra selamat mengemban tugas. Itu bisa saja terjadi terhadap siapa saja yang memegang kekuasaan Plt. Godaannya sangat besar. Dibutuhkan kawicaksanaan, yaitu kemampuan membaca apa saja di luar hal-hal yang kasatmata.

Dikontekskan dengan kondisi saat ini, bila ada Plt yang mengambil kebijakan di luar kewenangannya, barangkali itu disebabkan ia dimanfaatkan pihak-pihak tertentu di sekitarnya. Atau bisa saja, itu 'kealpaan' karena kodratnya manusia diberkahi nafsu dan lupa. Karena itu, amat bijak bila dalam hidup ini kita selalu ingat pesan leluhur, aja lali purwa duksina, yang secara filosofis berarti jangan lupa akan awal dan pungkasannya. (M-4)

Komentar