Pesona

Kemegahan Kaisar di Hari Imlek

Ahad, 22 January 2017 07:00 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/ADAM DWI

INSTALASI bangunan berpilar dengan atap segitiga melengkung berdiri dengan megah. Di anak-anak tangga instalasi itu hadir gaun-gaun dengan nuansa negara tirai bambu yang juga kental.

Itulah suasana penyambutan Imlek yang hadir di atrium utama, Senayan City, Jakarta. Gaun yang melekat pada patung-patung itu bukanlah gaun biasa, melainkan karya sepuluh perancang busana ternama Tanah Air.

Warna merah dan kerah shanghai menjadi hal yang jamak dalam suguhan bertajuk Spring Emperor Instalation itu. Namun, tetap saja, setiap karya memiliki keunikan dan terjemahan tersendiri akan pesona para kaisar.

Andreas Odang, misalnya, menghadirkan gaun merah dengan siluet paduan cheongsam dan ballgown. Bagian dada dan rok gaun itu dipenuhi dengan detail menumpuk dan berbentuk seperti bulu unggas.

Odang juga menyematkan batuan berkilau di bagian leher dan tengah busana sehingga menambah kemewahan. Meski begitu, tampilannya tidak berlebihan karena keseluruhan gaun berwarna merah.

"Saya terinspirasi oleh kisah cinta gadis desa dan tentara," ujar Odang seusai acara pembukaan, Rabu (18/1). Ia menjelaskan detail seperti bulu yang menumpuk dibuat dari pilanan pita.
"Saya tidak menghadirkan bulu yang sesungguhnya, tetapi saya buat dengan pilinan pita yang dikerjakan selama dua minggu oleh 12 pekerja," jelasnya.

Shio Ayam

Representasi shio ayam yang merupakan perlambang 2017 juga dimunculkan Mel Ahyar. Teknik lukisan tiga dimensi (3D painting) yang memang jadi ciri khasnya digunakan untuk menampilkan lukisan ayam pada gaunnya yang siluet A.

Mel juga menampilkan lukisan bunga-bunga cheri yang kemudian dihiasi dengan payet emas dan merah. "Sulit saat mengerjakan detailnya. Beberapa kali cetak, gunting, lalu diberikan bordir dengan benang emas. Roaster (ayam) itu juga mewakili simbol optimisme di tahun ini," tukas Mel yang akhirnya bisa menyelesaikan busana dengan material sutra cina itu dalam waktu tiga minggu.

Busana yang hanya dibuat satu buah saja itu dikatakan Mel cocok untuk upacara teh, pesta pernikahan yang intim, hingga pesta baik saat perayaan Imlek maupun sesudahnya. Sementara itu, gaya modern sekaligus ekstravagan hadir dalam rancangan Stella Rissa. Gaunnya bersiluet kolom dengan bagian atas berpotongan menggantung dan menyambung dengan ekor di bagian belakang. Motif khas Tionghoa yang menghiasi bagian dalam gaun menghadirkan kesan variasi yang cantik.

Berbeda dengan desainer lainnya, Sebastian Gunawan memilih tidak menggunakan warna merah. Gaunnya yang dilengkapi jubah dan bahu meruncing, berwarna dasar hitam dan dihiasi motif mega mendung serta bunga-bunga.

Desainer lain yang terlibat pada pameran instalasi ini adalah Ari Seputra, Hian Tjen, Danny Satriadi, Sapto Djojokartiko, Rinaldy A Yunardi, dan Yogie Pratama. Instalasi yang hadir hingga 5 Februari 2017 membuka mata akan eksplorasi yang sangat beragam dari busana Tionghoa. (M-3)

Komentar